Dari AIR kita belajar KETENANGAN
Dari BATU kita belajar KETEGARAN
Dari TANAH kita belajar KEHIDUPAN
Dari KUPU-KUPU kira belajar MENYESUAIKAN DIRI
Dari PADI kita belajar RENDAH HATI
Dari ALLAH kita belajar SEMUANYA dalam hal kasih sayang yang sempurna
Melihat keatas, memperoleh semangat untuk maju
Melihat kebawah, kita bersyukur atas semua yang ada
Melihat kesamping , belajar semangat kebersamaan
Melihat kebelakang, sebagai pengalaman berharga kedalam untuk introspeksi
Melihat kedepan, untuk lebih maju
(Dari temanku Budi Santosa)
Tampilkan postingan dengan label Art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Art. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Maret 2011
Sabtu, 19 Februari 2011
DoA SEoRANG PENDoA
Ketika kumohon pada Allah kekuatan
Allah memberikan kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan
Allah memberikan masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan
Allah memberikan akal untuk berpikir
Ketika kumohon pada Allah keberanian
Allah memberikan bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta
Allah memberikan orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon pada Allah bantuan
Allah memberikan kesempatan
Aku tak pernah menerima yang kuminta
Tapi aku menerima segala yang kubutuhkan
…………….Do’aku terjawab sudah
(Puisi ini aku peroleh dari sahabatku Dadang Mishal)
Allah memberikan kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan
Allah memberikan masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan
Allah memberikan akal untuk berpikir
Ketika kumohon pada Allah keberanian
Allah memberikan bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta
Allah memberikan orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon pada Allah bantuan
Allah memberikan kesempatan
Aku tak pernah menerima yang kuminta
Tapi aku menerima segala yang kubutuhkan
…………….Do’aku terjawab sudah
(Puisi ini aku peroleh dari sahabatku Dadang Mishal)
Sabtu, 23 Oktober 2010
NONTON BARENG YUK...
Kekawatiran akan hilangnya budaya tradisional nampaknya semakin tinggi, terutama akibat derasnya pengaruh budaya asing di negeri ini. Lihat sampai istilah ayam gorengpun sudah tergeser dengan fried chicken. Penjaja ayam goreng dorongan juga lebih suka memasang nama fried chicken karena katanya terkesan lebih komersial dan modern. Dan itu terjadi diseantero negeri, mulai dari kota sampai ke pelosok gunung sekalipun.
Animo generasi muda untuk menonton pertunjukkan budaya tradisionalpun semakin menyusut. Semakin berkurang jumlah penonton muda yang menonton wayang kulit yang durasinya semalam suntuk (lek-lekan). Jumlahnya bahkan semakin menyusut di daerah perkotaan. Kekecualian tentu ada seperti beberapa dalang terkenal masih mampu menyedot penonton, seperti Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Soedarsono. Contoh lain, lihat saja matinya pertunjukkan Wayang orang Ngesti Pandowo di Semarang, Tjipto Kawedar di Malang atau ketoprak Srimulat di Surabaya. Wayang orang Barata di Jakarta dan Sriwedari di Solo termasuk yang bisa bertahan, walaupun dalam status memprihatinkan, "mati segan hidup tak mau".
INISIATIF BARU?
Di tengah lesunya apresiasi budaya, muncul inisiatif yang dilakukan para petinggi di ibukota untuk main ketoprak, ludruk atau wayang orang. Pemain profesional bergabung dengan pemain amatir, yang terdiri dari para pejabat pemerintah, manggung bersama dalam satu panggung pertunjukkan. Satu ide yang segar. Namun apakah bentuk apresiasi semacam ini yang kita perlu dorong?
Untuk memberi dukungan moril bahwa para petinggi dangat konsern terhadap budaya tradisional, barangkali cukup memadai. Tapi dalam pembicaraan santai saat reuni SMA 4 Solo 16 oktober lalu di Solo, mbak Ira -seorang penari handal dan pemerhati seni dari Solo yang masih belia- menilai itu bukan cara yang tepat, karena kegiatan tersebut justru meminggirkan (excluded) pemain profesionalnya. Padahal merekalah yang justru harus disemangati dan didukung.
TERUS BAGAIMANA?
Lalu apa yang harus dilakukan? kalau budaya tradisional ini, untuk mudahnya kita asumsikan sebagai "komoditas", maka kita harus menanganinya dari dua sisi. Sisi supply dan sisi demandnya sekaligus. Dari sisi supply adalah menyiapkan pertunjukkan berkualitas yang memperhatikan dinamika perubahan preferensi. Profesionalisme tentu harus senantiasa ditingkatkan. Peranan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan para budayawan sangat fundamental.
Dari sisi demand, pembentukan manusia Indonesia yang apresiatif terhadap budaya bangsa melalui pendidikan dan penyuluhan jangka panjang perlu menjadi program pemerintah. Dalam jangka pendek, kata mbak Ira, hal praktis yang bisa dilakukan adalah membudayakan nonton bareng. Ide ini sangat menarik setidak-tidaknya secara konkrit dapat menghidupkan kegiatan berkesenian dan dapat menjadi solusi jangka pendek yang bisa direalisasikan. Bagaimana mewujudkannya tentunya banyak cara yang bisa dilakukan. Saya lihat ada beberapa cara antara lain, pertama mendorong kelompok masyarakat untuk menonton, baik pemerintah, swasta maupun kelompok masyarakat umum. Pemerintah termasuk pemerintah daerah melalui dana pembinaan budaya, generasi muda dan dana pariwisata mungkin bisa mewujudkan kegiatan ini. Kedua, mendorong pula sektor swasta, BUMN dan BUMD dengan dana CSR (Corporate Social Responsibility)-nya berpartisipasi dalam kegiatan berkebudayaa. Tidak kalah pentingnya adalah menghimbau para philantropis untuk juga ikut mendukung program peningkatan apresiasi budaya ini.
Animo generasi muda untuk menonton pertunjukkan budaya tradisionalpun semakin menyusut. Semakin berkurang jumlah penonton muda yang menonton wayang kulit yang durasinya semalam suntuk (lek-lekan). Jumlahnya bahkan semakin menyusut di daerah perkotaan. Kekecualian tentu ada seperti beberapa dalang terkenal masih mampu menyedot penonton, seperti Ki Anom Suroto dan Ki Manteb Soedarsono. Contoh lain, lihat saja matinya pertunjukkan Wayang orang Ngesti Pandowo di Semarang, Tjipto Kawedar di Malang atau ketoprak Srimulat di Surabaya. Wayang orang Barata di Jakarta dan Sriwedari di Solo termasuk yang bisa bertahan, walaupun dalam status memprihatinkan, "mati segan hidup tak mau".
INISIATIF BARU?
Di tengah lesunya apresiasi budaya, muncul inisiatif yang dilakukan para petinggi di ibukota untuk main ketoprak, ludruk atau wayang orang. Pemain profesional bergabung dengan pemain amatir, yang terdiri dari para pejabat pemerintah, manggung bersama dalam satu panggung pertunjukkan. Satu ide yang segar. Namun apakah bentuk apresiasi semacam ini yang kita perlu dorong?
Untuk memberi dukungan moril bahwa para petinggi dangat konsern terhadap budaya tradisional, barangkali cukup memadai. Tapi dalam pembicaraan santai saat reuni SMA 4 Solo 16 oktober lalu di Solo, mbak Ira -seorang penari handal dan pemerhati seni dari Solo yang masih belia- menilai itu bukan cara yang tepat, karena kegiatan tersebut justru meminggirkan (excluded) pemain profesionalnya. Padahal merekalah yang justru harus disemangati dan didukung.
TERUS BAGAIMANA?
Lalu apa yang harus dilakukan? kalau budaya tradisional ini, untuk mudahnya kita asumsikan sebagai "komoditas", maka kita harus menanganinya dari dua sisi. Sisi supply dan sisi demandnya sekaligus. Dari sisi supply adalah menyiapkan pertunjukkan berkualitas yang memperhatikan dinamika perubahan preferensi. Profesionalisme tentu harus senantiasa ditingkatkan. Peranan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan para budayawan sangat fundamental.
Dari sisi demand, pembentukan manusia Indonesia yang apresiatif terhadap budaya bangsa melalui pendidikan dan penyuluhan jangka panjang perlu menjadi program pemerintah. Dalam jangka pendek, kata mbak Ira, hal praktis yang bisa dilakukan adalah membudayakan nonton bareng. Ide ini sangat menarik setidak-tidaknya secara konkrit dapat menghidupkan kegiatan berkesenian dan dapat menjadi solusi jangka pendek yang bisa direalisasikan. Bagaimana mewujudkannya tentunya banyak cara yang bisa dilakukan. Saya lihat ada beberapa cara antara lain, pertama mendorong kelompok masyarakat untuk menonton, baik pemerintah, swasta maupun kelompok masyarakat umum. Pemerintah termasuk pemerintah daerah melalui dana pembinaan budaya, generasi muda dan dana pariwisata mungkin bisa mewujudkan kegiatan ini. Kedua, mendorong pula sektor swasta, BUMN dan BUMD dengan dana CSR (Corporate Social Responsibility)-nya berpartisipasi dalam kegiatan berkebudayaa. Tidak kalah pentingnya adalah menghimbau para philantropis untuk juga ikut mendukung program peningkatan apresiasi budaya ini.
Sabtu, 24 Juli 2010
PERLUKAH PEMBAHARUAN INTERPRETASI PERIBAHASA?
Ketika berkesempatan ke Washington DC, saya kunjungi beberapa museum dan gedung pemerintah yang umumnya berarsitektur klasik model jaman renaisans. Yang menarik adalah banyaknya kata-kata mutiara dan peribahasa yang diukirkan pada bangunan maupun lantainya. Peribahasa dan kata-kata mutiara banyak terpampang disana. Mulai dari Abraham Lincoln, George Washington, James Watt, bahkan kata-kata mutiara dari Socrates, Galileo, dan seterusnya. Juga kata-kata dari JF Kennedy yang sangat terkenal terpampang di dinding. Semua sangat menggugah. Barangkali itu cara mereka menghargai pahlawan sekaligus memotivasi generasi mudanya.
Di Indonesia, kata-kata penyemangat seperti semboyan banyak dijumpai di pabrik-pabrik yang juga sekaligus sebagai nilai atau semangat yang dikembangkan di perusahaan atau pabrik-pabrik tersebut dan seringkali juga merupakan pedoman tentang apa yang harus karyawan lakukan. Misalnya, kalau ada masalah harus LAPOR, KAJI, PUTUSKAN cara penyelesaiannya. Tapi di Indonesia belumlah merupakan kelaziman dibangunan pemerintah atau institusi lain untuk mengukir peribahasa, kata-kata mutiara dan semboyan pada dinding bangunan lembaga tersebut.
Dalam era globalisasi dimana orang harus cenderung mengekspresikan jati dirinya, harus pamer tanpa bermaksud menyombongkan diri. Kalau tidak, mitra kita menganggap kita tidak tahu apa-apa. Sifat rendah hati perlu diinterpretasikan secara berbeda, ia bukan berarti harus tidak menonjolkan diri karena takut dianggap sombong, tetapi harus proporsional. Seorang ahli manajemen misalnya ya harus sering tampil sehingga semua orang tahu nahwa ia memang ahli, demikian juga untuk keahlian-keahlian lain.
Nah, disinilah saya lihat perlunya peribahasa diberi jiwa baru yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, teknologi dan kadang-kadang juga tata nilai. Misal, Habis Manis Sepah dibuang seringkali dikonotasikan negatif, karena bisa diartikan melupakan kawan lama yang sudah tidak berpotensi karena ada yang lebih moncer. Padahal secara ilmiah, peribahasa itu bisa diartikan sebagai Wajar. Lha wong sudah jadi sepah yang dibuang saja to?. Hanya saja dengan teknologi, limbah bisa di daur ulang.
Atau peribahasa ilmu padi, Makin Berisi Makin Merunduk. Artinya tong berisi tidak berbunyi atau kalau tong yang kosong malah nyaring bunyinya. Saat ini orang berilmu justru harus banyak tampil, menyebarluaskan ilmunya tanpa harus merasa menyombongkan diri. Barangkali, bukan ilmu padi tapi ilmu jagung yang harus dikembangkan. Makin berisi Makin mendongak dan berkilat. Dan banyak peribahasa yang lainnya. Intinya bagaimana kita membangun semangat dan memotivasi melalui peribahasam kata-kata mutiara dan semboyan. Itu saja.
Di Indonesia, kata-kata penyemangat seperti semboyan banyak dijumpai di pabrik-pabrik yang juga sekaligus sebagai nilai atau semangat yang dikembangkan di perusahaan atau pabrik-pabrik tersebut dan seringkali juga merupakan pedoman tentang apa yang harus karyawan lakukan. Misalnya, kalau ada masalah harus LAPOR, KAJI, PUTUSKAN cara penyelesaiannya. Tapi di Indonesia belumlah merupakan kelaziman dibangunan pemerintah atau institusi lain untuk mengukir peribahasa, kata-kata mutiara dan semboyan pada dinding bangunan lembaga tersebut.
Dalam era globalisasi dimana orang harus cenderung mengekspresikan jati dirinya, harus pamer tanpa bermaksud menyombongkan diri. Kalau tidak, mitra kita menganggap kita tidak tahu apa-apa. Sifat rendah hati perlu diinterpretasikan secara berbeda, ia bukan berarti harus tidak menonjolkan diri karena takut dianggap sombong, tetapi harus proporsional. Seorang ahli manajemen misalnya ya harus sering tampil sehingga semua orang tahu nahwa ia memang ahli, demikian juga untuk keahlian-keahlian lain.
Nah, disinilah saya lihat perlunya peribahasa diberi jiwa baru yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, teknologi dan kadang-kadang juga tata nilai. Misal, Habis Manis Sepah dibuang seringkali dikonotasikan negatif, karena bisa diartikan melupakan kawan lama yang sudah tidak berpotensi karena ada yang lebih moncer. Padahal secara ilmiah, peribahasa itu bisa diartikan sebagai Wajar. Lha wong sudah jadi sepah yang dibuang saja to?. Hanya saja dengan teknologi, limbah bisa di daur ulang.
Atau peribahasa ilmu padi, Makin Berisi Makin Merunduk. Artinya tong berisi tidak berbunyi atau kalau tong yang kosong malah nyaring bunyinya. Saat ini orang berilmu justru harus banyak tampil, menyebarluaskan ilmunya tanpa harus merasa menyombongkan diri. Barangkali, bukan ilmu padi tapi ilmu jagung yang harus dikembangkan. Makin berisi Makin mendongak dan berkilat. Dan banyak peribahasa yang lainnya. Intinya bagaimana kita membangun semangat dan memotivasi melalui peribahasam kata-kata mutiara dan semboyan. Itu saja.
Minggu, 11 Juli 2010
KEMANA APRESIASI BUDAYA KITA?
Banyak budaya kita, khususnya budaya tradisional yang diam-diam menghilang dari persada nusantara karena tidak ada yang peduli, tidak ada yang mengapresiasi bahkan ada yang menilai ketinggalan zaman dan kurang modern. Lihatlah panggung Srimulat di Surabaya akhirnya bubar, walaupun personilnya secara individu terus berkarya. Demikian juga wayang orang Bharata di Jakarta atau wayang orang Sriwedari di Solo, walau masih ada tapi berada pada kondisi mati segan hidup tak mau. Wayang orang Ngesti Pandowo hanya tinggal kenangan. Banyak contoh budaya tradisional lainnya yang saat ini sulit ditemukan karena kurangnya peminat.
Kita semua tahu bahwa budaya tradisional adalah bahan baku terbentuknya budaya nasional Indonesia. Bisa dibayangkan kalau akar budaya itu hilang, akan hilang pula budaya Indonesia atau budaya kita beralih orientasinya pada budaya lain dari luar, terutama budaya barat yang nampak lebih moderen. Apalagi media barat lebih mendominasi dunia pertevean, kecenderungan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Lihatlah media TV kita hampir semua acaranya adalah "franchise", kalau di AS ada American Idol di Indonesia kita juga punya Indonesian Idol, atau acara Take Me Out atau acara Price is Right a la Indonesia. Juga pengaruh gaya opera sabun dari Amerika Latin dan seterusnya.
Bandingkan bagaimana opera di Broadway, New York yang menawarkan ceritera lama maupun baru selalu dipadati penonton yang rela antri dan membayar harga tiket yang aduhai 100 sampai 150 US$dollar per sekali pertunjukkan. Bagaimana industri seni tersebut menghidupi para senimannya bahkan menghasilan efek ganda (multiplier effects) terhadap kegiatan ekonomi di New York atau bahkan di AS. Sementara penonton pertunjukkan wayang orang di Jakarta atau Solo bisa dihitung dengan jari, kosong melompomg bagai tak berjiwa. Untung senimannya tetap bertahan untuk berkesenian karena kecintaannya terhadap seni dan hobi. Tapi bagaimana mutu berkesenian dapat meningkat kalau semua hidup dalam ketidakberkecukupan, baik personilnya maupun organisasinya. Masalahnya adalah bagimana pemerintah harus ikut bertanggung jawab dan bagaimana pula peran swasta dan masyarakat?
Bagaimana mengembalikan gairah budaya tradisonal melalui peningkatan apresiasi bisa kita lakukan? Sebagai teladan, kita gunakan contoh wayang orang Sriwedari Solo. Menurut hemat saya upaya tersebut harus kita tangani dengan memperhatikan kedua sisi, baik supply maupun sisi permintaannya. Dari sisi supply khususnya produk yang diwarkan antara lain kemasan pertunjukkannya, mulai dari ceritera, penari dan segala asesorinya, panggung dengan tatalampu dan tata suara yang handal, gedung pertunjukkan yang memperhatikan masalah akustik, kursi yang nyaman, ruang berpendingin udara serta organisasi yang solid. Pertunjukkan yang lama tentu membosankan apalagi buat generasi muda, oleh karena itu perlu dikemas ceritera ringkas, misalnya 2 jam, tanpa menghilangkan makna dan keindahan budayanya. Peranan pemerintah dapat dilakukan melalui program Tahun Kunjungan Wisata.
Dari sisi permintaan, perlu dikembangkan apresiasi masyarakat terhadap budaya tradisional. Ini harus dilakukan sejak dini, misalnya menghidupkan kembali pelajaran menari dan karawitan untuk murid-murid SD dan SMP. Lokakarya budaya yang dirancang dengan target yang jelas dan berkelanjutan. Mengadakan kegiatan festival budaya seperti festval dan kompetisi dalang cilik yang dimasukkan sebagai event tahunan. Pemerintah perlu memperhatikan dan mendorong pelajaran budaya ini untuk dimasukkan kedalam kurikulum sekolah. Dunia pendidikan, khususnya SMK dan perguruan tinggi yang memfokuskan pada bidang budaya seperti Sekolah Koservatori Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) akan mampu berperan sebagai smber ide dan kreativitas budaya serta tempat menghasilkan SDM berkessenian dan seniman yang berkualitas yang bisa lebih meningkatkan apresiasi mayarakat terhadap budaya tradisonal dan budaya nasional.
Peranan media cetak elektronik sangatlah penting dalam mebangun kedua sisi tersebut. Perlu ada konsern TV Swasta ikut menggalakkan budaya tradisional yang dikemas menarik sehingga bisa bersaing dengan paket tayangan yang kebanyakan mengadopsi dari negara-negara barat atau berupa waralaba seperti Indonesia Idol, AFI, Mamamia, Take Me Out, Family 100, the Price is Right dsn seterusnya. Dalam hal ini, nampaknya perlu lebih banyak filantropis yang mau mendanani upaya-upaya tersebut. Dari uraian diatas jelas upaya ini memerlukan dukungan semua pihak, pemerintah, swasta dan masyarakat, karena kegiatan tersebut merupakan "gawe bareng" bangsa Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kita semua tahu bahwa budaya tradisional adalah bahan baku terbentuknya budaya nasional Indonesia. Bisa dibayangkan kalau akar budaya itu hilang, akan hilang pula budaya Indonesia atau budaya kita beralih orientasinya pada budaya lain dari luar, terutama budaya barat yang nampak lebih moderen. Apalagi media barat lebih mendominasi dunia pertevean, kecenderungan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Lihatlah media TV kita hampir semua acaranya adalah "franchise", kalau di AS ada American Idol di Indonesia kita juga punya Indonesian Idol, atau acara Take Me Out atau acara Price is Right a la Indonesia. Juga pengaruh gaya opera sabun dari Amerika Latin dan seterusnya.
Bandingkan bagaimana opera di Broadway, New York yang menawarkan ceritera lama maupun baru selalu dipadati penonton yang rela antri dan membayar harga tiket yang aduhai 100 sampai 150 US$dollar per sekali pertunjukkan. Bagaimana industri seni tersebut menghidupi para senimannya bahkan menghasilan efek ganda (multiplier effects) terhadap kegiatan ekonomi di New York atau bahkan di AS. Sementara penonton pertunjukkan wayang orang di Jakarta atau Solo bisa dihitung dengan jari, kosong melompomg bagai tak berjiwa. Untung senimannya tetap bertahan untuk berkesenian karena kecintaannya terhadap seni dan hobi. Tapi bagaimana mutu berkesenian dapat meningkat kalau semua hidup dalam ketidakberkecukupan, baik personilnya maupun organisasinya. Masalahnya adalah bagimana pemerintah harus ikut bertanggung jawab dan bagaimana pula peran swasta dan masyarakat?
Bagaimana mengembalikan gairah budaya tradisonal melalui peningkatan apresiasi bisa kita lakukan? Sebagai teladan, kita gunakan contoh wayang orang Sriwedari Solo. Menurut hemat saya upaya tersebut harus kita tangani dengan memperhatikan kedua sisi, baik supply maupun sisi permintaannya. Dari sisi supply khususnya produk yang diwarkan antara lain kemasan pertunjukkannya, mulai dari ceritera, penari dan segala asesorinya, panggung dengan tatalampu dan tata suara yang handal, gedung pertunjukkan yang memperhatikan masalah akustik, kursi yang nyaman, ruang berpendingin udara serta organisasi yang solid. Pertunjukkan yang lama tentu membosankan apalagi buat generasi muda, oleh karena itu perlu dikemas ceritera ringkas, misalnya 2 jam, tanpa menghilangkan makna dan keindahan budayanya. Peranan pemerintah dapat dilakukan melalui program Tahun Kunjungan Wisata.
Dari sisi permintaan, perlu dikembangkan apresiasi masyarakat terhadap budaya tradisional. Ini harus dilakukan sejak dini, misalnya menghidupkan kembali pelajaran menari dan karawitan untuk murid-murid SD dan SMP. Lokakarya budaya yang dirancang dengan target yang jelas dan berkelanjutan. Mengadakan kegiatan festival budaya seperti festval dan kompetisi dalang cilik yang dimasukkan sebagai event tahunan. Pemerintah perlu memperhatikan dan mendorong pelajaran budaya ini untuk dimasukkan kedalam kurikulum sekolah. Dunia pendidikan, khususnya SMK dan perguruan tinggi yang memfokuskan pada bidang budaya seperti Sekolah Koservatori Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) akan mampu berperan sebagai smber ide dan kreativitas budaya serta tempat menghasilkan SDM berkessenian dan seniman yang berkualitas yang bisa lebih meningkatkan apresiasi mayarakat terhadap budaya tradisonal dan budaya nasional.
Peranan media cetak elektronik sangatlah penting dalam mebangun kedua sisi tersebut. Perlu ada konsern TV Swasta ikut menggalakkan budaya tradisional yang dikemas menarik sehingga bisa bersaing dengan paket tayangan yang kebanyakan mengadopsi dari negara-negara barat atau berupa waralaba seperti Indonesia Idol, AFI, Mamamia, Take Me Out, Family 100, the Price is Right dsn seterusnya. Dalam hal ini, nampaknya perlu lebih banyak filantropis yang mau mendanani upaya-upaya tersebut. Dari uraian diatas jelas upaya ini memerlukan dukungan semua pihak, pemerintah, swasta dan masyarakat, karena kegiatan tersebut merupakan "gawe bareng" bangsa Indonesia. Kalau bukan kita, siapa lagi?
Sabtu, 10 Juli 2010
KISAH SEORANG PENDOA
Ketika kumohon pada Allah kekuatan
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan
Allah memberiku akal untuk berpikir
Ketika kumohon pada Allah keberanian
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon pada Allah bantuan
Allah memberiku kesempatan
Aku tak pernah menerima apa yang kupinta
Tapi aku menerima segala yang kubutuhkan
.... do'a ku terjawab sudah
(Dari sahabatku kang Dadang Mishal)
Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumohon pada Allah kebijaksanaan
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon pada Allah kesejahteraan
Allah memberiku akal untuk berpikir
Ketika kumohon pada Allah keberanian
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon pada Allah sebuah cinta
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon pada Allah bantuan
Allah memberiku kesempatan
Aku tak pernah menerima apa yang kupinta
Tapi aku menerima segala yang kubutuhkan
.... do'a ku terjawab sudah
(Dari sahabatku kang Dadang Mishal)
Langganan:
Postingan (Atom)