Pemerintah berhasil melakukan program konversi minyak tanah ke bahan bakar gas, terutama untuk keperluan rumah tangga. Sekarang pemakaian gas untuk memasak sudah menjadi hal yang biasa. Namun demikian berita yang kita dengar akhir-akhir ini adalah banyaknya kompor gas. terutama tabug gas 3 kiloan, yang meledak. Akibatnya rumah hancur, terbakar dan banyak memakan korban manusia terutama ibu rumah tangga yang memang dalam kesehariannya bergaul dengan kompor gas.
Sebagian orang mulai berpikir untuk kembali memakai minyak tanah karena lebih aman. Bahkan masyarakat suatu desa di Cipayung, Jakarta mengadakan pemilu kompor. Tujuannya adalah melihat preferensi masyarakatnya untuk menggunakan gas atau minyak tanah. Pemenangnya adalah kompor minyak tanah secara mutlak (80%) dibanding kompor gas (20%). Pasti lasana dibalik pemilu ini adalah karena banyaknya kompor gas yang meledak. Masyarakat nampaknya berbalik ingin atau lebih memilih minyak tanah.
Menurut para ahli beberapa penyebab meledaknya kompor, antara lain karena regulatornya rusak atau tidak pas, selangnya bekualitas rendah demikian juga tabung gasnya sseringkali dibawah standar karena tidak bersertifikat SNI. Karena bocor tadi maka gas terakulmulasi diruang yang sempit, seperti dapur, yang seringkali juga tidak berventilasi udara cukup. Nah secercah api dari pemantik sudah cukup untuk membakar gas tersebut dan akibatnya ya terjadilah ledakan.
Gas elpiji tersebut tidak berwarna dan tidak berbau, oleh karena itu untuk mendeteksi kebocoran tabung gas, maka gas tersebut diberi bau yang menyengat agar orang tahu manakala tercium bau menyengat, berarti gas bocor. Dengan demikian orang harus waspada. Dan ingat, jangan menyalakan kompor.
Untuk menggunakan kompor gas, nampaknya memerlukan pengetahuan tentang cara pemakaian yang aman. Itu berbeda dengan minyak tanah, walaupun berceceran tidak gampang tersambar api. Tapi tidak demikian dengan gas yang mudah terbakar (flammable). Dari kasus-kasus meledaknya kompor gas, selaian karena peralatan yang tidak standar, nampaknya sosialisasi atau penjelasan cara pemakaian yang aman mutlka diperlukan. Barangkali ini juga yang ikut menjelaskan mengapa kompor gas gampang meledak.
Senin, 26 Juli 2010
Sabtu, 24 Juli 2010
KETIKA DIAM TAK LAGI EMAS
Silent is golden itu peribahasa yang sering kita dengar. Bahkan grup Simon and Garnfunkel dalam salah satu lagunya juga bersenandung diam itu emas. Benarkah diam itu emas? Ternyata tidak selalu.
Ada satu saat dimana diam tidak diapresiasi. Sering kita diundang rapat baik di dalam organisasi maupun diundang oleh organisasi lain. Undangan itu harus kita apresiasi sebagai suatu kehormatan, karena faktanya tidak semua orang diundang. Pihak pengundang tentu berharap bahwa kehadiran kita akan bermanfaat dalam pembahasan agenda rapat tersebut. Undangan tersebut merupakan peluang emas untuk dimanfaatkan.
Bicaralah pada kesempatan, setiap kita diundang, secara jelas ringkas dan santun. Dan ingat, kita jangan berusaha mendominasi, karena banyak tentu peserta yang juga ingin berkontribusi. Ekspresikan pendapat kita, sekalipun ketika pandangan kita barangkali tidak pas atau berbeda dengan arus utama yang ada. Ingat, perbedaan seringkali menginspirasi munculnya ide yang lebih cemerlang dan bahkan mungkin menghasilkan solusi yang jitu.
Seringkali kita diam, karena menganggap pengetahuan atau pendapat yang akan kita lontarkan sudah diketahui oleh semua orang. Sadarlah itu tidak benar. Atau kita diam, karena malu. Sifat malu ini jelas harus ditinggalkan segera dan simpan di bagasi mobil anda atau di lemari pakaian anda. Bayangkan ketika kita selalu diam ketika mengikuti berbagai rapat atau diskusi, maka dapat dipastikan pihak pengundang akan kapok untuk mengundang kita lagi. Setinggi apapun ilmu kita, sedalam apapun pemahaman kita atas ilmu dan pengetahuan, hal itu menjadi tidak bermakna ketika kita tidak pernah berbagi. Ketika kita selalu berprinsip diam itu emas, karena orang akan mencari emas. Ingatlah tidak semua orang suka menambang emas. Dan kita akan menjadi buku tertutup yang tidak ada seorangpun berminat membacanya.
Oleh karena itu, datanglah ketika diundang, usahakan hadir dengan segala cara bahkan ketika kesulitan fisik kita hadapi. Berbicaralah dan lontarkan pendapat kita, dan jangan pernah diam dan jangan pernah takut salah.
Ada satu saat dimana diam tidak diapresiasi. Sering kita diundang rapat baik di dalam organisasi maupun diundang oleh organisasi lain. Undangan itu harus kita apresiasi sebagai suatu kehormatan, karena faktanya tidak semua orang diundang. Pihak pengundang tentu berharap bahwa kehadiran kita akan bermanfaat dalam pembahasan agenda rapat tersebut. Undangan tersebut merupakan peluang emas untuk dimanfaatkan.
Bicaralah pada kesempatan, setiap kita diundang, secara jelas ringkas dan santun. Dan ingat, kita jangan berusaha mendominasi, karena banyak tentu peserta yang juga ingin berkontribusi. Ekspresikan pendapat kita, sekalipun ketika pandangan kita barangkali tidak pas atau berbeda dengan arus utama yang ada. Ingat, perbedaan seringkali menginspirasi munculnya ide yang lebih cemerlang dan bahkan mungkin menghasilkan solusi yang jitu.
Seringkali kita diam, karena menganggap pengetahuan atau pendapat yang akan kita lontarkan sudah diketahui oleh semua orang. Sadarlah itu tidak benar. Atau kita diam, karena malu. Sifat malu ini jelas harus ditinggalkan segera dan simpan di bagasi mobil anda atau di lemari pakaian anda. Bayangkan ketika kita selalu diam ketika mengikuti berbagai rapat atau diskusi, maka dapat dipastikan pihak pengundang akan kapok untuk mengundang kita lagi. Setinggi apapun ilmu kita, sedalam apapun pemahaman kita atas ilmu dan pengetahuan, hal itu menjadi tidak bermakna ketika kita tidak pernah berbagi. Ketika kita selalu berprinsip diam itu emas, karena orang akan mencari emas. Ingatlah tidak semua orang suka menambang emas. Dan kita akan menjadi buku tertutup yang tidak ada seorangpun berminat membacanya.
Oleh karena itu, datanglah ketika diundang, usahakan hadir dengan segala cara bahkan ketika kesulitan fisik kita hadapi. Berbicaralah dan lontarkan pendapat kita, dan jangan pernah diam dan jangan pernah takut salah.
PERLUKAH PEMBAHARUAN INTERPRETASI PERIBAHASA?
Ketika berkesempatan ke Washington DC, saya kunjungi beberapa museum dan gedung pemerintah yang umumnya berarsitektur klasik model jaman renaisans. Yang menarik adalah banyaknya kata-kata mutiara dan peribahasa yang diukirkan pada bangunan maupun lantainya. Peribahasa dan kata-kata mutiara banyak terpampang disana. Mulai dari Abraham Lincoln, George Washington, James Watt, bahkan kata-kata mutiara dari Socrates, Galileo, dan seterusnya. Juga kata-kata dari JF Kennedy yang sangat terkenal terpampang di dinding. Semua sangat menggugah. Barangkali itu cara mereka menghargai pahlawan sekaligus memotivasi generasi mudanya.
Di Indonesia, kata-kata penyemangat seperti semboyan banyak dijumpai di pabrik-pabrik yang juga sekaligus sebagai nilai atau semangat yang dikembangkan di perusahaan atau pabrik-pabrik tersebut dan seringkali juga merupakan pedoman tentang apa yang harus karyawan lakukan. Misalnya, kalau ada masalah harus LAPOR, KAJI, PUTUSKAN cara penyelesaiannya. Tapi di Indonesia belumlah merupakan kelaziman dibangunan pemerintah atau institusi lain untuk mengukir peribahasa, kata-kata mutiara dan semboyan pada dinding bangunan lembaga tersebut.
Dalam era globalisasi dimana orang harus cenderung mengekspresikan jati dirinya, harus pamer tanpa bermaksud menyombongkan diri. Kalau tidak, mitra kita menganggap kita tidak tahu apa-apa. Sifat rendah hati perlu diinterpretasikan secara berbeda, ia bukan berarti harus tidak menonjolkan diri karena takut dianggap sombong, tetapi harus proporsional. Seorang ahli manajemen misalnya ya harus sering tampil sehingga semua orang tahu nahwa ia memang ahli, demikian juga untuk keahlian-keahlian lain.
Nah, disinilah saya lihat perlunya peribahasa diberi jiwa baru yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, teknologi dan kadang-kadang juga tata nilai. Misal, Habis Manis Sepah dibuang seringkali dikonotasikan negatif, karena bisa diartikan melupakan kawan lama yang sudah tidak berpotensi karena ada yang lebih moncer. Padahal secara ilmiah, peribahasa itu bisa diartikan sebagai Wajar. Lha wong sudah jadi sepah yang dibuang saja to?. Hanya saja dengan teknologi, limbah bisa di daur ulang.
Atau peribahasa ilmu padi, Makin Berisi Makin Merunduk. Artinya tong berisi tidak berbunyi atau kalau tong yang kosong malah nyaring bunyinya. Saat ini orang berilmu justru harus banyak tampil, menyebarluaskan ilmunya tanpa harus merasa menyombongkan diri. Barangkali, bukan ilmu padi tapi ilmu jagung yang harus dikembangkan. Makin berisi Makin mendongak dan berkilat. Dan banyak peribahasa yang lainnya. Intinya bagaimana kita membangun semangat dan memotivasi melalui peribahasam kata-kata mutiara dan semboyan. Itu saja.
Di Indonesia, kata-kata penyemangat seperti semboyan banyak dijumpai di pabrik-pabrik yang juga sekaligus sebagai nilai atau semangat yang dikembangkan di perusahaan atau pabrik-pabrik tersebut dan seringkali juga merupakan pedoman tentang apa yang harus karyawan lakukan. Misalnya, kalau ada masalah harus LAPOR, KAJI, PUTUSKAN cara penyelesaiannya. Tapi di Indonesia belumlah merupakan kelaziman dibangunan pemerintah atau institusi lain untuk mengukir peribahasa, kata-kata mutiara dan semboyan pada dinding bangunan lembaga tersebut.
Dalam era globalisasi dimana orang harus cenderung mengekspresikan jati dirinya, harus pamer tanpa bermaksud menyombongkan diri. Kalau tidak, mitra kita menganggap kita tidak tahu apa-apa. Sifat rendah hati perlu diinterpretasikan secara berbeda, ia bukan berarti harus tidak menonjolkan diri karena takut dianggap sombong, tetapi harus proporsional. Seorang ahli manajemen misalnya ya harus sering tampil sehingga semua orang tahu nahwa ia memang ahli, demikian juga untuk keahlian-keahlian lain.
Nah, disinilah saya lihat perlunya peribahasa diberi jiwa baru yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, teknologi dan kadang-kadang juga tata nilai. Misal, Habis Manis Sepah dibuang seringkali dikonotasikan negatif, karena bisa diartikan melupakan kawan lama yang sudah tidak berpotensi karena ada yang lebih moncer. Padahal secara ilmiah, peribahasa itu bisa diartikan sebagai Wajar. Lha wong sudah jadi sepah yang dibuang saja to?. Hanya saja dengan teknologi, limbah bisa di daur ulang.
Atau peribahasa ilmu padi, Makin Berisi Makin Merunduk. Artinya tong berisi tidak berbunyi atau kalau tong yang kosong malah nyaring bunyinya. Saat ini orang berilmu justru harus banyak tampil, menyebarluaskan ilmunya tanpa harus merasa menyombongkan diri. Barangkali, bukan ilmu padi tapi ilmu jagung yang harus dikembangkan. Makin berisi Makin mendongak dan berkilat. Dan banyak peribahasa yang lainnya. Intinya bagaimana kita membangun semangat dan memotivasi melalui peribahasam kata-kata mutiara dan semboyan. Itu saja.
TERIMA KASIH GUSDUR
Sebagai pegawai negeri, kenaikan pangkat mungkin merupakan insentif yang paling besar ditengah keterbatasan insentif yang sifatnya moneter. Betapa tidak? Kepangkatan mengindikasikan salah satunya, lamanya seseorang telah mengabdi melalui jalur birokrasi. Karena ada kenaikan pangkat secara reguler. Tapi kadang-kadang atau seringkali hal tersebut tidak terjadi otomatis, antara lain karena yg berdsangkutan diperbantukan atau tugas belajar. Ada tapi yang lain, yaitu ada juga orang yang selalu sibuk mengurus kenaikan pangkatnya sendiri dan berhasil.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa, walau itu tugas temen-temen kepegawaian, tapi mengingat besarnya volume pekerjaan kepegawaian yang harus mereka kelola, maka sekali-kali ikut mengecek nasib sendiri perlu juga. Alhamdulillah sekarang hal tersebut tidak perlu terjadi lagi. Lha lalu apa hubungannya dengan Gus Dur?
Nah ceriteranya, ketika pangkat saya berhenti agak lama pada golongan IV-A, lalu temen-temen membantu agar bisa naik golongan menjadi IV-B. Dan berhasil! Saat itu bertepatan dengan Gus Dur menjadi presiden dan mengeluarkan peraturan yang memungkinan penyesuaian golongan dengan jabatan dan juga kenaikan golongan bagi pejabat setelah enam bulan pada posisinya. Saat itu, golongan saya sertamerta disesuaikan menjadi IV-C dan enam bulan kemudian menjadi IV-D. Bersyukur pada Allah SWT atas semua ini, karena dengan demikian saya bisa menyusul teman-teman seangkatan yang sudah memiliki golongan tersebut sesuai denga prosedur biasa. Tentunya terima kasih juga untuk pak Presiden, Gus Dur. Karena melalui aturan yang dikeluarkan banyak teman birokrat yang terselamatkan. Aturan tersebut, kemudian memang direvisi kembali. Anyway, terima kasih Gus Dur.
Pengalaman saya menunjukkan bahwa, walau itu tugas temen-temen kepegawaian, tapi mengingat besarnya volume pekerjaan kepegawaian yang harus mereka kelola, maka sekali-kali ikut mengecek nasib sendiri perlu juga. Alhamdulillah sekarang hal tersebut tidak perlu terjadi lagi. Lha lalu apa hubungannya dengan Gus Dur?
Nah ceriteranya, ketika pangkat saya berhenti agak lama pada golongan IV-A, lalu temen-temen membantu agar bisa naik golongan menjadi IV-B. Dan berhasil! Saat itu bertepatan dengan Gus Dur menjadi presiden dan mengeluarkan peraturan yang memungkinan penyesuaian golongan dengan jabatan dan juga kenaikan golongan bagi pejabat setelah enam bulan pada posisinya. Saat itu, golongan saya sertamerta disesuaikan menjadi IV-C dan enam bulan kemudian menjadi IV-D. Bersyukur pada Allah SWT atas semua ini, karena dengan demikian saya bisa menyusul teman-teman seangkatan yang sudah memiliki golongan tersebut sesuai denga prosedur biasa. Tentunya terima kasih juga untuk pak Presiden, Gus Dur. Karena melalui aturan yang dikeluarkan banyak teman birokrat yang terselamatkan. Aturan tersebut, kemudian memang direvisi kembali. Anyway, terima kasih Gus Dur.
Sabtu, 17 Juli 2010
KETAHANAN PANGAN:SIAPA YANG TAHAN?
Masalah pangan memang penting. Buktinya sering dibicarakan dan diperdebatkan banyak lembaga, banyak orang, baik pemerintah ataupun bukan. Dan kesimpulannya, kita perlu mengembangkan apa yang disebut ketahanan pangan.Ini kemudian jadi wacana politik yang menarik manakala kita membicarakan kemiskinan dan kebutuhan dasar manusia.
Masalah ketahanan pangan selalu dikaitkan ketersediaan pangan dan akses terhadap pangan. Pada dasarnya kita tahan pangan kalau pangan tersedia kapan dan dimanapun dibutuhkan serta terjangkau, sehingga tidak ada yang kelaparan. Masalahnya seringkali pangan, atau kebutuhan pokok direduksi menjadi ketersediaan beras sebagai makanan pokok. Padahal kalau kita berbicara karbohidrat, maka sumber karbohidrat kita bukan hanya beras. Tapi apa hendak dikata, orang begitu jatuh cinta sama beras.Sampai-sampai, walaupun sudah menyantap macam-macam, tetap saja belum merasa makan kalau belum makan nasi. Nah lho!
KITA TAHAN SECARA ALAMI
Sebenarnya kalau kita secara nasional benar-benar melakukan upaya diversifikasi pangan dan kita secara individu merubah pola makan yang tidak terlalu tergantung pada beras atau nasi, ketahanan pangan tersebut sesungguhnya konsep yang sederhamam dan mudah dilakukan. Betapa tidak sumber karbohidrat kita luar biasanya banyaknya. Singkong, ubi jalar, jagung, sagu, talas, bentul, ganyong, uwi, porang, iles-iles, gadung dan seterusnya. Selain itu Tuhan, bukan tanpa maksud menyediakan umbi-umbian yang tumbuh dan berproduksi pada musim kering saat padi yang nota bene senang minum tidak bisa tumbuh. Kita saja yang tidak mengerti maksud Sang Pencipta tersebut, atau terbutakan karena gengsi yang kita buat sendiri dengan mengkategorisasikan jenis karbohidrat dengan status sosial ekonomi. Tidak perlu berwacana dalam hal ini, just do it.
DAYA ADAPTASI DAN SIFAT MANJA
Rasanya dulu, masyarakat sangat lentur dan dan lebih memiliki daya adaptasi yang tinggi. Tidak ada beras, tidak perlu berteriak-teriak, cari saja alternatif. Kan ada ubi, singkong dan seterusnya. Minyak goreng goreng sulit, ya buat pepes ikan, pepes ayam, pepes tahu, pepes oncom atau bakar ayam, bakat tempe dan seterusnya. Gampang kan? Masalah-masalah sederhana tersebut sekarang malah bisa dibuat menjadi "sepertinya" ruwet, bahkan kalau perlu dipolitisir.
Ada lagi fenomena "manja" yang semakin nampak. Misalnya ada daerah-daerah yang selama musim hujan atau musim gelombang besar tidak dapat didatangi atau mendadak terisolir. Padahal kearifan lokalnya mengajarkan untuk bersiap pada musim panen untuk mengahadapi musim sulit, artinya tahu betul sesuatu bakal rutin terjadi. artinya yang secara alami berdasarkan pengalaman empirisnya, mereka - ya rakyatnya ya pemimpinnya- membuat mereka tegar dan tidak manja serta sudah tahu cara mengatasi hal tersebut. daya adaptasi mereka teruji.
Teriakan minta tolong hanya dilakukan pada situasi ekstrim, dalam hal ini pemerintah sudah selayaknya tanggap dan segera turun tangan. Tidak seharusnya kita sedikit-sedikit teriak. Dan pemerintah juga perlu segera bertindak manakala kondisi darurat terjadi.
Masalah ketahanan pangan selalu dikaitkan ketersediaan pangan dan akses terhadap pangan. Pada dasarnya kita tahan pangan kalau pangan tersedia kapan dan dimanapun dibutuhkan serta terjangkau, sehingga tidak ada yang kelaparan. Masalahnya seringkali pangan, atau kebutuhan pokok direduksi menjadi ketersediaan beras sebagai makanan pokok. Padahal kalau kita berbicara karbohidrat, maka sumber karbohidrat kita bukan hanya beras. Tapi apa hendak dikata, orang begitu jatuh cinta sama beras.Sampai-sampai, walaupun sudah menyantap macam-macam, tetap saja belum merasa makan kalau belum makan nasi. Nah lho!
KITA TAHAN SECARA ALAMI
Sebenarnya kalau kita secara nasional benar-benar melakukan upaya diversifikasi pangan dan kita secara individu merubah pola makan yang tidak terlalu tergantung pada beras atau nasi, ketahanan pangan tersebut sesungguhnya konsep yang sederhamam dan mudah dilakukan. Betapa tidak sumber karbohidrat kita luar biasanya banyaknya. Singkong, ubi jalar, jagung, sagu, talas, bentul, ganyong, uwi, porang, iles-iles, gadung dan seterusnya. Selain itu Tuhan, bukan tanpa maksud menyediakan umbi-umbian yang tumbuh dan berproduksi pada musim kering saat padi yang nota bene senang minum tidak bisa tumbuh. Kita saja yang tidak mengerti maksud Sang Pencipta tersebut, atau terbutakan karena gengsi yang kita buat sendiri dengan mengkategorisasikan jenis karbohidrat dengan status sosial ekonomi. Tidak perlu berwacana dalam hal ini, just do it.
DAYA ADAPTASI DAN SIFAT MANJA
Rasanya dulu, masyarakat sangat lentur dan dan lebih memiliki daya adaptasi yang tinggi. Tidak ada beras, tidak perlu berteriak-teriak, cari saja alternatif. Kan ada ubi, singkong dan seterusnya. Minyak goreng goreng sulit, ya buat pepes ikan, pepes ayam, pepes tahu, pepes oncom atau bakar ayam, bakat tempe dan seterusnya. Gampang kan? Masalah-masalah sederhana tersebut sekarang malah bisa dibuat menjadi "sepertinya" ruwet, bahkan kalau perlu dipolitisir.
Ada lagi fenomena "manja" yang semakin nampak. Misalnya ada daerah-daerah yang selama musim hujan atau musim gelombang besar tidak dapat didatangi atau mendadak terisolir. Padahal kearifan lokalnya mengajarkan untuk bersiap pada musim panen untuk mengahadapi musim sulit, artinya tahu betul sesuatu bakal rutin terjadi. artinya yang secara alami berdasarkan pengalaman empirisnya, mereka - ya rakyatnya ya pemimpinnya- membuat mereka tegar dan tidak manja serta sudah tahu cara mengatasi hal tersebut. daya adaptasi mereka teruji.
Teriakan minta tolong hanya dilakukan pada situasi ekstrim, dalam hal ini pemerintah sudah selayaknya tanggap dan segera turun tangan. Tidak seharusnya kita sedikit-sedikit teriak. Dan pemerintah juga perlu segera bertindak manakala kondisi darurat terjadi.
IKLIM YANG BERUBAH
Dunia makin panas persis seperti judul filem Indonesia di tahun 80an. Saat ini hal tersebut bukanlagi sekedar judul film, tetapi fakta yang menunjukkan bahwa memang rata-rata suhu udara damana-mana, dimuka bumi ini, memang meningkat. Bogor yang tahun 70an sejuk dan berkabut, saat ini panas dan tidak pernah disentuh kabut. Bahkan di daerah Puncak Pas pun saat ini jarang dijumpai kabut tebal yang tempo lalu, mengharuskan kendaraan memasang lampu halogen atau lampu kabut. Ceritera daerah Puncak yang dingin yang selalu berkabut sudah hampir menjadi sebuah sejarah saja.
Biang penyebabnya adalah pemanasan global yang diakibatkan efek gas rumah kaca (GRK) yang semakin bertambah akibat meningkatnya konsumsi energi sejalan dengan pembangunan yang pesat di negara-negara maju. Terjadinya deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang, khususnya negara yang berhutan tropis, juga berkontribusi terhadap memanasnya suhu dunia ini. Emisi GRK, terutama karbon, inilah yang menyumbang terjadinya perubahan iklim.
(to be continued)
Biang penyebabnya adalah pemanasan global yang diakibatkan efek gas rumah kaca (GRK) yang semakin bertambah akibat meningkatnya konsumsi energi sejalan dengan pembangunan yang pesat di negara-negara maju. Terjadinya deforestasi dan degradasi hutan di negara-negara berkembang, khususnya negara yang berhutan tropis, juga berkontribusi terhadap memanasnya suhu dunia ini. Emisi GRK, terutama karbon, inilah yang menyumbang terjadinya perubahan iklim.
(to be continued)
ORANGUTANKU SAYANG-ORANGUTANKU MALANG,
Tahukan anda bahwa Indonesia sering disebut sebagai negara megabiodiversitas? Megabiodiversitas artinya kekayaan keragaman hayati yang ruarr biasa. Alasannya? Ya karena Indonesia memiliki banyak keanekaragaan hayati (biodiversities). Baik berupa kekayaan tumbuh-tumbuhan (flora) maupun berupa kekayaan satwanya (fauna). Salah satu fauna terkenal yang kita miliki adalah orangutan nama latinnya Pongo pygmaeus, itu yang di Kalimantan. yang di Sumatera tergolong kedalam keluarga Pongo abelii. Sayangnya, satwa lucu tersebut saat ini sudah tergolong kedalam kelompok jenis satwa yang terancam punah (endengered species) yang harus dilindungi.
Padahal di dunia ini hanya dua negara di dunia yang memilikinya, yaitu Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, orangutan hidup secara alami di pulau Sumatera dan Kalimantan. Sayang, jumlah populasinya cenderung menurun. Menurut Pak Herry Djoko, Ketua Forina, pada tahun 2008, di Kalimantan, termasuk di Sabah dan Serawak, diperkirakan ada 54.567. Sementara di Sumatera populasinya sangat minim, hanya sekitar 6.800 saja.
Mengapa populasi orangutan menurun? Banyak sebabnya, antara lain karena diburu dan ditangkap sebagai sumber protein hewani. Terbayangkah anda betapa teganya menyantap mahluk yang lucu dan mirip orang itu? Mereka seringkali juga diperdagangkan sebagai hewan peliharaan bahkan diselundupkan ke luar negeri. Penyebab lain adalah karena rusaknya atau berkurangnya habitat orangutan. Berkurangnya habitat antara lain karena kebakaran atau konversi lahan hutan menjadi kota, pemukiman, atau menjadi kebun kelapa sawit atau hutan tanaman. Rusaknya atau menurunnya kualitas habitat dapat disebabkan karena perambahan, pencurian kayu dan kebakaran hutan dan lahan.
Masalahnya, kalau habitat rusak atau berkurang ya akibatnya dukung hutan untuk menghidupi orangutan jadi berkurang dan artinya semakin sedikit jumlah orangutan yang dapat hidup secara layak di habitatnya. Sumber makanan berkurang, mereka harus bersaing diantara mereka, bahkan seringkali bersaing juga dengan manusia. Kalau kecenderungan kerusakan habitat terus berlangsung seperti saat ini, maka bukan mustahil orangutan pun akan musnah dari muka bumi ini.
SO WHAT GITU LHO?
Kitalah yang bertanggung jawab mempertahankan keberadaan orangutan sebagai bagian dari upaya memelihara rantai kehidupan, sehingga semua unsur ekosistem bisa berdampingan secara harmonis. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk orangutan? Pertama yang mensejahterakan hidup mereka sehingga mereka bahagia lahir bathin. Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Kita harus angkat topi karena banyak organisasi non pemerintah (ornop) yang bergerak dalam upaya menyelamatkan orangutan tersebut. Pada dasarnya upaya ini bertujuan mengembalikan orangutan ke habitat aslinya yaitu di hutan tropis dataran rendah, dalam keadaan sehat wal afiat. Dalam kaitan dengan upaya tersebut, kita bisa melihat banyaknya sekolah orangutan yang dibangun pihak ornop, seperti di Nyarumenteng dan Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Atau di Samboja, Kalimantan Timur.
Upaya pelepas liaran orangutan pernah dilakukan beberapa kali seperti di pegunungan Meratus. Namun demikian, fakta menunjukkan pada kita bahwa habitat hutan tropis yang masih baik dan sesuai untuk tempat tinggal orangutan tidak banyak lagi. Oleh karena itu pemerintah saat ini merespon dan juga mendorong masyarakat pencinta orangutan untuk bersama-sama mengembangkan kawasan restorasi untuk dijadikan habitat orangutan. Inisiatif Restorasi Ekosistem untuk habitat satwa langka ini adalah sesuatu yang baru yang perlu terus dikembangkan.
Biarlah orangutanku sayang tersebut memiliki kembali rumahnya, habitatnya yang telah lama mereka rindukan.
Padahal di dunia ini hanya dua negara di dunia yang memilikinya, yaitu Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia, orangutan hidup secara alami di pulau Sumatera dan Kalimantan. Sayang, jumlah populasinya cenderung menurun. Menurut Pak Herry Djoko, Ketua Forina, pada tahun 2008, di Kalimantan, termasuk di Sabah dan Serawak, diperkirakan ada 54.567. Sementara di Sumatera populasinya sangat minim, hanya sekitar 6.800 saja.
Mengapa populasi orangutan menurun? Banyak sebabnya, antara lain karena diburu dan ditangkap sebagai sumber protein hewani. Terbayangkah anda betapa teganya menyantap mahluk yang lucu dan mirip orang itu? Mereka seringkali juga diperdagangkan sebagai hewan peliharaan bahkan diselundupkan ke luar negeri. Penyebab lain adalah karena rusaknya atau berkurangnya habitat orangutan. Berkurangnya habitat antara lain karena kebakaran atau konversi lahan hutan menjadi kota, pemukiman, atau menjadi kebun kelapa sawit atau hutan tanaman. Rusaknya atau menurunnya kualitas habitat dapat disebabkan karena perambahan, pencurian kayu dan kebakaran hutan dan lahan.
Masalahnya, kalau habitat rusak atau berkurang ya akibatnya dukung hutan untuk menghidupi orangutan jadi berkurang dan artinya semakin sedikit jumlah orangutan yang dapat hidup secara layak di habitatnya. Sumber makanan berkurang, mereka harus bersaing diantara mereka, bahkan seringkali bersaing juga dengan manusia. Kalau kecenderungan kerusakan habitat terus berlangsung seperti saat ini, maka bukan mustahil orangutan pun akan musnah dari muka bumi ini.
SO WHAT GITU LHO?
Kitalah yang bertanggung jawab mempertahankan keberadaan orangutan sebagai bagian dari upaya memelihara rantai kehidupan, sehingga semua unsur ekosistem bisa berdampingan secara harmonis. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk orangutan? Pertama yang mensejahterakan hidup mereka sehingga mereka bahagia lahir bathin. Berbagai upaya telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Kita harus angkat topi karena banyak organisasi non pemerintah (ornop) yang bergerak dalam upaya menyelamatkan orangutan tersebut. Pada dasarnya upaya ini bertujuan mengembalikan orangutan ke habitat aslinya yaitu di hutan tropis dataran rendah, dalam keadaan sehat wal afiat. Dalam kaitan dengan upaya tersebut, kita bisa melihat banyaknya sekolah orangutan yang dibangun pihak ornop, seperti di Nyarumenteng dan Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Atau di Samboja, Kalimantan Timur.
Upaya pelepas liaran orangutan pernah dilakukan beberapa kali seperti di pegunungan Meratus. Namun demikian, fakta menunjukkan pada kita bahwa habitat hutan tropis yang masih baik dan sesuai untuk tempat tinggal orangutan tidak banyak lagi. Oleh karena itu pemerintah saat ini merespon dan juga mendorong masyarakat pencinta orangutan untuk bersama-sama mengembangkan kawasan restorasi untuk dijadikan habitat orangutan. Inisiatif Restorasi Ekosistem untuk habitat satwa langka ini adalah sesuatu yang baru yang perlu terus dikembangkan.
Biarlah orangutanku sayang tersebut memiliki kembali rumahnya, habitatnya yang telah lama mereka rindukan.
Langganan:
Postingan (Atom)