Seringkali kita bertanya mengapa sih kita harus pergi berobat keluar negeri? Jawabannya bisa macam-macam. Ada yang bilang jatuhnya lebih murah daripada biaya berobat di dalam negeri, pelayanannya lebih baik selama maupun pasca penyembuhan, tidak diganggu oleh handai tolan dan relasi yang ingin menjenguk,fasilitasnya lebih lengkap, penerimaannya ramah, dan sambil sekalian berkunjung ke luar negeri. Bisnis kesehatan adalah bisnis jasa, kualitas pelayan sewaktu berobat dan setelah berobat menjadi penting. Pelayanan mulai dari meja resepsion, pelayanan kesehatannya itu sendiri dan loket pembayaran menjadi penting. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman pribadi pada hari selasa dan rabu 4 dan 5 Oktober 2011, di sebuah rumah sakit pemerintah ternama di ibukota.
Resepsionis sebagai pintu depan
Ketika saya merasa perlu untuk mengecek kesehatan yang tiba-tiba di bagian dada sebelah kiri terasa nyeri. Dan saya langsung kontak teman saya yang pernah mengalami sakit jantung, dan akhirnya dia menyarankan saya untuk menghubungi dokter spesialis yang kebetulan teman baik teman saya itu. Dengan senang hati teman saya mengatur dan menghubungi dokter yang bersangkutan. Dan saya diminta datang oleh teman saya setelah mendapat lampu hijau dari dokter, pada hari Selasa sekitar jam 2 atau jam 3, karena dokter tersebut memang praktek sore pada hari itu.
Sesuai dengan informasi tersebut, saya datang jam 14 dan mendaftar di resepsionis dan diterima dengan ramah. Saya beritahu bahwa saya sudah janji dengan dokter tersebut, lalu saya diminta mengisi formulir pendaftaran. Resepsionis mengatakan bahwa dokter sudah kelebihan pasien dan tidak mau menerima pasien baru,karena sudah ada 4 atau lebih pasien yang diminta datang hari lain. Saya jelaskan soal janji tersebut, tetapi petugas resepsionis tetap mengatakan tidak bisa. Lalu saya minta tolong sekali lagi untuk mengecek dokternya. Saya dipersilahkan menunggu dan akhirnya saya dipanggil, dengan ramahnya saya diberitahu bahwa saya adalah pasien ke empat. Lalu sya diminta memasukki ruang EKG dan diperiksa. Setelah itu saya kembali diminta menunggu giliran untuk konsultasi dengan dokter.
Saya diminta ke ruang dokter, ternyata saya dialihkan ke dokter lain tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Lalu saya pun mengajukan protes sambil mengingatkan kembali bahwa saya sudah buat janji dan tentunya tidak fair kalau dialihkan begitu saja ke dokter lain tanpa persetujuan saya. Tentu saja saya tidak mau ngotot, mengingat tensi saya sedang tinggi. Tetapi saya sekali lagi minta mereka untuk mengecek ke dokter yg saya maksud. Kebetulan saya belum pernah bertemu sebelumnya, jadi belum mengenai beliau. Saya kemudian menunggu kembali, sambil menghubungi teman saya kenalan dokter. Dan saya pun mengirim sms kepada dokter tersebut, bahwa saya sudah menunggu diluar.
Rupanya dokter keluar dari ruang kerjanya dan meminta suster untuk memanggil saya. Mendengar nama saya dipanggil, sayapun mendatangi suster tersebut, sementara petugas resepsion pun memberi tahu suster bahwa saya sudah di ruang tunggu dalam. Akhirnya saya sempat juga berkonsultasi. Dan diminta datang kembali keesokan harinya untuk melakukan tread mill, berhubung tensi saya terlalu tinggi pada sore itu.
Sesuai dengan saran dokter saya pun datang pada hari Rabu dengan pengantar dari dokter untuk melakukan treadmill.Saya langsung ke resepsionis dan menyerahkan surat pengantar. Lagi-lagi resepsionis menyarankan saya untuk kembali esoknya, karena hari Rabu memang dokter tidak berpraktek di rumah sakit tersebut. Sudah saya jelaskan bahwa saya diminta dokter datang, untuk melakukan tread mill dan setelah selesai diminta menelpon dokter untuk bertemu disuatu tempat (tentu rumah sakit lain) dengan membawa hasil thread mill untuk bisa menentukan langkah tindak selanjutnya. Kembali petugas resepsion "keukeuh' agar saya datang lagi besok saja, kendatipun sudah saya jelaskan. Karena lagi-lagi saya tidak mau bersitegang, takut tensinya naik lagi, akhirnya saya minta petugas untuk menulis di surat pengantar tersebut, bahwa "pasien sudah datang tapi disarankan untuk datang pada ke esokan harinya, hari Kamis". Lalu saya meninggalkan rumah sakit tersebut.
Kira-kira 10-15 menit kemudian saya ditelpon oleh petugas resepsion bahwa saya boleh treadmill karena katanya, ternyata saya sudah punya 'janji khusus' dengan dokter, sambil berulang kali meminta maaf. Karena sudah jauh dan makan waktu kalau kembali, sementara saya masih ada pekerjaan di kantor, lagi pula suasana hatipun sudah tidak lagi nyaman, maka saya putuskan untuk datang besok saja. Saya heran bahwa mereka tidak pernah berpikir berapa besar usaha, waktu, biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk khusus datang dari luar kota, demi untuk memenuhi janji.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Sepertinya kita belum terlalu siap untuk menggerakan jasa pelayanan (services) secara profesional. Ada "You and me feeling". Ada kesan pasien yang lebih membutuhkan bukan ruma sakit. Melayani barangkali masih dirasakan sebagai bukan pekerjaan yang bergengsi. Dan sikap-sikap yang kurang profesional ini mungkin saja membahayakan pasien, ketika pasien belum sempat tertangani dokter, akibat urusan administrasi yang bertele-tele di pintu depan. Sebetulnya tidak sulit mengecek pada dokter atau suster yang melayani dokter itu, butuh sedikit waktu saja, sehingga janji pasien dengan dokter tidak dipotong oleh petugas resepsion yang seharusnya lincah,ligat dan helpful.
Jangan-jangan hal kecil seperti ini yang juga membuat orang tidak nyaman berobat di sini, dan akhirnya berpaling untuk berobat ke luar negeri. Sayang sekali ya.
Perbaikan kualitas sumber manusia digaris depan ini sangat perlu diperhatikan oleh para pengelola rumah sakit sebagai bagian penting dari bisnis jasa pelayanan kesehatan, kalau tidak ingin ditinggalkan oleh pasien dan pengguna jasa pelayanan kesehatan.
Tampilkan postingan dengan label Karakter bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karakter bangsa. Tampilkan semua postingan
Rabu, 05 Oktober 2011
PENDIDIKAN BUDIPEKERTI DAN RANKING SEKOLAH
Ujian Nasional atau UN dalam dekade terakhir nampaknya menjadi masalah tahunan yang muncul di negeri ini. Pro dan kontra sering muncul. Yang Pro beralasan perlu adanya standarisasikompetensi anak didik, sementara yang Kontra mengatakan terlalu dini menetapkan standar nasionalkelulusan ketika disparitas mutu sekolah antar wilayah masih cukup tinggi. Kitapun sering membaca di media cetak atau menyaksikan pada media televisi banyak sekolah yang tingkat kelulusannya rendah bahkan tidak jarang ada yang gagal total. Alias 100% tidak lulus. Bisa dibayangkan dampaknya. Murid menangis, orang tua murka, guru malu,sementara sekolah menjadi kurang marketable. Sementara berapa besar biaya yang dikeluarkan yang menjadi sangat tidak efisiendan tidak efektif penggunaannya akibat banyaknya murid yang tidak lulus. Berapa banyak bangku sekolah tidak bisa dimanfaatkan oleh siswa baru,karena banyak siswa harus mengulang.
RANKING SEKOLAH
Ukuran keberhasilan sekolah menjadi sangat kuantitatif dan kering, karena kriteria sekolah yang baik tereduksi hanya menjadi sekolah yang banyak meluluskan siswanya dan banyak menghasilkan siswa pandai. Penyebabnya antara lain karena setiap tahun pasti ada evaluasi dan pengumuman urtutan sekolah unggulan dan juga murid dengan siswa yang mendapat nilai tertinggi. Sekolah hebat adalah sekolah yang muridnya lulus 100% dan muridnya merajai ranking nilai tertinggi disatu kota, propinsi bahkan nasional. Sekolah unggulan ini yang akan mampu menarik calon siswa yang pandai dari jenjang pendidikan di bawahnya. Sekolah lain menampung 'sisa' siswa yang tidak diterima di sekolah unggulan atau teladan.
Jelas maka sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah unggulan demi memperoleh ranking sekolah tersebut. Banyak upaya yang dilakukan, antara lain meningkatkan kualitas guru,menambah pelajaran ekstra, menambah beban materi yang lebih banyak dan selalu memberi banyak pekerjaan rumah PR). Bisa anda bayangkan, betapa seringnya kita melihat siswa2 berjalan dengan membawa ransel atau backpack yang penuh dengan buku pelajaran. Seringkali lebih banyak beban yang dibawanya dibanding dengan mahasiswa. Mereka tidak punya waktu bermain baik dengan teman maupun dengan saudara dan keluarga. Pulang ke rumah belajar, belajar dan belajar. Mengerjakan PR, PR dan PR lagi. Waktu diluar jam sekolah menjadi bagian waktu yang 'terpaksa' harus disisihkan untuk mendukung ranking siswa dan ranking sekolahnya. Kurangnya waktu untu kegiatan yang tidak berbau sekolahan, mungkin dapat menyebabkan siswa menjadi asosial, kuper dan kutu buku. Pinter tapi tidak bisa bergaul. Padahal kemampuan bergaul dan berkomunikasi itu kelak akan dirasakan penting dan manfaatnya.
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DAN KEBANGSAAN
Bung Karno, founding father NKRI kita seringkali menyatakan perlunya bangsa ini memperhatikan 'nations and character building'Faktanya pelajaran semacam budi pekerti, pendidikan kebangsaan kurang diperhatikan dan kurang mendapat porsi yang berimbang dibadingkan dengan mata ajaran inti seperti Matematika, Fisika, Biologi dan Bahasa. Kurangnya perhatian terhadap endidikan karakter antara lain telah menimbulkan keberingasan, suka tawuran bahkan dari sejak siswa SLP sampai mahasiswa perguruan tinggi. Sulit dibayangkan misalnya mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa melakukan tawuran antar fakultas untuk sesuatumasalah yang sering sangat sepele. Sulit dipahami kalau mahasiswa merusak bahkan membakar laboratorium, perpustakaan dari fakultas yang mahasiswanya bertawuran dengan kelompoknya. Padahal karakter dan nilai (values) seperti integritas, respek, rasa menyayangi dan patriotisme misalnyajuga tak kalah pentingnya dari pada performans akademik yang diukur dengan nilai yang diperoleh untuk mata ajaran inti.
Nampaknya kita perlu berpikir lagi mengenai arah atau kebijakan pendidikan di Indonesia ini. Kita perlu mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada anak didik (student-centric) dan pendidikan berdasar nilai (values driven education).
RANKING SEKOLAH
Ukuran keberhasilan sekolah menjadi sangat kuantitatif dan kering, karena kriteria sekolah yang baik tereduksi hanya menjadi sekolah yang banyak meluluskan siswanya dan banyak menghasilkan siswa pandai. Penyebabnya antara lain karena setiap tahun pasti ada evaluasi dan pengumuman urtutan sekolah unggulan dan juga murid dengan siswa yang mendapat nilai tertinggi. Sekolah hebat adalah sekolah yang muridnya lulus 100% dan muridnya merajai ranking nilai tertinggi disatu kota, propinsi bahkan nasional. Sekolah unggulan ini yang akan mampu menarik calon siswa yang pandai dari jenjang pendidikan di bawahnya. Sekolah lain menampung 'sisa' siswa yang tidak diterima di sekolah unggulan atau teladan.
Jelas maka sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah unggulan demi memperoleh ranking sekolah tersebut. Banyak upaya yang dilakukan, antara lain meningkatkan kualitas guru,menambah pelajaran ekstra, menambah beban materi yang lebih banyak dan selalu memberi banyak pekerjaan rumah PR). Bisa anda bayangkan, betapa seringnya kita melihat siswa2 berjalan dengan membawa ransel atau backpack yang penuh dengan buku pelajaran. Seringkali lebih banyak beban yang dibawanya dibanding dengan mahasiswa. Mereka tidak punya waktu bermain baik dengan teman maupun dengan saudara dan keluarga. Pulang ke rumah belajar, belajar dan belajar. Mengerjakan PR, PR dan PR lagi. Waktu diluar jam sekolah menjadi bagian waktu yang 'terpaksa' harus disisihkan untuk mendukung ranking siswa dan ranking sekolahnya. Kurangnya waktu untu kegiatan yang tidak berbau sekolahan, mungkin dapat menyebabkan siswa menjadi asosial, kuper dan kutu buku. Pinter tapi tidak bisa bergaul. Padahal kemampuan bergaul dan berkomunikasi itu kelak akan dirasakan penting dan manfaatnya.
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DAN KEBANGSAAN
Bung Karno, founding father NKRI kita seringkali menyatakan perlunya bangsa ini memperhatikan 'nations and character building'Faktanya pelajaran semacam budi pekerti, pendidikan kebangsaan kurang diperhatikan dan kurang mendapat porsi yang berimbang dibadingkan dengan mata ajaran inti seperti Matematika, Fisika, Biologi dan Bahasa. Kurangnya perhatian terhadap endidikan karakter antara lain telah menimbulkan keberingasan, suka tawuran bahkan dari sejak siswa SLP sampai mahasiswa perguruan tinggi. Sulit dibayangkan misalnya mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa melakukan tawuran antar fakultas untuk sesuatumasalah yang sering sangat sepele. Sulit dipahami kalau mahasiswa merusak bahkan membakar laboratorium, perpustakaan dari fakultas yang mahasiswanya bertawuran dengan kelompoknya. Padahal karakter dan nilai (values) seperti integritas, respek, rasa menyayangi dan patriotisme misalnyajuga tak kalah pentingnya dari pada performans akademik yang diukur dengan nilai yang diperoleh untuk mata ajaran inti.
Nampaknya kita perlu berpikir lagi mengenai arah atau kebijakan pendidikan di Indonesia ini. Kita perlu mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada anak didik (student-centric) dan pendidikan berdasar nilai (values driven education).
Selasa, 13 September 2011
BELAJAR DARI WIKILEAKS: SEBUAH RENUNGAN
Judul ini berasal dari judul artikel di koran Financial Times yang saya baca waktu perjalanan ke China dan isinya antara lain pentingnya Indonesia belajar dari Wikileaks.* Ada yang menarik dari tulisan ini, pertama, ceritera mengenai diplomasi Indonesia versus Singapura soal Selat Malaka. Indonesia merencanakan pengawasan yang ketat atas lalu lintas Laut di Selat Malaka dekat Singapura. Bagi Singapura ini dianggap suatu ancaman karena pengawasan yang berarti additional cost akan mengancam competitiveness singapura sebagai pelabuhan transito. Walaupun pengawasan alur lalu lintas ini adalah hak suatui negara dan berdasarkan hukum internasional diperbolehkan (demikian kata artikel tersebut), namun Singapura berusaha menggagalkan nya dengan meminta dukungan Australia dalam bernegosiasi, sambil mendukung upaya Australia menerapkan apa yang dilakukan Indonesia tersebut di perairannya.
Ceritera kedua adalah soal MoU antara Indonesia dan Singapura mengenai ekstradisi. MoU sudah ditandatangani, tetapi kesepakatan itu ternyata tidak pernah bisa diimplementasikan, karena ternyata diluar MoU sebenarnya masih banyak hambatan2 aturan dan hukum di kedua negara yang harus disesuaikan dan diselesaikan untuk berjalannya MoU tersebut. Dan ini nampaknya tidak atau belum dilakukan oleh Indonesia yang lebih memiliki kepentingan, mengingat banyaknya orang Indonesia yang terlibat kasus dan bersembunyi di negeri singa itu. Tulis artikel tersebut, Indonesia lebih suka mencari popularitas pada tataran politik di permukaan, akan tetapi tidak serius menangani pelaksanaannya. Artinya kita tidak sabar untuk mengurus detail nya yang justru sebenarnya akan membuat MoU itu menjadi lebih operasional.
Benarkah penilaian itu? Jangan-jangan memang benar demikian adanya perangai kita ini. Senang memulai sesuatu yang baru, meluncurkan sesuatu, sesuatu yang fenomenal. Apakah itu bermanfaat atau tidak, kita sebagai penggagas tidak peduli, yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang hebat. Akibatnya seringkali kita tidak menyiapkan tindak lanjutnya. Artinya kita sering memiliki keinginan, niat, atau cita-cita yang baik, tetapi kemudian tidak serius menindak lanjutinya. Sebenarnya Tukul Arwana sudah sering mengingatkan kita akan hal tersebut, menurut Tukul:" jangan sekali-kali menilai buku dari sampulnya, tapi lihat isinya." Kenyataannya kita ternyata lebih sering menghargai penampilan luar bukan isinya.
PROGRAM HTR DAN PERKEMBANGANNYA
Coba kita lihat apa yang terjadi di sektor kehutanan, ketika kita memiliki program yang sangat pro rakyat seperti Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Pemerintah benar-benar berniat meningkatkan kesejahteraan petani hutan dengan memberi mereka akses terhadap pengelolaan sumberdaya hutan. Dalam kaitan ini pemerintah memberi akses kepada masyarakat. dalam hal ini rumah tangga dan kelompok rumah tangga, berupa akses terhadap lahan seluas 15 HA per keluarga. Untuk itu pemerintah telah menyisihkan kawasan hutan di daerah-daerah konsentrasi penduduk seluas 1,5 juta ha untuk program HTR dan menyiapkan kredit lunak untuk membangun hutan tanaman tersebut dengan membentuk lembaga keuangan yang disebut Badan Layanan Umum (BLU) di Kementerian Kehutanan. Lembaga keuangan BLU ini menyediakan untuk kegiatan biaya penanaman dengan plafond sebesar Rp. 8,5 juta untuk setiap Ha.
Program HTR tersebut telah berjalan dua tahun, teman2 di Kementerian Kehutanan telah bekerja sangat keras untuk mewujudkan HTR tersebut. Sampai saat ini, bulan September 2011, pencadangan dari Menteri Kehutanan mencapai 654,118 Ha, sementara ijin HTR yang dikeluarkan oleh 34 Bupati di seluruh Indonesia mencapai 144,054 Ha (9,6 % dari total area yang dialokasikan atau 22% dari pencadangan yang sudah dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan). Sementara ini akad kredit telah mencapai lebih kurang Rp. 30 Milyar sedangkan penyaluran kreditnya mencapai Rp 1,6 Milyar atau 5,2%.
Kalau kita lihat bahwa kebijakan pemerintah berorientasi pada tiga Pro yaitu Pro Growth, pro poor dan pro job, sekarang ditambah Pro lingkungan. Menjadi menarik ketika Kementerian Kehutanan melansir program yang pro rakyat, ternyata animo daerah kurang greget seperti ditunjukkan oleh rendahnya pencapaian pengembangan HTR setelah dua tahun berjalan, yaitu hanya 144 ribu Ha. Itupun baru dalam bentuk surat ijin Bupati dan belum berupa kegiatan riil penanaman hutan di tapak. Rendahnya animo daerah bisa disebabkan oleh berbagai faktor atau kemungkinan, pertama, pemahaman yang kurang atau belum merata mengenai konsep HTR sebagai leverage bagi upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat akibat sosialisasi yang belum optimal. Kedua, karena besarnya resiko kegagalan tanaman di lapangan karena berbagai faktor seperti kebakaran, perambahan, pencurian, hama penyakit dan sebagainya. Ketiga, manajemen dan biaya transaksi yang rumit, karena secara teoritis lebih mudah memberikan satu ijin dengan luasan 15.000 Ha daripada mengeluarkan ijin bagi 1000 keluarga yang masing-masingnya memperoleh ijin seluas 15 Ha.
PERLU TUNTAS
Ketika orang mempertanyakan mengapa capaiannya masih rendah, bisa saja pihak pusat menyatakan bahwa kami sudah berusaha keras tapi di daerah masih lambat prosesnya. Artinya, ketika pemerintah ingin mengimplementasi program yang baik sekalipun, akan tetapi daerah tidak meresponnya dengan baik karena berbagai alasan, maka program itu tidak akan dapat berjalan baik. Dan bahkan bukan mustahil gagal. Artinya harus ada sinergi antara pusat dan daerah.
Kalau kita belajar dari Wikileaks, maka seharusnya ketika pemerintah memiliki program semacam HTR dan harus berhasil, maka tanggung jawab dan peran pusat dan daerah harus terdefinisikan dengan jelas. Ketika pemerintah membuat aturan atau regulasi maka aturan yang mengikat semua pihak sangat penting untuk dibangu, oleh karena itu pusat dan daerah harus duduk bersama dengan semangat yang sama agar HTR berhasil. Dan menyusun aturan yang dapat diimplementasikan serta merupakan milik bersama (common ownership). Semangat saling menyalahkan akan terhindarkan dan yang timbul adalah semangat yang genuine untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja mewujudkan HTR yang mensejahterakan masyarakat. Segala sesuatu harus dibuat tuntas agar operasional.
Catatan kaki:
* Tanpa mengurangi rasa hormat, akibat kliping korannya belum saya temukan
kembali, sehingga tdak bisa mencantumkan nama penulis artikel di Financial
Times tersebut.
Ceritera kedua adalah soal MoU antara Indonesia dan Singapura mengenai ekstradisi. MoU sudah ditandatangani, tetapi kesepakatan itu ternyata tidak pernah bisa diimplementasikan, karena ternyata diluar MoU sebenarnya masih banyak hambatan2 aturan dan hukum di kedua negara yang harus disesuaikan dan diselesaikan untuk berjalannya MoU tersebut. Dan ini nampaknya tidak atau belum dilakukan oleh Indonesia yang lebih memiliki kepentingan, mengingat banyaknya orang Indonesia yang terlibat kasus dan bersembunyi di negeri singa itu. Tulis artikel tersebut, Indonesia lebih suka mencari popularitas pada tataran politik di permukaan, akan tetapi tidak serius menangani pelaksanaannya. Artinya kita tidak sabar untuk mengurus detail nya yang justru sebenarnya akan membuat MoU itu menjadi lebih operasional.
Benarkah penilaian itu? Jangan-jangan memang benar demikian adanya perangai kita ini. Senang memulai sesuatu yang baru, meluncurkan sesuatu, sesuatu yang fenomenal. Apakah itu bermanfaat atau tidak, kita sebagai penggagas tidak peduli, yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang hebat. Akibatnya seringkali kita tidak menyiapkan tindak lanjutnya. Artinya kita sering memiliki keinginan, niat, atau cita-cita yang baik, tetapi kemudian tidak serius menindak lanjutinya. Sebenarnya Tukul Arwana sudah sering mengingatkan kita akan hal tersebut, menurut Tukul:" jangan sekali-kali menilai buku dari sampulnya, tapi lihat isinya." Kenyataannya kita ternyata lebih sering menghargai penampilan luar bukan isinya.
PROGRAM HTR DAN PERKEMBANGANNYA
Coba kita lihat apa yang terjadi di sektor kehutanan, ketika kita memiliki program yang sangat pro rakyat seperti Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Pemerintah benar-benar berniat meningkatkan kesejahteraan petani hutan dengan memberi mereka akses terhadap pengelolaan sumberdaya hutan. Dalam kaitan ini pemerintah memberi akses kepada masyarakat. dalam hal ini rumah tangga dan kelompok rumah tangga, berupa akses terhadap lahan seluas 15 HA per keluarga. Untuk itu pemerintah telah menyisihkan kawasan hutan di daerah-daerah konsentrasi penduduk seluas 1,5 juta ha untuk program HTR dan menyiapkan kredit lunak untuk membangun hutan tanaman tersebut dengan membentuk lembaga keuangan yang disebut Badan Layanan Umum (BLU) di Kementerian Kehutanan. Lembaga keuangan BLU ini menyediakan untuk kegiatan biaya penanaman dengan plafond sebesar Rp. 8,5 juta untuk setiap Ha.
Program HTR tersebut telah berjalan dua tahun, teman2 di Kementerian Kehutanan telah bekerja sangat keras untuk mewujudkan HTR tersebut. Sampai saat ini, bulan September 2011, pencadangan dari Menteri Kehutanan mencapai 654,118 Ha, sementara ijin HTR yang dikeluarkan oleh 34 Bupati di seluruh Indonesia mencapai 144,054 Ha (9,6 % dari total area yang dialokasikan atau 22% dari pencadangan yang sudah dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan). Sementara ini akad kredit telah mencapai lebih kurang Rp. 30 Milyar sedangkan penyaluran kreditnya mencapai Rp 1,6 Milyar atau 5,2%.
Kalau kita lihat bahwa kebijakan pemerintah berorientasi pada tiga Pro yaitu Pro Growth, pro poor dan pro job, sekarang ditambah Pro lingkungan. Menjadi menarik ketika Kementerian Kehutanan melansir program yang pro rakyat, ternyata animo daerah kurang greget seperti ditunjukkan oleh rendahnya pencapaian pengembangan HTR setelah dua tahun berjalan, yaitu hanya 144 ribu Ha. Itupun baru dalam bentuk surat ijin Bupati dan belum berupa kegiatan riil penanaman hutan di tapak. Rendahnya animo daerah bisa disebabkan oleh berbagai faktor atau kemungkinan, pertama, pemahaman yang kurang atau belum merata mengenai konsep HTR sebagai leverage bagi upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat akibat sosialisasi yang belum optimal. Kedua, karena besarnya resiko kegagalan tanaman di lapangan karena berbagai faktor seperti kebakaran, perambahan, pencurian, hama penyakit dan sebagainya. Ketiga, manajemen dan biaya transaksi yang rumit, karena secara teoritis lebih mudah memberikan satu ijin dengan luasan 15.000 Ha daripada mengeluarkan ijin bagi 1000 keluarga yang masing-masingnya memperoleh ijin seluas 15 Ha.
PERLU TUNTAS
Ketika orang mempertanyakan mengapa capaiannya masih rendah, bisa saja pihak pusat menyatakan bahwa kami sudah berusaha keras tapi di daerah masih lambat prosesnya. Artinya, ketika pemerintah ingin mengimplementasi program yang baik sekalipun, akan tetapi daerah tidak meresponnya dengan baik karena berbagai alasan, maka program itu tidak akan dapat berjalan baik. Dan bahkan bukan mustahil gagal. Artinya harus ada sinergi antara pusat dan daerah.
Kalau kita belajar dari Wikileaks, maka seharusnya ketika pemerintah memiliki program semacam HTR dan harus berhasil, maka tanggung jawab dan peran pusat dan daerah harus terdefinisikan dengan jelas. Ketika pemerintah membuat aturan atau regulasi maka aturan yang mengikat semua pihak sangat penting untuk dibangu, oleh karena itu pusat dan daerah harus duduk bersama dengan semangat yang sama agar HTR berhasil. Dan menyusun aturan yang dapat diimplementasikan serta merupakan milik bersama (common ownership). Semangat saling menyalahkan akan terhindarkan dan yang timbul adalah semangat yang genuine untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja mewujudkan HTR yang mensejahterakan masyarakat. Segala sesuatu harus dibuat tuntas agar operasional.
Catatan kaki:
* Tanpa mengurangi rasa hormat, akibat kliping korannya belum saya temukan
kembali, sehingga tdak bisa mencantumkan nama penulis artikel di Financial
Times tersebut.
Sabtu, 19 Maret 2011
JEPANG DAN BENCANA
Jepang baru saja diguncang gempa bumi besar Richter yang diikuti oleh gelombang Tsunami yang tdak kalah dhsyatnya. Luluh lantak lah beberapa kota di Jepang terutama di sekitar episentrum gempa. Kita pernah mengalami tsunami besar yang datang setelah gempa besar dan itu terjadi di Aceh. Kita lihat melalui layar tivi bagaimana suasana bencana tersebut yang mengharu biru bukan saja para korban, yaitu saudara kita di Aceh, tapi juga hati seluruh bangsa.
Sisi pemerintah
Ada yang menarik dari kejadian di Jepang ini yang nampaknya perlu menjadi teladan yang dapat ditiru oleh manusia Indonesia. Pertama, wilayah terkena tsunami nampaknya memang sudah mempersiapkan diri untuk bencana seperti itu, karenanya mereka membangun tanggul di pantai setinggi sepuluh meter mengelilingi wilayah yang diperhitungkan sangat rentan terhadap tsunami. Kedua, sistem peringatan dini berjalan baik. Ketiga, pelatihan mitigasi bencana termasuk bagaimana menghindari atau menyelamatkan diri serta fasilitas-fasilitas penyelamatan diri dan lokasi pengungsian sudah tersedia dan dapat langsung dimanfaatkan ketika bencana yang sesungguhnya terjadi. Keempat, bangunan di Jepang memang sudah memenuhi kriteria tahan gempa. Terlihat dari media tivi, masyarakat Jepang tetap bertahan pada bangunan yang bergoyang-goyang dan kalau perlu akan bersembuinyi di bawah meja sebagaimana mereka dilatih secara berkala. Bangunan praktis tidak ada yang rusak akibat gempa, tapi gelombang tsunamilah yang berkecepatan di atas 600 km per jam yang memporak porandakan banyak bangunan. Kelima, sistem penanggulangan bencana juga berjalan sangat efektif dan nampak bahwa pemerintah dengan pengalaman yang panjang sudah menyiapkan manakala masa sulit tersebut terjadi. Pimpinan pemerintahan terjun langsung dan berada digaris depan mengatasi bencana tersebut dan berbaur bersama masyarakat dengan segala empatinya.
Individu dan masyarakat
Dari perilaku individu dan masyarakat, kita juga dapat banyak belajar dari manusia Jepang yang tangguh. Pertama, berbeda dengan kejadian bencana di tanah air yang sering terjadi, hampir tidak ada tangisan yang mengharu-biru dari para korban bencana di Jepang, baik anak-anak, remaja maupun orang tua. Semua berjalan seperti biasa saja, karena sadar bahwa mereka memang hidup di daerah yang rentan bencana. Kejadian tersebut nampaknya dianggap sebagai risiko yang memang harus mereka hadapi.
Kedua, tivi Jepang NHK juga memberitakan semua secara lugas dan transparan tanpa dilatar belakangi oleh lagu-lagu atau musik yang sentimentil dan memilukan, hampir tidak ada efek dramatisasi dari kejadian tersebut. Ketiga, berbeda dengan kejadian di negara lain termasuk negara besar seperti Amerika Serikat dan Inggris dan negara-negara berkembang, hampir dipastikan begitu terjadi bencana, maka pada saat pasca bencana akan terjadi penjarahan khususnya ke toko dan warung atau gudang-gudang pangan. Hal tersebut tidak terjadi di Jepang. Keempat, tingginya solidaritas sosial diantara masyarakat Jepang. Pada saat bahan makanan langka, menurut hukum pasar maka harga akan naik karena banyaknya permintaan. Itu pun tidak terjadi di Jepang, ada unsur etika kebersamaan sosial yang mengalahkan hukum pasar yang diagung-agungkan oleh dunia barat. Para pemilik toko malah menurunkan harga dan cenderung berbagi dengan masyarakat yang membutuhkannya. Solidaritas sosial yang luar biasa yang sudah tertanam dalam sanubari setiap anggota masyarakatnya.
Apa yang bisa kita pelajari
Dari kejadian tersebut jelas bahwa apa yang selalu dicanangkan oleh pendiri republik ini yaitu "nation and character building" adalah perlu dan fundamental bagi terciptanya kemandirian suatu bangsa. Nampaknya ini perlu mulai kembali dihidupkan semangat membangun karakter atau istilah yang sempat dipopulerkan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya. Lembaga pendidikan perlu kembali secara serius menghidupkan dan melaksanakan kembali pelajaran mengenai etika dan etos, semangat mandiri, semangat pantang menyerah dan semangat sosial yang tulus. Kita bisa berlajar dari Jepang, bagaimana bangsa itu membangun karakter yang demikian kuat yang muncul secara otomatis ketika negaranya mengalami kesulitan yang luar biasa. Semangat Bushido, semangat Samurai atau seperti kata Jansen Sinamo yang menulis di koran Kompas (Jumat, 18 Maret 2011)adalah semangat Gambaru. Secara populer Gambaru diterjemahkan sebagai: " berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan, bekerja hingga batas kemampuan terakhir, atau melakukan sesuatu dengan segala daya upaya, bahkan yang terpahit sekalipun untuk mencapai yang terbaik".
Sisi pemerintah
Ada yang menarik dari kejadian di Jepang ini yang nampaknya perlu menjadi teladan yang dapat ditiru oleh manusia Indonesia. Pertama, wilayah terkena tsunami nampaknya memang sudah mempersiapkan diri untuk bencana seperti itu, karenanya mereka membangun tanggul di pantai setinggi sepuluh meter mengelilingi wilayah yang diperhitungkan sangat rentan terhadap tsunami. Kedua, sistem peringatan dini berjalan baik. Ketiga, pelatihan mitigasi bencana termasuk bagaimana menghindari atau menyelamatkan diri serta fasilitas-fasilitas penyelamatan diri dan lokasi pengungsian sudah tersedia dan dapat langsung dimanfaatkan ketika bencana yang sesungguhnya terjadi. Keempat, bangunan di Jepang memang sudah memenuhi kriteria tahan gempa. Terlihat dari media tivi, masyarakat Jepang tetap bertahan pada bangunan yang bergoyang-goyang dan kalau perlu akan bersembuinyi di bawah meja sebagaimana mereka dilatih secara berkala. Bangunan praktis tidak ada yang rusak akibat gempa, tapi gelombang tsunamilah yang berkecepatan di atas 600 km per jam yang memporak porandakan banyak bangunan. Kelima, sistem penanggulangan bencana juga berjalan sangat efektif dan nampak bahwa pemerintah dengan pengalaman yang panjang sudah menyiapkan manakala masa sulit tersebut terjadi. Pimpinan pemerintahan terjun langsung dan berada digaris depan mengatasi bencana tersebut dan berbaur bersama masyarakat dengan segala empatinya.
Individu dan masyarakat
Dari perilaku individu dan masyarakat, kita juga dapat banyak belajar dari manusia Jepang yang tangguh. Pertama, berbeda dengan kejadian bencana di tanah air yang sering terjadi, hampir tidak ada tangisan yang mengharu-biru dari para korban bencana di Jepang, baik anak-anak, remaja maupun orang tua. Semua berjalan seperti biasa saja, karena sadar bahwa mereka memang hidup di daerah yang rentan bencana. Kejadian tersebut nampaknya dianggap sebagai risiko yang memang harus mereka hadapi.
Kedua, tivi Jepang NHK juga memberitakan semua secara lugas dan transparan tanpa dilatar belakangi oleh lagu-lagu atau musik yang sentimentil dan memilukan, hampir tidak ada efek dramatisasi dari kejadian tersebut. Ketiga, berbeda dengan kejadian di negara lain termasuk negara besar seperti Amerika Serikat dan Inggris dan negara-negara berkembang, hampir dipastikan begitu terjadi bencana, maka pada saat pasca bencana akan terjadi penjarahan khususnya ke toko dan warung atau gudang-gudang pangan. Hal tersebut tidak terjadi di Jepang. Keempat, tingginya solidaritas sosial diantara masyarakat Jepang. Pada saat bahan makanan langka, menurut hukum pasar maka harga akan naik karena banyaknya permintaan. Itu pun tidak terjadi di Jepang, ada unsur etika kebersamaan sosial yang mengalahkan hukum pasar yang diagung-agungkan oleh dunia barat. Para pemilik toko malah menurunkan harga dan cenderung berbagi dengan masyarakat yang membutuhkannya. Solidaritas sosial yang luar biasa yang sudah tertanam dalam sanubari setiap anggota masyarakatnya.
Apa yang bisa kita pelajari
Dari kejadian tersebut jelas bahwa apa yang selalu dicanangkan oleh pendiri republik ini yaitu "nation and character building" adalah perlu dan fundamental bagi terciptanya kemandirian suatu bangsa. Nampaknya ini perlu mulai kembali dihidupkan semangat membangun karakter atau istilah yang sempat dipopulerkan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya. Lembaga pendidikan perlu kembali secara serius menghidupkan dan melaksanakan kembali pelajaran mengenai etika dan etos, semangat mandiri, semangat pantang menyerah dan semangat sosial yang tulus. Kita bisa berlajar dari Jepang, bagaimana bangsa itu membangun karakter yang demikian kuat yang muncul secara otomatis ketika negaranya mengalami kesulitan yang luar biasa. Semangat Bushido, semangat Samurai atau seperti kata Jansen Sinamo yang menulis di koran Kompas (Jumat, 18 Maret 2011)adalah semangat Gambaru. Secara populer Gambaru diterjemahkan sebagai: " berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan, bekerja hingga batas kemampuan terakhir, atau melakukan sesuatu dengan segala daya upaya, bahkan yang terpahit sekalipun untuk mencapai yang terbaik".
Jumat, 11 Maret 2011
12 kata JANGAN yang perlu dihindari
1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu akan semakin bahagia.
2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu akan semakin kaya.
3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah maka kamu akan termotivasi.
4. Jangan menunggu dipedulikan orang, baru kamu peduli, tapi pedulilah pada orang lain, maka orang akan mempedulikanmu.
5. Jangan menunggu orang memahamimu, baru kamu memahami orang, tapi pahamilah orang lain, maka orang akan memahamimu.
6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi mualilah bekerja, maka proyek akan menunggumu.
8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
9. Jangan menunggu uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan hanya uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.
10. Jangan menunggu contoh baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. Tapi bersyukurlah, maka akan bertambah kesuksesanmu.
12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah. Kamu pasti bisa!
(Kiriman seorang sahabat: Awriya Ibrahim)
2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu akan semakin kaya.
3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah maka kamu akan termotivasi.
4. Jangan menunggu dipedulikan orang, baru kamu peduli, tapi pedulilah pada orang lain, maka orang akan mempedulikanmu.
5. Jangan menunggu orang memahamimu, baru kamu memahami orang, tapi pahamilah orang lain, maka orang akan memahamimu.
6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi mualilah bekerja, maka proyek akan menunggumu.
8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
9. Jangan menunggu uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah bukan hanya uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.
10. Jangan menunggu contoh baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.
11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. Tapi bersyukurlah, maka akan bertambah kesuksesanmu.
12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah. Kamu pasti bisa!
(Kiriman seorang sahabat: Awriya Ibrahim)
Rabu, 02 Maret 2011
BELAJAR DARI ALAM
Dari AIR kita belajar KETENANGAN
Dari BATU kita belajar KETEGARAN
Dari TANAH kita belajar KEHIDUPAN
Dari KUPU-KUPU kira belajar MENYESUAIKAN DIRI
Dari PADI kita belajar RENDAH HATI
Dari ALLAH kita belajar SEMUANYA dalam hal kasih sayang yang sempurna
Melihat keatas, memperoleh semangat untuk maju
Melihat kebawah, kita bersyukur atas semua yang ada
Melihat kesamping , belajar semangat kebersamaan
Melihat kebelakang, sebagai pengalaman berharga kedalam untuk introspeksi
Melihat kedepan, untuk lebih maju
(Dari temanku Budi Santosa)
Dari BATU kita belajar KETEGARAN
Dari TANAH kita belajar KEHIDUPAN
Dari KUPU-KUPU kira belajar MENYESUAIKAN DIRI
Dari PADI kita belajar RENDAH HATI
Dari ALLAH kita belajar SEMUANYA dalam hal kasih sayang yang sempurna
Melihat keatas, memperoleh semangat untuk maju
Melihat kebawah, kita bersyukur atas semua yang ada
Melihat kesamping , belajar semangat kebersamaan
Melihat kebelakang, sebagai pengalaman berharga kedalam untuk introspeksi
Melihat kedepan, untuk lebih maju
(Dari temanku Budi Santosa)
Rabu, 20 Oktober 2010
Terbanglah Garuda ku (2): SARAN:
Pengalaman terbang dengan berbagai maskapai penerbangan khususnya maskapai asing telah memberikan pengalaman dan kesan tentang kenyamanan yang diinginkan penumpang. Terlebih lagi kalo harus terbang dalam waktu lama, misal lima jam atau lebih di udara. Terakhir terbang dengan Garuda ke Incheon Korea Selatan, merupakan pengalaman yang menyenangkan dengan pesawat baru dan pendekatan baru nampaknya Garuda sudah siap bersaing dengan maskapai lain. Namun demikian pengalaman soal pelayanan yang ditemui sepanjang perjalanan baik di udara dan di darat memberikan kesan juga bahwa kita masih bisa memperbaiki kualitas pelayanan demi kenyamanan pelanggan.
Flight attendant atau stewardess memegang peranan yang penting mulai dari penampilan maupun cara melayani. Saat ini pramugari dan pramugara memberi penghormatan kepada penumpang pada saat awal keberangkatan dan ketika akhir perjalanan. Ini hal baru yang positif, yang biasanya ditemui pada penerbangan dengan pesawat JAL. Dalam hal ini sepertinya kita perlu melirik pelayanan maskapai yang berbasis di Asia, seperti SIA, JAL, MAS, China Airlines dan Cathay Pacific. Dalam hal melayani penumpang untuk menaruh barang atau mencarikan tempat barang yang masih kosong, nampaknya SIA bisa ditiru kecekatannya. Pendekatan yang nampak lebih natural manakala berbicara atau menolong penumpang, Cathay sepertinya menawarkan keramahan yang menyenangkan. Ketulusan yang terpancar dari wajah manakala sedang berinteraksi dengan orang atau pelanggan sudah baik, namun masih bisa ditingkatkan.
Makanan terutama kualitas dan kelazatan makanan nampaknya perlu diperbaiki, untuk jalur luar negeri kualitasnya sudah baik mungkin soal rasa perlu ditingkatkan. Soal waktu dan kecukupan nampaknya Garuda sudah OK banget. Pengalaman menggunakan Qatar yang farenya relatif rendah ternyata menyajikan makan yang selain lengkap juga sesuai dengan selera Indonesia menjadi pembanding yang menarik juga. Dalam hal food and beverages, Garuda mampu bersaing, saya yakin banget.
Hiburan seperti film, musik, game dan seterusnya sudah bisa bersaing dengan maskapai penerbangan asing lainnya, apalagi dengan kursi yang lebih nyaman yang bisa diatur menjadikan penerbangan dengan Garuda sebagai sesuatu pengalaman yang menyenangkan. Yang perlu dlengkapkan adalah video mengenai olahraga ringan untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa pegal bagi penerbangan yang berjangka waktu lama.
Ketepatan waktu atau punctuality Garuda sudah cukup baik, tentunya keterlambatan yang lama perlu terus dihindari, karena akan membuat penumpang sewot dan kahirnya tidak nyaman. Informasi leih awal dan transparan mengenai keterlambatan sangat dipujikan.
Bagaimanapun Garuda adalah Garuda kita juga, jadi manakala masih ada kekurangan ya kewajiban kita bersama untuk mengingatkannya, sehingga bisa menjadi maskapai yang membanggakan, jangan justru kita tinggalkan. Terbanglah wahai Garuda ku.......
Flight attendant atau stewardess memegang peranan yang penting mulai dari penampilan maupun cara melayani. Saat ini pramugari dan pramugara memberi penghormatan kepada penumpang pada saat awal keberangkatan dan ketika akhir perjalanan. Ini hal baru yang positif, yang biasanya ditemui pada penerbangan dengan pesawat JAL. Dalam hal ini sepertinya kita perlu melirik pelayanan maskapai yang berbasis di Asia, seperti SIA, JAL, MAS, China Airlines dan Cathay Pacific. Dalam hal melayani penumpang untuk menaruh barang atau mencarikan tempat barang yang masih kosong, nampaknya SIA bisa ditiru kecekatannya. Pendekatan yang nampak lebih natural manakala berbicara atau menolong penumpang, Cathay sepertinya menawarkan keramahan yang menyenangkan. Ketulusan yang terpancar dari wajah manakala sedang berinteraksi dengan orang atau pelanggan sudah baik, namun masih bisa ditingkatkan.
Makanan terutama kualitas dan kelazatan makanan nampaknya perlu diperbaiki, untuk jalur luar negeri kualitasnya sudah baik mungkin soal rasa perlu ditingkatkan. Soal waktu dan kecukupan nampaknya Garuda sudah OK banget. Pengalaman menggunakan Qatar yang farenya relatif rendah ternyata menyajikan makan yang selain lengkap juga sesuai dengan selera Indonesia menjadi pembanding yang menarik juga. Dalam hal food and beverages, Garuda mampu bersaing, saya yakin banget.
Hiburan seperti film, musik, game dan seterusnya sudah bisa bersaing dengan maskapai penerbangan asing lainnya, apalagi dengan kursi yang lebih nyaman yang bisa diatur menjadikan penerbangan dengan Garuda sebagai sesuatu pengalaman yang menyenangkan. Yang perlu dlengkapkan adalah video mengenai olahraga ringan untuk menghilangkan kejenuhan dan rasa pegal bagi penerbangan yang berjangka waktu lama.
Ketepatan waktu atau punctuality Garuda sudah cukup baik, tentunya keterlambatan yang lama perlu terus dihindari, karena akan membuat penumpang sewot dan kahirnya tidak nyaman. Informasi leih awal dan transparan mengenai keterlambatan sangat dipujikan.
Bagaimanapun Garuda adalah Garuda kita juga, jadi manakala masih ada kekurangan ya kewajiban kita bersama untuk mengingatkannya, sehingga bisa menjadi maskapai yang membanggakan, jangan justru kita tinggalkan. Terbanglah wahai Garuda ku.......
Selasa, 12 Oktober 2010
Terbanglah Garuda ku
Sempat kita terhenyak mendengar berita bahwa perusahaan penerbangan Inonesia, termasuk Garuda, tidak boleh memasuki udara Eropa. Alasannya adalah faktor keselamatan dari pesawat-pesawat yang diragukan, mungkin karena safety standard yang sangat ketat yang diterapkan EU tidak bisa kita penuhi. tetapi seingat saya, juga dipicu banyaknya kecelakaan pesawat yang terjadi di tanah air, walaupun tidak melibatkan Garuda. Sedih dan malu, segitunya kita dimata Eropa. Tapi hikmahnya adalah adanya waktu jeda yang memberi kesempatan pada kita untuk bebenah agar lebih baik.
Sekarang Garuda sudah kembali mengepakan sayapnya di udara Eropa, dan mungkin segera disusul oleh maskapai penerbangan swasta nasional lainnya. Garuda adalah "the national carrier" yang menjadi salah satu icon Indonesia yang cukup dikenal di dunia. Ada kebanggaan ketika kita mendarat di bandara-bandara internasional manapun, dan kita melihat ada pesawat berlogo Garuda.
Maskapai Garuda tentu paling bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pelayanan mulai dari darat sampai diatas pesawat, keamanan dan kenyamanan termasuk ketepatan waktu, harga tiket yang kompetitif, sistem tiketing, kemudahan dalam check-in dan seterusnya. Pengalaman terakhir ke Korea Selatan dengan menggunakan Garuda memberi kesan kuat bahwa Garuda sudah bisa disejajarkan dengan maskapai internasional lainnya. Pesawat baru, reclining seat, kualitas makanan yang mantap dan pelayanan yang ramah. Pokoknya berani bersaing lah.
Seringkali kita masih mendengar teman mengeluhkan pelayanan Garuda, dan cenderung lebih memilih maskapai asing seperti SIA, Cathay, Lufthansa, MAS, KLM, Quantas, JAL dan seterusnya. Tentu tidak salah, karena itu merupakan preferensi pribadi. Tetapi ketika tanggung jawab moral kita sebagai bangsa dipertanyakan, saya pikir kita juga yang harus secara bersama-sama membesarkannya. Di kalangan pegawai negeri sudah ada aturan untuk menggunakan penerbangan nasional ketika bepergian ke Luar Negeri, sepanjang maskapai kita menyediakan pelayanan pada rute tersebut. Kepada semua pihak tentu perlu kita himbau untuki menggunakan maskapai nasional. Kalaupun ada keluhan, bukan berarti kiita harus meninggalkannya, akan tetapi lebih baik kita langsung memberi saran dan masukan untuk perbaikannya ke depan.
Lihatlah bagaimana China dan India menghargai produk nasionalnya, betapa mereka bangga menggunakan produk nasionalnya. Karena ternyata hanya dengan cara itu antara lain, mereka bisa menumbuhkan ekonomi melalui dukungan terhadap produk-produk yang dihasilkan bangsanya sendiri. Pembentukan permintaan oleh manusia Indonesia akan mampu memperkuat basis ekonomi dan kemampuan teknis dari maskapai pernerbangan nasional tersebut. Banggalah ikut membantu usaha bangsa kita sendiri. Dengan saling bergandengan tangan, yakinlah kita bahwa bangsa Indonesia mampu duduk sama tinggi dengan negara-negara lain di dunia ini. Kitapun bisa melakukan itu untuk Garuda.
Terbanglah selalu wahai Garuda ku.
Sekarang Garuda sudah kembali mengepakan sayapnya di udara Eropa, dan mungkin segera disusul oleh maskapai penerbangan swasta nasional lainnya. Garuda adalah "the national carrier" yang menjadi salah satu icon Indonesia yang cukup dikenal di dunia. Ada kebanggaan ketika kita mendarat di bandara-bandara internasional manapun, dan kita melihat ada pesawat berlogo Garuda.
Maskapai Garuda tentu paling bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pelayanan mulai dari darat sampai diatas pesawat, keamanan dan kenyamanan termasuk ketepatan waktu, harga tiket yang kompetitif, sistem tiketing, kemudahan dalam check-in dan seterusnya. Pengalaman terakhir ke Korea Selatan dengan menggunakan Garuda memberi kesan kuat bahwa Garuda sudah bisa disejajarkan dengan maskapai internasional lainnya. Pesawat baru, reclining seat, kualitas makanan yang mantap dan pelayanan yang ramah. Pokoknya berani bersaing lah.
Seringkali kita masih mendengar teman mengeluhkan pelayanan Garuda, dan cenderung lebih memilih maskapai asing seperti SIA, Cathay, Lufthansa, MAS, KLM, Quantas, JAL dan seterusnya. Tentu tidak salah, karena itu merupakan preferensi pribadi. Tetapi ketika tanggung jawab moral kita sebagai bangsa dipertanyakan, saya pikir kita juga yang harus secara bersama-sama membesarkannya. Di kalangan pegawai negeri sudah ada aturan untuk menggunakan penerbangan nasional ketika bepergian ke Luar Negeri, sepanjang maskapai kita menyediakan pelayanan pada rute tersebut. Kepada semua pihak tentu perlu kita himbau untuki menggunakan maskapai nasional. Kalaupun ada keluhan, bukan berarti kiita harus meninggalkannya, akan tetapi lebih baik kita langsung memberi saran dan masukan untuk perbaikannya ke depan.
Lihatlah bagaimana China dan India menghargai produk nasionalnya, betapa mereka bangga menggunakan produk nasionalnya. Karena ternyata hanya dengan cara itu antara lain, mereka bisa menumbuhkan ekonomi melalui dukungan terhadap produk-produk yang dihasilkan bangsanya sendiri. Pembentukan permintaan oleh manusia Indonesia akan mampu memperkuat basis ekonomi dan kemampuan teknis dari maskapai pernerbangan nasional tersebut. Banggalah ikut membantu usaha bangsa kita sendiri. Dengan saling bergandengan tangan, yakinlah kita bahwa bangsa Indonesia mampu duduk sama tinggi dengan negara-negara lain di dunia ini. Kitapun bisa melakukan itu untuk Garuda.
Terbanglah selalu wahai Garuda ku.
Sabtu, 17 Juli 2010
KETAHANAN PANGAN:SIAPA YANG TAHAN?
Masalah pangan memang penting. Buktinya sering dibicarakan dan diperdebatkan banyak lembaga, banyak orang, baik pemerintah ataupun bukan. Dan kesimpulannya, kita perlu mengembangkan apa yang disebut ketahanan pangan.Ini kemudian jadi wacana politik yang menarik manakala kita membicarakan kemiskinan dan kebutuhan dasar manusia.
Masalah ketahanan pangan selalu dikaitkan ketersediaan pangan dan akses terhadap pangan. Pada dasarnya kita tahan pangan kalau pangan tersedia kapan dan dimanapun dibutuhkan serta terjangkau, sehingga tidak ada yang kelaparan. Masalahnya seringkali pangan, atau kebutuhan pokok direduksi menjadi ketersediaan beras sebagai makanan pokok. Padahal kalau kita berbicara karbohidrat, maka sumber karbohidrat kita bukan hanya beras. Tapi apa hendak dikata, orang begitu jatuh cinta sama beras.Sampai-sampai, walaupun sudah menyantap macam-macam, tetap saja belum merasa makan kalau belum makan nasi. Nah lho!
KITA TAHAN SECARA ALAMI
Sebenarnya kalau kita secara nasional benar-benar melakukan upaya diversifikasi pangan dan kita secara individu merubah pola makan yang tidak terlalu tergantung pada beras atau nasi, ketahanan pangan tersebut sesungguhnya konsep yang sederhamam dan mudah dilakukan. Betapa tidak sumber karbohidrat kita luar biasanya banyaknya. Singkong, ubi jalar, jagung, sagu, talas, bentul, ganyong, uwi, porang, iles-iles, gadung dan seterusnya. Selain itu Tuhan, bukan tanpa maksud menyediakan umbi-umbian yang tumbuh dan berproduksi pada musim kering saat padi yang nota bene senang minum tidak bisa tumbuh. Kita saja yang tidak mengerti maksud Sang Pencipta tersebut, atau terbutakan karena gengsi yang kita buat sendiri dengan mengkategorisasikan jenis karbohidrat dengan status sosial ekonomi. Tidak perlu berwacana dalam hal ini, just do it.
DAYA ADAPTASI DAN SIFAT MANJA
Rasanya dulu, masyarakat sangat lentur dan dan lebih memiliki daya adaptasi yang tinggi. Tidak ada beras, tidak perlu berteriak-teriak, cari saja alternatif. Kan ada ubi, singkong dan seterusnya. Minyak goreng goreng sulit, ya buat pepes ikan, pepes ayam, pepes tahu, pepes oncom atau bakar ayam, bakat tempe dan seterusnya. Gampang kan? Masalah-masalah sederhana tersebut sekarang malah bisa dibuat menjadi "sepertinya" ruwet, bahkan kalau perlu dipolitisir.
Ada lagi fenomena "manja" yang semakin nampak. Misalnya ada daerah-daerah yang selama musim hujan atau musim gelombang besar tidak dapat didatangi atau mendadak terisolir. Padahal kearifan lokalnya mengajarkan untuk bersiap pada musim panen untuk mengahadapi musim sulit, artinya tahu betul sesuatu bakal rutin terjadi. artinya yang secara alami berdasarkan pengalaman empirisnya, mereka - ya rakyatnya ya pemimpinnya- membuat mereka tegar dan tidak manja serta sudah tahu cara mengatasi hal tersebut. daya adaptasi mereka teruji.
Teriakan minta tolong hanya dilakukan pada situasi ekstrim, dalam hal ini pemerintah sudah selayaknya tanggap dan segera turun tangan. Tidak seharusnya kita sedikit-sedikit teriak. Dan pemerintah juga perlu segera bertindak manakala kondisi darurat terjadi.
Masalah ketahanan pangan selalu dikaitkan ketersediaan pangan dan akses terhadap pangan. Pada dasarnya kita tahan pangan kalau pangan tersedia kapan dan dimanapun dibutuhkan serta terjangkau, sehingga tidak ada yang kelaparan. Masalahnya seringkali pangan, atau kebutuhan pokok direduksi menjadi ketersediaan beras sebagai makanan pokok. Padahal kalau kita berbicara karbohidrat, maka sumber karbohidrat kita bukan hanya beras. Tapi apa hendak dikata, orang begitu jatuh cinta sama beras.Sampai-sampai, walaupun sudah menyantap macam-macam, tetap saja belum merasa makan kalau belum makan nasi. Nah lho!
KITA TAHAN SECARA ALAMI
Sebenarnya kalau kita secara nasional benar-benar melakukan upaya diversifikasi pangan dan kita secara individu merubah pola makan yang tidak terlalu tergantung pada beras atau nasi, ketahanan pangan tersebut sesungguhnya konsep yang sederhamam dan mudah dilakukan. Betapa tidak sumber karbohidrat kita luar biasanya banyaknya. Singkong, ubi jalar, jagung, sagu, talas, bentul, ganyong, uwi, porang, iles-iles, gadung dan seterusnya. Selain itu Tuhan, bukan tanpa maksud menyediakan umbi-umbian yang tumbuh dan berproduksi pada musim kering saat padi yang nota bene senang minum tidak bisa tumbuh. Kita saja yang tidak mengerti maksud Sang Pencipta tersebut, atau terbutakan karena gengsi yang kita buat sendiri dengan mengkategorisasikan jenis karbohidrat dengan status sosial ekonomi. Tidak perlu berwacana dalam hal ini, just do it.
DAYA ADAPTASI DAN SIFAT MANJA
Rasanya dulu, masyarakat sangat lentur dan dan lebih memiliki daya adaptasi yang tinggi. Tidak ada beras, tidak perlu berteriak-teriak, cari saja alternatif. Kan ada ubi, singkong dan seterusnya. Minyak goreng goreng sulit, ya buat pepes ikan, pepes ayam, pepes tahu, pepes oncom atau bakar ayam, bakat tempe dan seterusnya. Gampang kan? Masalah-masalah sederhana tersebut sekarang malah bisa dibuat menjadi "sepertinya" ruwet, bahkan kalau perlu dipolitisir.
Ada lagi fenomena "manja" yang semakin nampak. Misalnya ada daerah-daerah yang selama musim hujan atau musim gelombang besar tidak dapat didatangi atau mendadak terisolir. Padahal kearifan lokalnya mengajarkan untuk bersiap pada musim panen untuk mengahadapi musim sulit, artinya tahu betul sesuatu bakal rutin terjadi. artinya yang secara alami berdasarkan pengalaman empirisnya, mereka - ya rakyatnya ya pemimpinnya- membuat mereka tegar dan tidak manja serta sudah tahu cara mengatasi hal tersebut. daya adaptasi mereka teruji.
Teriakan minta tolong hanya dilakukan pada situasi ekstrim, dalam hal ini pemerintah sudah selayaknya tanggap dan segera turun tangan. Tidak seharusnya kita sedikit-sedikit teriak. Dan pemerintah juga perlu segera bertindak manakala kondisi darurat terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)