Senin, 09 Agustus 2010

KEBIJAKAN DAN KEBAJIKAN: renungan Ramadhan

Sebagai birokrat kita sering harus membuat kebijakan (policy) dan karena bekerja di bidang kehutanan, ya tentunya kebijakan tentang kehutanan yang dibuat. Misalnya kebijakan tentang industri kehutanan atau kebijakan tentang perbenihan atau kebijakan tentang pemanfaatan hutan dan seterusnya. Kebijakan tersebut ada yang betul-betul mengatur kegiatan kehutanan yang cakupan pengaruhnya secara langsung hanya di bidang kehutanan. Namun demikian banyak juga kebijakan kehutanan yang berdampak pada bidang lain, misalnya kebijakan penggunaan kawasan hutan tentu akan mempengaruhi bidang atau sektor lain yang menggunakan kawasan atau lahan. Misal kegiatan pertambangan atau kegiatan perkebunan.

Seringkali kebijakan satu sektor dianggap merugikan sektor lain, atau merugikan karena tidak berdampak positif terhadap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Kita sering mendengar banyaknya peraturan yang bertentangan, tidak konsisten dan atau tumpang tindih. Akibatnya seringkali bukan saja menyebabkan laju kegiatan pembangunan terhambat, akan tetapi sering berkonsekuensi hukum pula. Nah dalam hal ini kebijakan yang kemudian dituangkan dalam bentuk peraturan ternyata tidak mendatangkan kebajikan. Padahal kebijakan yang dalam bahasa Indonesia berkonotasi bijak atau wise tentunya diharapkan akan menghasilkan kebajikan-kebajikan bagi seluruh manusia dan alam lingkungan.

Lalu mengapa sering terjadi ketidakbijakan yang berakibat tidak memberikan kebajikan? Ada beberapa kemungkinan faktor penyebabnya, yaitu pertama, keterbatasan informasi (limited information dan seringkali juga karena information asymetri). Informasi yang diperlukan seringkali tidak lengkap dan juga informasi yang ada bisa juga tidak akurat, akibatnya tentu dapat diduga. Informasi juga seringkali hanya dikuasai oleh satu pihak dan sulit diakses oleh yang lain, selain masalah transparansi informasi yang asimetri bisa juga disebabkan karena calon pengguna tidak tahu cara mengakses data dan informasi yang diperlukan.

Kedua, penyusunannya yang terfragmentasi dan sektoral. Ego sektoral sering kali dianggap sebagai penyebab keruwetan ini, betapa tidak? Satu sektor menyusun kebijakan yang akan mempengaruhi sektor lain, tetapi sektor yang akan terpengaruh tidak diajak berembug. Padahal sektor lain tersebut justru telah memiliki kebijakan. Jadilah kebijakan-kebijakan tersebut sering berbenturan. Yang lebih repot lagi bila di dalam sektor pun terjadi fragmentasi pengambilan kebijakan dan keputusan. Kejadian tersebut seringkali pula terjadi karena kita sendiri yang menyusun struktur seperti itu. Penyusunan kebiajakan dalam bentuk Undang Undang (UU) dibuat di parlemen tapi masing-masing sektor memiliki mitra komisi di DPR. Kehutanan dengan Komisi IV bersama Kementrian Pertanian, Kementrian DKP dan Kementrian BUMN. UU Kehutanan disusun oleh Komisi IV, padahal undang-undang tersebut akan berdampak terhadap masalah lingkungan hidup, misalnya Kementrian LH dan juga dengan Kementrian ESDM (keduanya pada Komisi VII), demikian pula sebaliknya. Tapi hal seperti ini tidak merupakan hak eksklusif Indonesia. Di lembaga seperti Bank Dunia pun terjadi hal ketidaksinkronan. Misalnya divisi yang menangani kehutanan dan lingkungan berupaya untuk mengatasi penyebab deforestasi dan degradasi hutan, sementara Divisi yang menangani ekonomi justru mendorong dibukanya kawasan hutan untuk perkebunan, energi dan pemukiman dan seterusnya.

Ketiga, seringkali bersifat ad-Hoc dan perlu segera, sehingga terlupa hal-hal yang penting. Dalam kondisi perubahan yang sangat dinamis dan serba cepat sering kebijakan berubah pula dengan cepat. Nah, perubahan yang serba cepat itu seringkali mengabaikan hal-hal seharusnya dipertimbangkan. Kita acapkali mendengar adagium "yang penting ada dulu, nanti perbaikannya dilakukan sambil jalan". Yang menjadi konsern adalah ketika akan diluruskan, ternyata kebijakan yang dibuat secara tergesa-gesa tersebut telah menimbulkan dampak berganda, akibatnya upaya revisinyapun menjadi tidak sederhana lagi. Apalagi ketika ada unsur legalitas yang terlanggar.

Ramadhan adalah bulan melatih orang untuk lebih bijak. Mudah-mudahan dengan sering mengasah rasa bijak ini akan dapat dihasilkan kebijakan yang mendatangkan kebajikan-kebajikan. Insya Allah.

Minggu, 01 Agustus 2010

SELAMAT BUAT WANADRI

Ini kali kedua saya mengikuti upacara penutupan pelatihan dalam rangka penerimaaan anggota baru kelompok pencinta alam Wanadri yang terkenal itu. Peristiwa itu terjadi di Kawah Upas Gunung Tangkuban Perahu, Bandung. Hari minggu, tepat tanggal 1 Agustus 2010 peristiwa itu terjadi. Penutupan pelatihan calon anggota pencinta alam dan sekaligus pelantikan 87 orang anggota baru yang berhasil mengikuti dengan baik. Dua angkatan baru tahun 2010 dengan nama Asoka Rimba untuk kelompok perempuan dan Tapak Rawa untuk kelompok lelakinya terbentuk sudah.

Ada yang menarik dari peristiwa tersebut. Pertama, ada sekelompok anak negeri ini yang masih berjiwa idealis yang terus memupuk idealisme tersebut dan benar-benar berkhidmat pada tujuan organisasi untuk menjadi pelopor lingkungan.
Kedua, masih banyak anak muda yang tertarik dan penuh tekad mengikuti pelatihan yang tidak ringan demi meraih kehausan akan kegiatan yang positif yang bermanfaat bagi bangsanya dan umat manusia pada umumnya.
Ketiga, rasa bangga yang luar biasa yang ditunjukkan oleh para anggota baru yang tetap bertahan untuk tidak rubuh karena kelelahan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang berat itu. Ada tiga orang yang rubuh ketika upacara resmi selesai, ketiganya masih berusaha berdiri tegak. Sungguh pemandangan yang luar biasa, betapa kebanggaan menjadi anggota Wanadri mampu mengatasi keletihan yang amat sangat. Itu saya rasakan ketika ikut menjabat tangan para anggota baru, banyak yang wajahnya lelah kuyu dengan tangan dingin karena panas tubuh terkuras saat latihan, mereka tetap berteriak WANADRI !! sambil beberapa anggota baru berlinang air matanya rasa haru dan sekaligus bangga. Dalam lubuk hatinya yang terdalam mereka pasti berkata: Ya saya WANADRI sekarang.
Keempat, dukungan yang luar biasa dari orang tua dan saudara-saudara dari para peserta yang berduyun-duyun datang ke kawah Upas untuk menyaksikan dengan segala kebanggaan dan keharuan bahwa anaknya berhasil menjadi anggota kelompok pencinta alam yang terkenal tersebut. Dukungan ini tidak terlihat ketika kita menyikapi kegiatan orientasi dalam rangka penerimaan mahasiswa baru.
Kelima, penyelenggara pelatihan sudah membuat efek dramatis dari acara penutupan pelatihan dan pelantikan anggota baru ini. Ya tempatnya yang mendukung, atraksi asap yang menarik, ledakan dinamit maupun suara tembakan serta teriakan pembawa acara yang bergema disekeliling kawah yang dikelilingi tebing yang curam nampaknya akan membawa kesan tersendiri yang mungkin akan diingat dalam jangka waktu yang cukup lama kedepan.
Sekali lagi, selamat buat WANADRI.

Senin, 26 Juli 2010

KOMPOR GAS MELEDAK:MENGAPA?

Pemerintah berhasil melakukan program konversi minyak tanah ke bahan bakar gas, terutama untuk keperluan rumah tangga. Sekarang pemakaian gas untuk memasak sudah menjadi hal yang biasa. Namun demikian berita yang kita dengar akhir-akhir ini adalah banyaknya kompor gas. terutama tabug gas 3 kiloan, yang meledak. Akibatnya rumah hancur, terbakar dan banyak memakan korban manusia terutama ibu rumah tangga yang memang dalam kesehariannya bergaul dengan kompor gas.

Sebagian orang mulai berpikir untuk kembali memakai minyak tanah karena lebih aman. Bahkan masyarakat suatu desa di Cipayung, Jakarta mengadakan pemilu kompor. Tujuannya adalah melihat preferensi masyarakatnya untuk menggunakan gas atau minyak tanah. Pemenangnya adalah kompor minyak tanah secara mutlak (80%) dibanding kompor gas (20%). Pasti lasana dibalik pemilu ini adalah karena banyaknya kompor gas yang meledak. Masyarakat nampaknya berbalik ingin atau lebih memilih minyak tanah.

Menurut para ahli beberapa penyebab meledaknya kompor, antara lain karena regulatornya rusak atau tidak pas, selangnya bekualitas rendah demikian juga tabung gasnya sseringkali dibawah standar karena tidak bersertifikat SNI. Karena bocor tadi maka gas terakulmulasi diruang yang sempit, seperti dapur, yang seringkali juga tidak berventilasi udara cukup. Nah secercah api dari pemantik sudah cukup untuk membakar gas tersebut dan akibatnya ya terjadilah ledakan.

Gas elpiji tersebut tidak berwarna dan tidak berbau, oleh karena itu untuk mendeteksi kebocoran tabung gas, maka gas tersebut diberi bau yang menyengat agar orang tahu manakala tercium bau menyengat, berarti gas bocor. Dengan demikian orang harus waspada. Dan ingat, jangan menyalakan kompor.

Untuk menggunakan kompor gas, nampaknya memerlukan pengetahuan tentang cara pemakaian yang aman. Itu berbeda dengan minyak tanah, walaupun berceceran tidak gampang tersambar api. Tapi tidak demikian dengan gas yang mudah terbakar (flammable). Dari kasus-kasus meledaknya kompor gas, selaian karena peralatan yang tidak standar, nampaknya sosialisasi atau penjelasan cara pemakaian yang aman mutlka diperlukan. Barangkali ini juga yang ikut menjelaskan mengapa kompor gas gampang meledak.

Sabtu, 24 Juli 2010

KETIKA DIAM TAK LAGI EMAS

Silent is golden itu peribahasa yang sering kita dengar. Bahkan grup Simon and Garnfunkel dalam salah satu lagunya juga bersenandung diam itu emas. Benarkah diam itu emas? Ternyata tidak selalu.

Ada satu saat dimana diam tidak diapresiasi. Sering kita diundang rapat baik di dalam organisasi maupun diundang oleh organisasi lain. Undangan itu harus kita apresiasi sebagai suatu kehormatan, karena faktanya tidak semua orang diundang. Pihak pengundang tentu berharap bahwa kehadiran kita akan bermanfaat dalam pembahasan agenda rapat tersebut. Undangan tersebut merupakan peluang emas untuk dimanfaatkan.

Bicaralah pada kesempatan, setiap kita diundang, secara jelas ringkas dan santun. Dan ingat, kita jangan berusaha mendominasi, karena banyak tentu peserta yang juga ingin berkontribusi. Ekspresikan pendapat kita, sekalipun ketika pandangan kita barangkali tidak pas atau berbeda dengan arus utama yang ada. Ingat, perbedaan seringkali menginspirasi munculnya ide yang lebih cemerlang dan bahkan mungkin menghasilkan solusi yang jitu.

Seringkali kita diam, karena menganggap pengetahuan atau pendapat yang akan kita lontarkan sudah diketahui oleh semua orang. Sadarlah itu tidak benar. Atau kita diam, karena malu. Sifat malu ini jelas harus ditinggalkan segera dan simpan di bagasi mobil anda atau di lemari pakaian anda. Bayangkan ketika kita selalu diam ketika mengikuti berbagai rapat atau diskusi, maka dapat dipastikan pihak pengundang akan kapok untuk mengundang kita lagi. Setinggi apapun ilmu kita, sedalam apapun pemahaman kita atas ilmu dan pengetahuan, hal itu menjadi tidak bermakna ketika kita tidak pernah berbagi. Ketika kita selalu berprinsip diam itu emas, karena orang akan mencari emas. Ingatlah tidak semua orang suka menambang emas. Dan kita akan menjadi buku tertutup yang tidak ada seorangpun berminat membacanya.

Oleh karena itu, datanglah ketika diundang, usahakan hadir dengan segala cara bahkan ketika kesulitan fisik kita hadapi. Berbicaralah dan lontarkan pendapat kita, dan jangan pernah diam dan jangan pernah takut salah.

PERLUKAH PEMBAHARUAN INTERPRETASI PERIBAHASA?

Ketika berkesempatan ke Washington DC, saya kunjungi beberapa museum dan gedung pemerintah yang umumnya berarsitektur klasik model jaman renaisans. Yang menarik adalah banyaknya kata-kata mutiara dan peribahasa yang diukirkan pada bangunan maupun lantainya. Peribahasa dan kata-kata mutiara banyak terpampang disana. Mulai dari Abraham Lincoln, George Washington, James Watt, bahkan kata-kata mutiara dari Socrates, Galileo, dan seterusnya. Juga kata-kata dari JF Kennedy yang sangat terkenal terpampang di dinding. Semua sangat menggugah. Barangkali itu cara mereka menghargai pahlawan sekaligus memotivasi generasi mudanya.

Di Indonesia, kata-kata penyemangat seperti semboyan banyak dijumpai di pabrik-pabrik yang juga sekaligus sebagai nilai atau semangat yang dikembangkan di perusahaan atau pabrik-pabrik tersebut dan seringkali juga merupakan pedoman tentang apa yang harus karyawan lakukan. Misalnya, kalau ada masalah harus LAPOR, KAJI, PUTUSKAN cara penyelesaiannya. Tapi di Indonesia belumlah merupakan kelaziman dibangunan pemerintah atau institusi lain untuk mengukir peribahasa, kata-kata mutiara dan semboyan pada dinding bangunan lembaga tersebut.

Dalam era globalisasi dimana orang harus cenderung mengekspresikan jati dirinya, harus pamer tanpa bermaksud menyombongkan diri. Kalau tidak, mitra kita menganggap kita tidak tahu apa-apa. Sifat rendah hati perlu diinterpretasikan secara berbeda, ia bukan berarti harus tidak menonjolkan diri karena takut dianggap sombong, tetapi harus proporsional. Seorang ahli manajemen misalnya ya harus sering tampil sehingga semua orang tahu nahwa ia memang ahli, demikian juga untuk keahlian-keahlian lain.

Nah, disinilah saya lihat perlunya peribahasa diberi jiwa baru yang lebih sesuai dengan perkembangan jaman, teknologi dan kadang-kadang juga tata nilai. Misal, Habis Manis Sepah dibuang seringkali dikonotasikan negatif, karena bisa diartikan melupakan kawan lama yang sudah tidak berpotensi karena ada yang lebih moncer. Padahal secara ilmiah, peribahasa itu bisa diartikan sebagai Wajar. Lha wong sudah jadi sepah yang dibuang saja to?. Hanya saja dengan teknologi, limbah bisa di daur ulang.

Atau peribahasa ilmu padi, Makin Berisi Makin Merunduk. Artinya tong berisi tidak berbunyi atau kalau tong yang kosong malah nyaring bunyinya. Saat ini orang berilmu justru harus banyak tampil, menyebarluaskan ilmunya tanpa harus merasa menyombongkan diri. Barangkali, bukan ilmu padi tapi ilmu jagung yang harus dikembangkan. Makin berisi Makin mendongak dan berkilat. Dan banyak peribahasa yang lainnya. Intinya bagaimana kita membangun semangat dan memotivasi melalui peribahasam kata-kata mutiara dan semboyan. Itu saja.

TERIMA KASIH GUSDUR

Sebagai pegawai negeri, kenaikan pangkat mungkin merupakan insentif yang paling besar ditengah keterbatasan insentif yang sifatnya moneter. Betapa tidak? Kepangkatan mengindikasikan salah satunya, lamanya seseorang telah mengabdi melalui jalur birokrasi. Karena ada kenaikan pangkat secara reguler. Tapi kadang-kadang atau seringkali hal tersebut tidak terjadi otomatis, antara lain karena yg berdsangkutan diperbantukan atau tugas belajar. Ada tapi yang lain, yaitu ada juga orang yang selalu sibuk mengurus kenaikan pangkatnya sendiri dan berhasil.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa, walau itu tugas temen-temen kepegawaian, tapi mengingat besarnya volume pekerjaan kepegawaian yang harus mereka kelola, maka sekali-kali ikut mengecek nasib sendiri perlu juga. Alhamdulillah sekarang hal tersebut tidak perlu terjadi lagi. Lha lalu apa hubungannya dengan Gus Dur?

Nah ceriteranya, ketika pangkat saya berhenti agak lama pada golongan IV-A, lalu temen-temen membantu agar bisa naik golongan menjadi IV-B. Dan berhasil! Saat itu bertepatan dengan Gus Dur menjadi presiden dan mengeluarkan peraturan yang memungkinan penyesuaian golongan dengan jabatan dan juga kenaikan golongan bagi pejabat setelah enam bulan pada posisinya. Saat itu, golongan saya sertamerta disesuaikan menjadi IV-C dan enam bulan kemudian menjadi IV-D. Bersyukur pada Allah SWT atas semua ini, karena dengan demikian saya bisa menyusul teman-teman seangkatan yang sudah memiliki golongan tersebut sesuai denga prosedur biasa. Tentunya terima kasih juga untuk pak Presiden, Gus Dur. Karena melalui aturan yang dikeluarkan banyak teman birokrat yang terselamatkan. Aturan tersebut, kemudian memang direvisi kembali. Anyway, terima kasih Gus Dur.

Sabtu, 17 Juli 2010

KETAHANAN PANGAN:SIAPA YANG TAHAN?

Masalah pangan memang penting. Buktinya sering dibicarakan dan diperdebatkan banyak lembaga, banyak orang, baik pemerintah ataupun bukan. Dan kesimpulannya, kita perlu mengembangkan apa yang disebut ketahanan pangan.Ini kemudian jadi wacana politik yang menarik manakala kita membicarakan kemiskinan dan kebutuhan dasar manusia.

Masalah ketahanan pangan selalu dikaitkan ketersediaan pangan dan akses terhadap pangan. Pada dasarnya kita tahan pangan kalau pangan tersedia kapan dan dimanapun dibutuhkan serta terjangkau, sehingga tidak ada yang kelaparan. Masalahnya seringkali pangan, atau kebutuhan pokok direduksi menjadi ketersediaan beras sebagai makanan pokok. Padahal kalau kita berbicara karbohidrat, maka sumber karbohidrat kita bukan hanya beras. Tapi apa hendak dikata, orang begitu jatuh cinta sama beras.Sampai-sampai, walaupun sudah menyantap macam-macam, tetap saja belum merasa makan kalau belum makan nasi. Nah lho!

KITA TAHAN SECARA ALAMI
Sebenarnya kalau kita secara nasional benar-benar melakukan upaya diversifikasi pangan dan kita secara individu merubah pola makan yang tidak terlalu tergantung pada beras atau nasi, ketahanan pangan tersebut sesungguhnya konsep yang sederhamam dan mudah dilakukan. Betapa tidak sumber karbohidrat kita luar biasanya banyaknya. Singkong, ubi jalar, jagung, sagu, talas, bentul, ganyong, uwi, porang, iles-iles, gadung dan seterusnya. Selain itu Tuhan, bukan tanpa maksud menyediakan umbi-umbian yang tumbuh dan berproduksi pada musim kering saat padi yang nota bene senang minum tidak bisa tumbuh. Kita saja yang tidak mengerti maksud Sang Pencipta tersebut, atau terbutakan karena gengsi yang kita buat sendiri dengan mengkategorisasikan jenis karbohidrat dengan status sosial ekonomi. Tidak perlu berwacana dalam hal ini, just do it.

DAYA ADAPTASI DAN SIFAT MANJA
Rasanya dulu, masyarakat sangat lentur dan dan lebih memiliki daya adaptasi yang tinggi. Tidak ada beras, tidak perlu berteriak-teriak, cari saja alternatif. Kan ada ubi, singkong dan seterusnya. Minyak goreng goreng sulit, ya buat pepes ikan, pepes ayam, pepes tahu, pepes oncom atau bakar ayam, bakat tempe dan seterusnya. Gampang kan? Masalah-masalah sederhana tersebut sekarang malah bisa dibuat menjadi "sepertinya" ruwet, bahkan kalau perlu dipolitisir.

Ada lagi fenomena "manja" yang semakin nampak. Misalnya ada daerah-daerah yang selama musim hujan atau musim gelombang besar tidak dapat didatangi atau mendadak terisolir. Padahal kearifan lokalnya mengajarkan untuk bersiap pada musim panen untuk mengahadapi musim sulit, artinya tahu betul sesuatu bakal rutin terjadi. artinya yang secara alami berdasarkan pengalaman empirisnya, mereka - ya rakyatnya ya pemimpinnya- membuat mereka tegar dan tidak manja serta sudah tahu cara mengatasi hal tersebut. daya adaptasi mereka teruji.

Teriakan minta tolong hanya dilakukan pada situasi ekstrim, dalam hal ini pemerintah sudah selayaknya tanggap dan segera turun tangan. Tidak seharusnya kita sedikit-sedikit teriak. Dan pemerintah juga perlu segera bertindak manakala kondisi darurat terjadi.