Seringkali kita bertanya mengapa sih kita harus pergi berobat keluar negeri? Jawabannya bisa macam-macam. Ada yang bilang jatuhnya lebih murah daripada biaya berobat di dalam negeri, pelayanannya lebih baik selama maupun pasca penyembuhan, tidak diganggu oleh handai tolan dan relasi yang ingin menjenguk,fasilitasnya lebih lengkap, penerimaannya ramah, dan sambil sekalian berkunjung ke luar negeri. Bisnis kesehatan adalah bisnis jasa, kualitas pelayan sewaktu berobat dan setelah berobat menjadi penting. Pelayanan mulai dari meja resepsion, pelayanan kesehatannya itu sendiri dan loket pembayaran menjadi penting. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman pribadi pada hari selasa dan rabu 4 dan 5 Oktober 2011, di sebuah rumah sakit pemerintah ternama di ibukota.
Resepsionis sebagai pintu depan
Ketika saya merasa perlu untuk mengecek kesehatan yang tiba-tiba di bagian dada sebelah kiri terasa nyeri. Dan saya langsung kontak teman saya yang pernah mengalami sakit jantung, dan akhirnya dia menyarankan saya untuk menghubungi dokter spesialis yang kebetulan teman baik teman saya itu. Dengan senang hati teman saya mengatur dan menghubungi dokter yang bersangkutan. Dan saya diminta datang oleh teman saya setelah mendapat lampu hijau dari dokter, pada hari Selasa sekitar jam 2 atau jam 3, karena dokter tersebut memang praktek sore pada hari itu.
Sesuai dengan informasi tersebut, saya datang jam 14 dan mendaftar di resepsionis dan diterima dengan ramah. Saya beritahu bahwa saya sudah janji dengan dokter tersebut, lalu saya diminta mengisi formulir pendaftaran. Resepsionis mengatakan bahwa dokter sudah kelebihan pasien dan tidak mau menerima pasien baru,karena sudah ada 4 atau lebih pasien yang diminta datang hari lain. Saya jelaskan soal janji tersebut, tetapi petugas resepsionis tetap mengatakan tidak bisa. Lalu saya minta tolong sekali lagi untuk mengecek dokternya. Saya dipersilahkan menunggu dan akhirnya saya dipanggil, dengan ramahnya saya diberitahu bahwa saya adalah pasien ke empat. Lalu sya diminta memasukki ruang EKG dan diperiksa. Setelah itu saya kembali diminta menunggu giliran untuk konsultasi dengan dokter.
Saya diminta ke ruang dokter, ternyata saya dialihkan ke dokter lain tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Lalu saya pun mengajukan protes sambil mengingatkan kembali bahwa saya sudah buat janji dan tentunya tidak fair kalau dialihkan begitu saja ke dokter lain tanpa persetujuan saya. Tentu saja saya tidak mau ngotot, mengingat tensi saya sedang tinggi. Tetapi saya sekali lagi minta mereka untuk mengecek ke dokter yg saya maksud. Kebetulan saya belum pernah bertemu sebelumnya, jadi belum mengenai beliau. Saya kemudian menunggu kembali, sambil menghubungi teman saya kenalan dokter. Dan saya pun mengirim sms kepada dokter tersebut, bahwa saya sudah menunggu diluar.
Rupanya dokter keluar dari ruang kerjanya dan meminta suster untuk memanggil saya. Mendengar nama saya dipanggil, sayapun mendatangi suster tersebut, sementara petugas resepsion pun memberi tahu suster bahwa saya sudah di ruang tunggu dalam. Akhirnya saya sempat juga berkonsultasi. Dan diminta datang kembali keesokan harinya untuk melakukan tread mill, berhubung tensi saya terlalu tinggi pada sore itu.
Sesuai dengan saran dokter saya pun datang pada hari Rabu dengan pengantar dari dokter untuk melakukan treadmill.Saya langsung ke resepsionis dan menyerahkan surat pengantar. Lagi-lagi resepsionis menyarankan saya untuk kembali esoknya, karena hari Rabu memang dokter tidak berpraktek di rumah sakit tersebut. Sudah saya jelaskan bahwa saya diminta dokter datang, untuk melakukan tread mill dan setelah selesai diminta menelpon dokter untuk bertemu disuatu tempat (tentu rumah sakit lain) dengan membawa hasil thread mill untuk bisa menentukan langkah tindak selanjutnya. Kembali petugas resepsion "keukeuh' agar saya datang lagi besok saja, kendatipun sudah saya jelaskan. Karena lagi-lagi saya tidak mau bersitegang, takut tensinya naik lagi, akhirnya saya minta petugas untuk menulis di surat pengantar tersebut, bahwa "pasien sudah datang tapi disarankan untuk datang pada ke esokan harinya, hari Kamis". Lalu saya meninggalkan rumah sakit tersebut.
Kira-kira 10-15 menit kemudian saya ditelpon oleh petugas resepsion bahwa saya boleh treadmill karena katanya, ternyata saya sudah punya 'janji khusus' dengan dokter, sambil berulang kali meminta maaf. Karena sudah jauh dan makan waktu kalau kembali, sementara saya masih ada pekerjaan di kantor, lagi pula suasana hatipun sudah tidak lagi nyaman, maka saya putuskan untuk datang besok saja. Saya heran bahwa mereka tidak pernah berpikir berapa besar usaha, waktu, biaya yang dikeluarkan oleh pasien untuk khusus datang dari luar kota, demi untuk memenuhi janji.
Pelajaran apa yang bisa kita ambil?
Sepertinya kita belum terlalu siap untuk menggerakan jasa pelayanan (services) secara profesional. Ada "You and me feeling". Ada kesan pasien yang lebih membutuhkan bukan ruma sakit. Melayani barangkali masih dirasakan sebagai bukan pekerjaan yang bergengsi. Dan sikap-sikap yang kurang profesional ini mungkin saja membahayakan pasien, ketika pasien belum sempat tertangani dokter, akibat urusan administrasi yang bertele-tele di pintu depan. Sebetulnya tidak sulit mengecek pada dokter atau suster yang melayani dokter itu, butuh sedikit waktu saja, sehingga janji pasien dengan dokter tidak dipotong oleh petugas resepsion yang seharusnya lincah,ligat dan helpful.
Jangan-jangan hal kecil seperti ini yang juga membuat orang tidak nyaman berobat di sini, dan akhirnya berpaling untuk berobat ke luar negeri. Sayang sekali ya.
Perbaikan kualitas sumber manusia digaris depan ini sangat perlu diperhatikan oleh para pengelola rumah sakit sebagai bagian penting dari bisnis jasa pelayanan kesehatan, kalau tidak ingin ditinggalkan oleh pasien dan pengguna jasa pelayanan kesehatan.
Rabu, 05 Oktober 2011
PENDIDIKAN BUDIPEKERTI DAN RANKING SEKOLAH
Ujian Nasional atau UN dalam dekade terakhir nampaknya menjadi masalah tahunan yang muncul di negeri ini. Pro dan kontra sering muncul. Yang Pro beralasan perlu adanya standarisasikompetensi anak didik, sementara yang Kontra mengatakan terlalu dini menetapkan standar nasionalkelulusan ketika disparitas mutu sekolah antar wilayah masih cukup tinggi. Kitapun sering membaca di media cetak atau menyaksikan pada media televisi banyak sekolah yang tingkat kelulusannya rendah bahkan tidak jarang ada yang gagal total. Alias 100% tidak lulus. Bisa dibayangkan dampaknya. Murid menangis, orang tua murka, guru malu,sementara sekolah menjadi kurang marketable. Sementara berapa besar biaya yang dikeluarkan yang menjadi sangat tidak efisiendan tidak efektif penggunaannya akibat banyaknya murid yang tidak lulus. Berapa banyak bangku sekolah tidak bisa dimanfaatkan oleh siswa baru,karena banyak siswa harus mengulang.
RANKING SEKOLAH
Ukuran keberhasilan sekolah menjadi sangat kuantitatif dan kering, karena kriteria sekolah yang baik tereduksi hanya menjadi sekolah yang banyak meluluskan siswanya dan banyak menghasilkan siswa pandai. Penyebabnya antara lain karena setiap tahun pasti ada evaluasi dan pengumuman urtutan sekolah unggulan dan juga murid dengan siswa yang mendapat nilai tertinggi. Sekolah hebat adalah sekolah yang muridnya lulus 100% dan muridnya merajai ranking nilai tertinggi disatu kota, propinsi bahkan nasional. Sekolah unggulan ini yang akan mampu menarik calon siswa yang pandai dari jenjang pendidikan di bawahnya. Sekolah lain menampung 'sisa' siswa yang tidak diterima di sekolah unggulan atau teladan.
Jelas maka sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah unggulan demi memperoleh ranking sekolah tersebut. Banyak upaya yang dilakukan, antara lain meningkatkan kualitas guru,menambah pelajaran ekstra, menambah beban materi yang lebih banyak dan selalu memberi banyak pekerjaan rumah PR). Bisa anda bayangkan, betapa seringnya kita melihat siswa2 berjalan dengan membawa ransel atau backpack yang penuh dengan buku pelajaran. Seringkali lebih banyak beban yang dibawanya dibanding dengan mahasiswa. Mereka tidak punya waktu bermain baik dengan teman maupun dengan saudara dan keluarga. Pulang ke rumah belajar, belajar dan belajar. Mengerjakan PR, PR dan PR lagi. Waktu diluar jam sekolah menjadi bagian waktu yang 'terpaksa' harus disisihkan untuk mendukung ranking siswa dan ranking sekolahnya. Kurangnya waktu untu kegiatan yang tidak berbau sekolahan, mungkin dapat menyebabkan siswa menjadi asosial, kuper dan kutu buku. Pinter tapi tidak bisa bergaul. Padahal kemampuan bergaul dan berkomunikasi itu kelak akan dirasakan penting dan manfaatnya.
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DAN KEBANGSAAN
Bung Karno, founding father NKRI kita seringkali menyatakan perlunya bangsa ini memperhatikan 'nations and character building'Faktanya pelajaran semacam budi pekerti, pendidikan kebangsaan kurang diperhatikan dan kurang mendapat porsi yang berimbang dibadingkan dengan mata ajaran inti seperti Matematika, Fisika, Biologi dan Bahasa. Kurangnya perhatian terhadap endidikan karakter antara lain telah menimbulkan keberingasan, suka tawuran bahkan dari sejak siswa SLP sampai mahasiswa perguruan tinggi. Sulit dibayangkan misalnya mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa melakukan tawuran antar fakultas untuk sesuatumasalah yang sering sangat sepele. Sulit dipahami kalau mahasiswa merusak bahkan membakar laboratorium, perpustakaan dari fakultas yang mahasiswanya bertawuran dengan kelompoknya. Padahal karakter dan nilai (values) seperti integritas, respek, rasa menyayangi dan patriotisme misalnyajuga tak kalah pentingnya dari pada performans akademik yang diukur dengan nilai yang diperoleh untuk mata ajaran inti.
Nampaknya kita perlu berpikir lagi mengenai arah atau kebijakan pendidikan di Indonesia ini. Kita perlu mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada anak didik (student-centric) dan pendidikan berdasar nilai (values driven education).
RANKING SEKOLAH
Ukuran keberhasilan sekolah menjadi sangat kuantitatif dan kering, karena kriteria sekolah yang baik tereduksi hanya menjadi sekolah yang banyak meluluskan siswanya dan banyak menghasilkan siswa pandai. Penyebabnya antara lain karena setiap tahun pasti ada evaluasi dan pengumuman urtutan sekolah unggulan dan juga murid dengan siswa yang mendapat nilai tertinggi. Sekolah hebat adalah sekolah yang muridnya lulus 100% dan muridnya merajai ranking nilai tertinggi disatu kota, propinsi bahkan nasional. Sekolah unggulan ini yang akan mampu menarik calon siswa yang pandai dari jenjang pendidikan di bawahnya. Sekolah lain menampung 'sisa' siswa yang tidak diterima di sekolah unggulan atau teladan.
Jelas maka sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah unggulan demi memperoleh ranking sekolah tersebut. Banyak upaya yang dilakukan, antara lain meningkatkan kualitas guru,menambah pelajaran ekstra, menambah beban materi yang lebih banyak dan selalu memberi banyak pekerjaan rumah PR). Bisa anda bayangkan, betapa seringnya kita melihat siswa2 berjalan dengan membawa ransel atau backpack yang penuh dengan buku pelajaran. Seringkali lebih banyak beban yang dibawanya dibanding dengan mahasiswa. Mereka tidak punya waktu bermain baik dengan teman maupun dengan saudara dan keluarga. Pulang ke rumah belajar, belajar dan belajar. Mengerjakan PR, PR dan PR lagi. Waktu diluar jam sekolah menjadi bagian waktu yang 'terpaksa' harus disisihkan untuk mendukung ranking siswa dan ranking sekolahnya. Kurangnya waktu untu kegiatan yang tidak berbau sekolahan, mungkin dapat menyebabkan siswa menjadi asosial, kuper dan kutu buku. Pinter tapi tidak bisa bergaul. Padahal kemampuan bergaul dan berkomunikasi itu kelak akan dirasakan penting dan manfaatnya.
PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DAN KEBANGSAAN
Bung Karno, founding father NKRI kita seringkali menyatakan perlunya bangsa ini memperhatikan 'nations and character building'Faktanya pelajaran semacam budi pekerti, pendidikan kebangsaan kurang diperhatikan dan kurang mendapat porsi yang berimbang dibadingkan dengan mata ajaran inti seperti Matematika, Fisika, Biologi dan Bahasa. Kurangnya perhatian terhadap endidikan karakter antara lain telah menimbulkan keberingasan, suka tawuran bahkan dari sejak siswa SLP sampai mahasiswa perguruan tinggi. Sulit dibayangkan misalnya mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa melakukan tawuran antar fakultas untuk sesuatumasalah yang sering sangat sepele. Sulit dipahami kalau mahasiswa merusak bahkan membakar laboratorium, perpustakaan dari fakultas yang mahasiswanya bertawuran dengan kelompoknya. Padahal karakter dan nilai (values) seperti integritas, respek, rasa menyayangi dan patriotisme misalnyajuga tak kalah pentingnya dari pada performans akademik yang diukur dengan nilai yang diperoleh untuk mata ajaran inti.
Nampaknya kita perlu berpikir lagi mengenai arah atau kebijakan pendidikan di Indonesia ini. Kita perlu mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada anak didik (student-centric) dan pendidikan berdasar nilai (values driven education).
Selasa, 13 September 2011
BELAJAR DARI WIKILEAKS: SEBUAH RENUNGAN
Judul ini berasal dari judul artikel di koran Financial Times yang saya baca waktu perjalanan ke China dan isinya antara lain pentingnya Indonesia belajar dari Wikileaks.* Ada yang menarik dari tulisan ini, pertama, ceritera mengenai diplomasi Indonesia versus Singapura soal Selat Malaka. Indonesia merencanakan pengawasan yang ketat atas lalu lintas Laut di Selat Malaka dekat Singapura. Bagi Singapura ini dianggap suatu ancaman karena pengawasan yang berarti additional cost akan mengancam competitiveness singapura sebagai pelabuhan transito. Walaupun pengawasan alur lalu lintas ini adalah hak suatui negara dan berdasarkan hukum internasional diperbolehkan (demikian kata artikel tersebut), namun Singapura berusaha menggagalkan nya dengan meminta dukungan Australia dalam bernegosiasi, sambil mendukung upaya Australia menerapkan apa yang dilakukan Indonesia tersebut di perairannya.
Ceritera kedua adalah soal MoU antara Indonesia dan Singapura mengenai ekstradisi. MoU sudah ditandatangani, tetapi kesepakatan itu ternyata tidak pernah bisa diimplementasikan, karena ternyata diluar MoU sebenarnya masih banyak hambatan2 aturan dan hukum di kedua negara yang harus disesuaikan dan diselesaikan untuk berjalannya MoU tersebut. Dan ini nampaknya tidak atau belum dilakukan oleh Indonesia yang lebih memiliki kepentingan, mengingat banyaknya orang Indonesia yang terlibat kasus dan bersembunyi di negeri singa itu. Tulis artikel tersebut, Indonesia lebih suka mencari popularitas pada tataran politik di permukaan, akan tetapi tidak serius menangani pelaksanaannya. Artinya kita tidak sabar untuk mengurus detail nya yang justru sebenarnya akan membuat MoU itu menjadi lebih operasional.
Benarkah penilaian itu? Jangan-jangan memang benar demikian adanya perangai kita ini. Senang memulai sesuatu yang baru, meluncurkan sesuatu, sesuatu yang fenomenal. Apakah itu bermanfaat atau tidak, kita sebagai penggagas tidak peduli, yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang hebat. Akibatnya seringkali kita tidak menyiapkan tindak lanjutnya. Artinya kita sering memiliki keinginan, niat, atau cita-cita yang baik, tetapi kemudian tidak serius menindak lanjutinya. Sebenarnya Tukul Arwana sudah sering mengingatkan kita akan hal tersebut, menurut Tukul:" jangan sekali-kali menilai buku dari sampulnya, tapi lihat isinya." Kenyataannya kita ternyata lebih sering menghargai penampilan luar bukan isinya.
PROGRAM HTR DAN PERKEMBANGANNYA
Coba kita lihat apa yang terjadi di sektor kehutanan, ketika kita memiliki program yang sangat pro rakyat seperti Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Pemerintah benar-benar berniat meningkatkan kesejahteraan petani hutan dengan memberi mereka akses terhadap pengelolaan sumberdaya hutan. Dalam kaitan ini pemerintah memberi akses kepada masyarakat. dalam hal ini rumah tangga dan kelompok rumah tangga, berupa akses terhadap lahan seluas 15 HA per keluarga. Untuk itu pemerintah telah menyisihkan kawasan hutan di daerah-daerah konsentrasi penduduk seluas 1,5 juta ha untuk program HTR dan menyiapkan kredit lunak untuk membangun hutan tanaman tersebut dengan membentuk lembaga keuangan yang disebut Badan Layanan Umum (BLU) di Kementerian Kehutanan. Lembaga keuangan BLU ini menyediakan untuk kegiatan biaya penanaman dengan plafond sebesar Rp. 8,5 juta untuk setiap Ha.
Program HTR tersebut telah berjalan dua tahun, teman2 di Kementerian Kehutanan telah bekerja sangat keras untuk mewujudkan HTR tersebut. Sampai saat ini, bulan September 2011, pencadangan dari Menteri Kehutanan mencapai 654,118 Ha, sementara ijin HTR yang dikeluarkan oleh 34 Bupati di seluruh Indonesia mencapai 144,054 Ha (9,6 % dari total area yang dialokasikan atau 22% dari pencadangan yang sudah dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan). Sementara ini akad kredit telah mencapai lebih kurang Rp. 30 Milyar sedangkan penyaluran kreditnya mencapai Rp 1,6 Milyar atau 5,2%.
Kalau kita lihat bahwa kebijakan pemerintah berorientasi pada tiga Pro yaitu Pro Growth, pro poor dan pro job, sekarang ditambah Pro lingkungan. Menjadi menarik ketika Kementerian Kehutanan melansir program yang pro rakyat, ternyata animo daerah kurang greget seperti ditunjukkan oleh rendahnya pencapaian pengembangan HTR setelah dua tahun berjalan, yaitu hanya 144 ribu Ha. Itupun baru dalam bentuk surat ijin Bupati dan belum berupa kegiatan riil penanaman hutan di tapak. Rendahnya animo daerah bisa disebabkan oleh berbagai faktor atau kemungkinan, pertama, pemahaman yang kurang atau belum merata mengenai konsep HTR sebagai leverage bagi upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat akibat sosialisasi yang belum optimal. Kedua, karena besarnya resiko kegagalan tanaman di lapangan karena berbagai faktor seperti kebakaran, perambahan, pencurian, hama penyakit dan sebagainya. Ketiga, manajemen dan biaya transaksi yang rumit, karena secara teoritis lebih mudah memberikan satu ijin dengan luasan 15.000 Ha daripada mengeluarkan ijin bagi 1000 keluarga yang masing-masingnya memperoleh ijin seluas 15 Ha.
PERLU TUNTAS
Ketika orang mempertanyakan mengapa capaiannya masih rendah, bisa saja pihak pusat menyatakan bahwa kami sudah berusaha keras tapi di daerah masih lambat prosesnya. Artinya, ketika pemerintah ingin mengimplementasi program yang baik sekalipun, akan tetapi daerah tidak meresponnya dengan baik karena berbagai alasan, maka program itu tidak akan dapat berjalan baik. Dan bahkan bukan mustahil gagal. Artinya harus ada sinergi antara pusat dan daerah.
Kalau kita belajar dari Wikileaks, maka seharusnya ketika pemerintah memiliki program semacam HTR dan harus berhasil, maka tanggung jawab dan peran pusat dan daerah harus terdefinisikan dengan jelas. Ketika pemerintah membuat aturan atau regulasi maka aturan yang mengikat semua pihak sangat penting untuk dibangu, oleh karena itu pusat dan daerah harus duduk bersama dengan semangat yang sama agar HTR berhasil. Dan menyusun aturan yang dapat diimplementasikan serta merupakan milik bersama (common ownership). Semangat saling menyalahkan akan terhindarkan dan yang timbul adalah semangat yang genuine untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja mewujudkan HTR yang mensejahterakan masyarakat. Segala sesuatu harus dibuat tuntas agar operasional.
Catatan kaki:
* Tanpa mengurangi rasa hormat, akibat kliping korannya belum saya temukan
kembali, sehingga tdak bisa mencantumkan nama penulis artikel di Financial
Times tersebut.
Ceritera kedua adalah soal MoU antara Indonesia dan Singapura mengenai ekstradisi. MoU sudah ditandatangani, tetapi kesepakatan itu ternyata tidak pernah bisa diimplementasikan, karena ternyata diluar MoU sebenarnya masih banyak hambatan2 aturan dan hukum di kedua negara yang harus disesuaikan dan diselesaikan untuk berjalannya MoU tersebut. Dan ini nampaknya tidak atau belum dilakukan oleh Indonesia yang lebih memiliki kepentingan, mengingat banyaknya orang Indonesia yang terlibat kasus dan bersembunyi di negeri singa itu. Tulis artikel tersebut, Indonesia lebih suka mencari popularitas pada tataran politik di permukaan, akan tetapi tidak serius menangani pelaksanaannya. Artinya kita tidak sabar untuk mengurus detail nya yang justru sebenarnya akan membuat MoU itu menjadi lebih operasional.
Benarkah penilaian itu? Jangan-jangan memang benar demikian adanya perangai kita ini. Senang memulai sesuatu yang baru, meluncurkan sesuatu, sesuatu yang fenomenal. Apakah itu bermanfaat atau tidak, kita sebagai penggagas tidak peduli, yang penting kita sudah melakukan sesuatu yang hebat. Akibatnya seringkali kita tidak menyiapkan tindak lanjutnya. Artinya kita sering memiliki keinginan, niat, atau cita-cita yang baik, tetapi kemudian tidak serius menindak lanjutinya. Sebenarnya Tukul Arwana sudah sering mengingatkan kita akan hal tersebut, menurut Tukul:" jangan sekali-kali menilai buku dari sampulnya, tapi lihat isinya." Kenyataannya kita ternyata lebih sering menghargai penampilan luar bukan isinya.
PROGRAM HTR DAN PERKEMBANGANNYA
Coba kita lihat apa yang terjadi di sektor kehutanan, ketika kita memiliki program yang sangat pro rakyat seperti Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Pemerintah benar-benar berniat meningkatkan kesejahteraan petani hutan dengan memberi mereka akses terhadap pengelolaan sumberdaya hutan. Dalam kaitan ini pemerintah memberi akses kepada masyarakat. dalam hal ini rumah tangga dan kelompok rumah tangga, berupa akses terhadap lahan seluas 15 HA per keluarga. Untuk itu pemerintah telah menyisihkan kawasan hutan di daerah-daerah konsentrasi penduduk seluas 1,5 juta ha untuk program HTR dan menyiapkan kredit lunak untuk membangun hutan tanaman tersebut dengan membentuk lembaga keuangan yang disebut Badan Layanan Umum (BLU) di Kementerian Kehutanan. Lembaga keuangan BLU ini menyediakan untuk kegiatan biaya penanaman dengan plafond sebesar Rp. 8,5 juta untuk setiap Ha.
Program HTR tersebut telah berjalan dua tahun, teman2 di Kementerian Kehutanan telah bekerja sangat keras untuk mewujudkan HTR tersebut. Sampai saat ini, bulan September 2011, pencadangan dari Menteri Kehutanan mencapai 654,118 Ha, sementara ijin HTR yang dikeluarkan oleh 34 Bupati di seluruh Indonesia mencapai 144,054 Ha (9,6 % dari total area yang dialokasikan atau 22% dari pencadangan yang sudah dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan). Sementara ini akad kredit telah mencapai lebih kurang Rp. 30 Milyar sedangkan penyaluran kreditnya mencapai Rp 1,6 Milyar atau 5,2%.
Kalau kita lihat bahwa kebijakan pemerintah berorientasi pada tiga Pro yaitu Pro Growth, pro poor dan pro job, sekarang ditambah Pro lingkungan. Menjadi menarik ketika Kementerian Kehutanan melansir program yang pro rakyat, ternyata animo daerah kurang greget seperti ditunjukkan oleh rendahnya pencapaian pengembangan HTR setelah dua tahun berjalan, yaitu hanya 144 ribu Ha. Itupun baru dalam bentuk surat ijin Bupati dan belum berupa kegiatan riil penanaman hutan di tapak. Rendahnya animo daerah bisa disebabkan oleh berbagai faktor atau kemungkinan, pertama, pemahaman yang kurang atau belum merata mengenai konsep HTR sebagai leverage bagi upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat akibat sosialisasi yang belum optimal. Kedua, karena besarnya resiko kegagalan tanaman di lapangan karena berbagai faktor seperti kebakaran, perambahan, pencurian, hama penyakit dan sebagainya. Ketiga, manajemen dan biaya transaksi yang rumit, karena secara teoritis lebih mudah memberikan satu ijin dengan luasan 15.000 Ha daripada mengeluarkan ijin bagi 1000 keluarga yang masing-masingnya memperoleh ijin seluas 15 Ha.
PERLU TUNTAS
Ketika orang mempertanyakan mengapa capaiannya masih rendah, bisa saja pihak pusat menyatakan bahwa kami sudah berusaha keras tapi di daerah masih lambat prosesnya. Artinya, ketika pemerintah ingin mengimplementasi program yang baik sekalipun, akan tetapi daerah tidak meresponnya dengan baik karena berbagai alasan, maka program itu tidak akan dapat berjalan baik. Dan bahkan bukan mustahil gagal. Artinya harus ada sinergi antara pusat dan daerah.
Kalau kita belajar dari Wikileaks, maka seharusnya ketika pemerintah memiliki program semacam HTR dan harus berhasil, maka tanggung jawab dan peran pusat dan daerah harus terdefinisikan dengan jelas. Ketika pemerintah membuat aturan atau regulasi maka aturan yang mengikat semua pihak sangat penting untuk dibangu, oleh karena itu pusat dan daerah harus duduk bersama dengan semangat yang sama agar HTR berhasil. Dan menyusun aturan yang dapat diimplementasikan serta merupakan milik bersama (common ownership). Semangat saling menyalahkan akan terhindarkan dan yang timbul adalah semangat yang genuine untuk bekerja sama dan sama-sama bekerja mewujudkan HTR yang mensejahterakan masyarakat. Segala sesuatu harus dibuat tuntas agar operasional.
Catatan kaki:
* Tanpa mengurangi rasa hormat, akibat kliping korannya belum saya temukan
kembali, sehingga tdak bisa mencantumkan nama penulis artikel di Financial
Times tersebut.
Sabtu, 10 September 2011
Jawaban untuk Indonesia yang Lebih Baik: SDM
Semua orang tahu bahwa Indonesia dikaruniai bermacam kekayaan sumber alam yang luar biasa, beraneka tambang, hutan dengan keragaman hayatinya, lautan luas dengan kekayaan laut dan marinanya. Tapi orangpun tahu pengelolaan sumberdaya alamnya, sampai saat ini, belum mendatangkan sebesar-besarnya kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam konsitusi kita.Potensi untuk menjadi negara besar dan kaya belum termanfaatkan secara optimal, bahkan saat ini kita masih banyak tergantung pada utang untuk menggerakkan roda pembangunan ekonominya.
Pendapatan kotor nasional kita (GNP) pada tahun 2010 masih sekitar 3.000 US$ per kepala per tahun sementara tetangga kita Malaysia sudah mencapai 10.000 US$ dan bahkan Singapura mencapai 23.000 US$. Kalau kita lihat, ternyata Singapura yang tidak memiliki kekayaan sumberdaya alam justru menjadi salah satu negara kaya. Singapura berkembang melalui bisnis jasa, jasa perdagangan sebagai pelabuhan transit, hub udara, jasa keuangan dan produk jasa lainnya. Dan bisnis jasa ini jelas memerlukan kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang handal. Dan disinilah sesungguhnya kekuatan Singapura. Bisa kita bayangkan andaikan kita bisa memadukan dua faktor yaitu kekayaan sumberdaya alam dengan kemampuan SDM, carut marut yang kita hadapi akan dapat kita atasi dan cita-cita untuk menjadi negara yang sejahtera bukan merupakan suatu ilusi.
PROSES KONTINYU VS POTONG GENERASI
Kita mengalami berbagai periode mulai jaman yang kita sebut orde lama, kemudian menjadi orde baru yang dimulai tahun 1967an, lalu muncul orde reformasi ditahun 1990an sampai saat ini. Harus kita akui banyak perbaikan dan capaian positif yang telah dicapai seperti meningkatnya GNP, stabilitas ekonomi, iklim politik yang lebih demokratis, fasilitas umum, kesehatan dan pendidikan yang berkembang. Namun demikian kitapun masih menengarai besarnya disparitas antar kelompok dan wilayah, tingkat kemiskinan yang relatif tinggi, akses terhadapat fasilitas kesehatan dan pendidikan yang belum merata, kepemerintahan yang belum baik sebagaimana ditunjukkan oleh masih tingginya penyelewengan keuangan negara, kinerja yag belum optimal, disiplin dan etos kerja yang masih perlu ditingkatkan dan masalah--masalah lainnya yang masih menjadi pekerjaan rumah kita.
Banyak yang berpikir untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan mengganti secara total pengelola negara atau pemerintah dengan memilih generasi baru yang lebih fresh dan belum terkontaminasi. Generasi tua sebaiknya secara legowo menyerahkan pada generasi yng lebih muda, idelaisme dan pandai. Ide ini yang sering disebut ide potong generasi, sehingga kelemahan-kelemahan yang ditimbulkan dan atau dimiliki oleh generasi sebelumnya tidak perlu diulang dan kita bisa memulai dengan susuatu yang baru.
Pertanyaannya adalah mungkinkah itu dilakukan? dan Bagaimana melakukannya? Ide tersebut nampaknya bagus,tapi mari kita lebih realistis melihatnya dengan berguru pada pengalaman yang telah kita lewati. Hidup ini bukanlah sesuatu yang diskrit, tapi ia adalah sesuatu yang kontinyu, alih pengetahuan ketrampilan dan pengalaman dari satu generasi ke generasi berjalan melalui proses ajar dalam lingkungan atau milliu dimana kita hidup dan berinteraksi secara sosial. Ada dua aspek yang minimal harus kita lihat manakala kita bicara SDM. Pertama adalah karakter, kedua adalah ketrampilan atau kompetensi. Karakter pada dasarnya diturunkan secara genetik walaupun pada perjalannya akan pula dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan. Sementara itu ketrampilan dan kompetensi pada dasarnya dapat dipelajari.
Pengalaman menunjukkan bahwa banyak tokoh pergerakan dan tokoh mahasiswa yang sangat ideal pada masanya, ternyata kemudian kehilangan orientasi dan terjebak mengikuti sistem yang sudah ada. Mereka tidak berhasil merubah sistem, bahkan larut dalam sistem yang pada awalnya mereka kritisi. Proses ini terjadi pada semua lapisan kekuasaan, eksekutif, legislatif dan judikatif. Bagaimana susahnya melakukan reformasi birokrasi sudah sama-sama kita ketahui. Remunerasi yang dicobakan pada beberapa kementerian nampaknya belum berhasil secara optimal, pelanggaranan aturan dan penyelewengan anggaran masih terjadi. Tentu bukan karena remunerasinya, tetapi lebih karena indikator keberhasilan lembaga dan individu yang tidak jelas beserta mekanisme pengawasan yang tidak berjalan dengan baik merupakan penyebab belum berjalannya reformasi tersebut sebagaimana kita inginkan. Berita di media masa media elektronika memberi gambaran mengenai kualitas governance yang belum baik.
Ketika parlemen diisi oleh generasi yang lebih muda dan lebih berkualitas dari segi latar belakang pendidikan di tahun 2009, ekspektasi bahwa lembaga ini bisa melakukan politik anggaranyang baik sangat tinggi. Bagaimanapun ketika hak anggaran tidak lagi ada pada tangan Bappenas, tapi ada di DPR melalui Hak Budgetnya. Maka harapan bahwa alokasi sumberdaya akan berjalan secara efisien ditumpahkan pada pundak lembaga ini. Kualitas Pemilu 2009 yang lebih baik daripada 2004 antara lain dicirikan dengan semakin matangnya partai mempersiapkan kader berkualitas untuk menjadi wakil rakyat pada lembaga ini. Faktanya, ternyata alokasi sumberdaya secara efisien tidak berjalan sebagaimana mestinya dan tidak lebih baik dari pada periode sebelumnya. Kepentingan partai dan kelompok lebih kuat dari pada kepentingan rakyat yang notabene diwakilinya dan ini mempengaruhi efsiensi dan efektivitas alokasi anggaran pembangunan.
Dalam bidang judikatif fenomena yang sama juga ditemui.Kita bisa melihat sebagaimana banyak disampaikan melalui media betapa mafia peradilan, mafia kasus masih merajalela dan ini membuat penagakan hukum menjadi bias,belum berkeadilan dan belum optimal. Tanpa dukungan tim penegak hukum dengan kualitas yang baik dan bersih serta jumlah yang memadai, penegakan hukum sulit dilakukan secara benar dan berkeadilan dan tidak memihak. Kondisi ini, tanpa ketegasan pimpinan, akan menular dari generasi ke generasi tanpa bisa dicegah. Dari uraian ringkas ini dapat disimpulkan bahwa ada kontinuitas dalam proses transfer karakter dan ketrampilan dari satu ke lain generasi. Dengan demikian ide memotong generasi yang dilakukan dengan memangkas generasi yang lebih tua yang tidak bersih dan tidak baik melalui pemilihan atau penetapan generasi pimpinan baru, yangdiharapkan akan lebih baik dam lebih bersih, nampaknya sulit diterapkan ketika transfer perilaku juga terus terjadi secara kontinyu.
Kualitas SDM dan Critical Mass
Jelas bahwa perlu ada alternatif lain selain potong generasi yang nampaknya mustahil. Alternatifnya adalah membangun massa kritikal berkualitas dalam jumlah cukup untuk mempengaruhi warna pembangunan bangsa ke depan. Jumlah yang cukup ini akan menguntungkan karena antara lain: (1). Memudahkan proses implementasi pembangunan yang ideal, karena semua individu relatif memiliki visi, pengalaman dan budaya kerja yang sama; (2). Mampu mengurangi biaya transaksi karena komunikasi diantara mereka menjadi mudah;(3). Terjadi saling memperkuat (self empowering) dan saling mengawasi(self controlling) diantara mereka.
Pendekatan dalam membangun massa kritis perlu dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: Pertama, mengirim sebanyak-banyaknya mahasiswa ke luar negeri untuk program master dan doktor adalah melalui program. Kelompok ini diharapkan kelak akan menjadi pemimpin pada semua kelompok masyarakat baik pada sektor pemerintah, swasta maupun masyarakat. Lulusan baru perguruan tinggi (fresh graduates) yang diprioritaskan untuk diberangkatkan karena alasan masih panjang usia produktifnya, masih segar dan masih relatif lebih mampu bersaing. Andaikan kita bisa mengirim setiap tahunnya minimal 10 ribu siswa ke luar negeri, dan bila program ini dijalankan selama 10 tahun berturut-turut, maka dalam 5 tahun pertama kita akan memiliki 10 ribu orang dengan sekurang-kurangnya bergelar master dan pada akhir program, yaitu pada tahun ke 15 kita memiliki 100 ribu master dan doktor. Jumlah ini dirasakan cukup memadai untuk kemudian menempati tempat-tempat yang strategis yaitu tempat atau posisi-posisi yang daya pengungkitnya cukup tinggi baik di pemerintahan maupun di swasta.
Pengiriman mahasiswa keluarga negeri sangat perlu untuk membangun nilai dan memperluas cakrawala pandang yang akan mampu melihat persoalan negeri secara lebih jernih dan obyektif. Dengan demikian diharapkan terobosan-terobosan untuk mengatasi kemacetan dan kemandegan pembangunan dapat dilakukan. Sebagaimana seseorang yang selalu di dalam hutan ia hanya akan mengenal pohon dan mungkin tidak pernah mengenal hutan. Tetapi kalau di keluar dari lingkungannya dan naik ke atas semisal naik helikopter ia akan mampu melihat hutan dan kondisi hutan nya dengan lebih baik. Studi banding yang sering dilakukan, mungkin hanya memperoleh pengalaman fisik tetapi belum tentu mengalami pencerahan nilai dan rasa. Dan inilah penting bahwa untuk pendidikan sampai tingkat doktoral, perlu minimal dalam salah satu tahapan nya apakah itu master atau doktor untuk keluar dari negaranya atau kampusnya.
Pengiriman mahasiswa keluar negeri, terutama pada umur-umur muda juga memiliki resiko yang besar, karena lebih memberi peluang bagi timbulnya masalah tidak ingin pulang pada sebagian mahasiswa, karena berbagai alasan. Mendapat pekerjaan yang lebih baik, kawin dengan penduduk setempat, tidak selesai sekolahnya dan memilih bekerja dan seterusnya. Taruhlah 50% persen tak ingin kembali artinya ada 50 ribu yang menetap di luar negeri, hal ini pun tidak sepenuhnya merugikan. Dalam jangka panjang, hal itu bisa menguntungkan, karena mereka akan menjadi pasar produk-produk Indonesia dan sekaligus sebagai agen promosi produk-produknya. Makanan, buah-buahan, tekstil, garmen, film, furniture, barang kerajinan serta produk-produk lain dari Indonesia. Lihatlah film-film bolywood bisa masuk pasaran di London, karena warga negara Inggris keturunan India jumlahnya cukup untuk membangun pasar dan menjadi pemicu permintaan film India di kalangan penduduk asli Inggris.
Walaupun mereka yang enggan pulang karena lebih memilih untuk beralih warga negara karena berbagai alasan, jiwa indonesia nya akan tetap ada dan terpelihara. Lihat lah masyarakat Jawa di Suriname kecintaan nya terhadap tanah jawa masih tetap tinggi sekali. Lihat juga keturunan India yang menduduki posisi tinggi di negara-negara maju baik di pemerintahan, perguruan tinggi, swasta dsb bersepakat untuk membangun fasilitas kesehatan di India dan dokter2 terkenal turunan India sepakat untuk bekerja di RS itu secara bergantian. Lihat berapa jumlah kiriman warga negara Filipina, India dst ke negara nya. Lihat juga remittance TKW ke Indonesia. Jumlahnya cukup besar dan bisa ikut menggerakkan ekonomi di negaranya masing-masing.
Nampaknya kita harus mulai mendefinisikan kembali arti nasionalisme. Lihatlah tenaga kerja kita yang bekerja di luar negeri bisa menjadi duta bangsa memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Apalagi bila mereka adalah tenaga kerja terlatih berkeahlian. (masih akan disambung)
Pendapatan kotor nasional kita (GNP) pada tahun 2010 masih sekitar 3.000 US$ per kepala per tahun sementara tetangga kita Malaysia sudah mencapai 10.000 US$ dan bahkan Singapura mencapai 23.000 US$. Kalau kita lihat, ternyata Singapura yang tidak memiliki kekayaan sumberdaya alam justru menjadi salah satu negara kaya. Singapura berkembang melalui bisnis jasa, jasa perdagangan sebagai pelabuhan transit, hub udara, jasa keuangan dan produk jasa lainnya. Dan bisnis jasa ini jelas memerlukan kualitas sumberdaya manusia (SDM) yang handal. Dan disinilah sesungguhnya kekuatan Singapura. Bisa kita bayangkan andaikan kita bisa memadukan dua faktor yaitu kekayaan sumberdaya alam dengan kemampuan SDM, carut marut yang kita hadapi akan dapat kita atasi dan cita-cita untuk menjadi negara yang sejahtera bukan merupakan suatu ilusi.
PROSES KONTINYU VS POTONG GENERASI
Kita mengalami berbagai periode mulai jaman yang kita sebut orde lama, kemudian menjadi orde baru yang dimulai tahun 1967an, lalu muncul orde reformasi ditahun 1990an sampai saat ini. Harus kita akui banyak perbaikan dan capaian positif yang telah dicapai seperti meningkatnya GNP, stabilitas ekonomi, iklim politik yang lebih demokratis, fasilitas umum, kesehatan dan pendidikan yang berkembang. Namun demikian kitapun masih menengarai besarnya disparitas antar kelompok dan wilayah, tingkat kemiskinan yang relatif tinggi, akses terhadapat fasilitas kesehatan dan pendidikan yang belum merata, kepemerintahan yang belum baik sebagaimana ditunjukkan oleh masih tingginya penyelewengan keuangan negara, kinerja yag belum optimal, disiplin dan etos kerja yang masih perlu ditingkatkan dan masalah--masalah lainnya yang masih menjadi pekerjaan rumah kita.
Banyak yang berpikir untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan mengganti secara total pengelola negara atau pemerintah dengan memilih generasi baru yang lebih fresh dan belum terkontaminasi. Generasi tua sebaiknya secara legowo menyerahkan pada generasi yng lebih muda, idelaisme dan pandai. Ide ini yang sering disebut ide potong generasi, sehingga kelemahan-kelemahan yang ditimbulkan dan atau dimiliki oleh generasi sebelumnya tidak perlu diulang dan kita bisa memulai dengan susuatu yang baru.
Pertanyaannya adalah mungkinkah itu dilakukan? dan Bagaimana melakukannya? Ide tersebut nampaknya bagus,tapi mari kita lebih realistis melihatnya dengan berguru pada pengalaman yang telah kita lewati. Hidup ini bukanlah sesuatu yang diskrit, tapi ia adalah sesuatu yang kontinyu, alih pengetahuan ketrampilan dan pengalaman dari satu generasi ke generasi berjalan melalui proses ajar dalam lingkungan atau milliu dimana kita hidup dan berinteraksi secara sosial. Ada dua aspek yang minimal harus kita lihat manakala kita bicara SDM. Pertama adalah karakter, kedua adalah ketrampilan atau kompetensi. Karakter pada dasarnya diturunkan secara genetik walaupun pada perjalannya akan pula dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan. Sementara itu ketrampilan dan kompetensi pada dasarnya dapat dipelajari.
Pengalaman menunjukkan bahwa banyak tokoh pergerakan dan tokoh mahasiswa yang sangat ideal pada masanya, ternyata kemudian kehilangan orientasi dan terjebak mengikuti sistem yang sudah ada. Mereka tidak berhasil merubah sistem, bahkan larut dalam sistem yang pada awalnya mereka kritisi. Proses ini terjadi pada semua lapisan kekuasaan, eksekutif, legislatif dan judikatif. Bagaimana susahnya melakukan reformasi birokrasi sudah sama-sama kita ketahui. Remunerasi yang dicobakan pada beberapa kementerian nampaknya belum berhasil secara optimal, pelanggaranan aturan dan penyelewengan anggaran masih terjadi. Tentu bukan karena remunerasinya, tetapi lebih karena indikator keberhasilan lembaga dan individu yang tidak jelas beserta mekanisme pengawasan yang tidak berjalan dengan baik merupakan penyebab belum berjalannya reformasi tersebut sebagaimana kita inginkan. Berita di media masa media elektronika memberi gambaran mengenai kualitas governance yang belum baik.
Ketika parlemen diisi oleh generasi yang lebih muda dan lebih berkualitas dari segi latar belakang pendidikan di tahun 2009, ekspektasi bahwa lembaga ini bisa melakukan politik anggaranyang baik sangat tinggi. Bagaimanapun ketika hak anggaran tidak lagi ada pada tangan Bappenas, tapi ada di DPR melalui Hak Budgetnya. Maka harapan bahwa alokasi sumberdaya akan berjalan secara efisien ditumpahkan pada pundak lembaga ini. Kualitas Pemilu 2009 yang lebih baik daripada 2004 antara lain dicirikan dengan semakin matangnya partai mempersiapkan kader berkualitas untuk menjadi wakil rakyat pada lembaga ini. Faktanya, ternyata alokasi sumberdaya secara efisien tidak berjalan sebagaimana mestinya dan tidak lebih baik dari pada periode sebelumnya. Kepentingan partai dan kelompok lebih kuat dari pada kepentingan rakyat yang notabene diwakilinya dan ini mempengaruhi efsiensi dan efektivitas alokasi anggaran pembangunan.
Dalam bidang judikatif fenomena yang sama juga ditemui.Kita bisa melihat sebagaimana banyak disampaikan melalui media betapa mafia peradilan, mafia kasus masih merajalela dan ini membuat penagakan hukum menjadi bias,belum berkeadilan dan belum optimal. Tanpa dukungan tim penegak hukum dengan kualitas yang baik dan bersih serta jumlah yang memadai, penegakan hukum sulit dilakukan secara benar dan berkeadilan dan tidak memihak. Kondisi ini, tanpa ketegasan pimpinan, akan menular dari generasi ke generasi tanpa bisa dicegah. Dari uraian ringkas ini dapat disimpulkan bahwa ada kontinuitas dalam proses transfer karakter dan ketrampilan dari satu ke lain generasi. Dengan demikian ide memotong generasi yang dilakukan dengan memangkas generasi yang lebih tua yang tidak bersih dan tidak baik melalui pemilihan atau penetapan generasi pimpinan baru, yangdiharapkan akan lebih baik dam lebih bersih, nampaknya sulit diterapkan ketika transfer perilaku juga terus terjadi secara kontinyu.
Kualitas SDM dan Critical Mass
Jelas bahwa perlu ada alternatif lain selain potong generasi yang nampaknya mustahil. Alternatifnya adalah membangun massa kritikal berkualitas dalam jumlah cukup untuk mempengaruhi warna pembangunan bangsa ke depan. Jumlah yang cukup ini akan menguntungkan karena antara lain: (1). Memudahkan proses implementasi pembangunan yang ideal, karena semua individu relatif memiliki visi, pengalaman dan budaya kerja yang sama; (2). Mampu mengurangi biaya transaksi karena komunikasi diantara mereka menjadi mudah;(3). Terjadi saling memperkuat (self empowering) dan saling mengawasi(self controlling) diantara mereka.
Pendekatan dalam membangun massa kritis perlu dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: Pertama, mengirim sebanyak-banyaknya mahasiswa ke luar negeri untuk program master dan doktor adalah melalui program. Kelompok ini diharapkan kelak akan menjadi pemimpin pada semua kelompok masyarakat baik pada sektor pemerintah, swasta maupun masyarakat. Lulusan baru perguruan tinggi (fresh graduates) yang diprioritaskan untuk diberangkatkan karena alasan masih panjang usia produktifnya, masih segar dan masih relatif lebih mampu bersaing. Andaikan kita bisa mengirim setiap tahunnya minimal 10 ribu siswa ke luar negeri, dan bila program ini dijalankan selama 10 tahun berturut-turut, maka dalam 5 tahun pertama kita akan memiliki 10 ribu orang dengan sekurang-kurangnya bergelar master dan pada akhir program, yaitu pada tahun ke 15 kita memiliki 100 ribu master dan doktor. Jumlah ini dirasakan cukup memadai untuk kemudian menempati tempat-tempat yang strategis yaitu tempat atau posisi-posisi yang daya pengungkitnya cukup tinggi baik di pemerintahan maupun di swasta.
Pengiriman mahasiswa keluarga negeri sangat perlu untuk membangun nilai dan memperluas cakrawala pandang yang akan mampu melihat persoalan negeri secara lebih jernih dan obyektif. Dengan demikian diharapkan terobosan-terobosan untuk mengatasi kemacetan dan kemandegan pembangunan dapat dilakukan. Sebagaimana seseorang yang selalu di dalam hutan ia hanya akan mengenal pohon dan mungkin tidak pernah mengenal hutan. Tetapi kalau di keluar dari lingkungannya dan naik ke atas semisal naik helikopter ia akan mampu melihat hutan dan kondisi hutan nya dengan lebih baik. Studi banding yang sering dilakukan, mungkin hanya memperoleh pengalaman fisik tetapi belum tentu mengalami pencerahan nilai dan rasa. Dan inilah penting bahwa untuk pendidikan sampai tingkat doktoral, perlu minimal dalam salah satu tahapan nya apakah itu master atau doktor untuk keluar dari negaranya atau kampusnya.
Pengiriman mahasiswa keluar negeri, terutama pada umur-umur muda juga memiliki resiko yang besar, karena lebih memberi peluang bagi timbulnya masalah tidak ingin pulang pada sebagian mahasiswa, karena berbagai alasan. Mendapat pekerjaan yang lebih baik, kawin dengan penduduk setempat, tidak selesai sekolahnya dan memilih bekerja dan seterusnya. Taruhlah 50% persen tak ingin kembali artinya ada 50 ribu yang menetap di luar negeri, hal ini pun tidak sepenuhnya merugikan. Dalam jangka panjang, hal itu bisa menguntungkan, karena mereka akan menjadi pasar produk-produk Indonesia dan sekaligus sebagai agen promosi produk-produknya. Makanan, buah-buahan, tekstil, garmen, film, furniture, barang kerajinan serta produk-produk lain dari Indonesia. Lihatlah film-film bolywood bisa masuk pasaran di London, karena warga negara Inggris keturunan India jumlahnya cukup untuk membangun pasar dan menjadi pemicu permintaan film India di kalangan penduduk asli Inggris.
Walaupun mereka yang enggan pulang karena lebih memilih untuk beralih warga negara karena berbagai alasan, jiwa indonesia nya akan tetap ada dan terpelihara. Lihat lah masyarakat Jawa di Suriname kecintaan nya terhadap tanah jawa masih tetap tinggi sekali. Lihat juga keturunan India yang menduduki posisi tinggi di negara-negara maju baik di pemerintahan, perguruan tinggi, swasta dsb bersepakat untuk membangun fasilitas kesehatan di India dan dokter2 terkenal turunan India sepakat untuk bekerja di RS itu secara bergantian. Lihat berapa jumlah kiriman warga negara Filipina, India dst ke negara nya. Lihat juga remittance TKW ke Indonesia. Jumlahnya cukup besar dan bisa ikut menggerakkan ekonomi di negaranya masing-masing.
Nampaknya kita harus mulai mendefinisikan kembali arti nasionalisme. Lihatlah tenaga kerja kita yang bekerja di luar negeri bisa menjadi duta bangsa memperkenalkan Indonesia ke seluruh dunia. Apalagi bila mereka adalah tenaga kerja terlatih berkeahlian. (masih akan disambung)
Selasa, 26 Juli 2011
FAO "TERNYATA" BUKAN UNTUK KITA
Setelah melalui proses panjang pencalonan Direktur Jenderal FAO, akhirnya sampai juga ke hari penentuan yaitu Pemilu Dirjen yang dinanti-nanti. Itu terjadi pada hari Selasa, 26 Juni 2011. Pada putaran pertama, kandidat Indonesia mendapat 13 suara, sementara Spanyol dan Brasil memperoleh angka di atas 70 suara, sementara Austria, Iran dan Irak mendapat suara lebih kecil dari perolehan Indonesia. Kenyataan ini membuat kubu Indonesia memutuskan untuk mundur dan mengalihkan suaranya untuk kandidat dari Brasil. Pada putaran kedua, Brasil menang tipis dari Spanyol, dengan demikian kandidat Dirjen dari Brasil, resmi menjadi Dirjen FAO yang baru yang akan memulai jabatannya pada bulan Januari 2012. Optimisme di kubu Indonesia ternyata tidak menjadi kenyataan. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi?
KANDIDAT DAN KRITERIA FAO
Ada enam kandidat yang mengajukan diri sebagai calon Dirjen FAO, yaitu dari Indonesia, Iran, Iran, Brasil, Austria dan Spanyol. Latar belakang kandidat antara lain untuk Brasil, Austria dan Spanyol adalah mantan Menteri. Selainnya seperti Iran,Irak dan Indonesia adalah setingkat dirjen. Kandidat Indonesia adalah Eselon I yang masih aktif, sementara kandidat lainnya adalah para mantan pejabat. Berbeda dengan Indonesia, kandidat lainnya pada umumnya familiar dan pernah berasosiasi dengan FAO dan umumnya mereka secara langsung pernah berkiprah dalam kegiatan dibidang pertanian di negaranya masing-masing.
FAO adalah organisasi internasional yang sudah lama berdiri yang mendedikasikan dirinya untuk kemajuan bidang pertanian secara umum bagi kemaslahatan anggota dan umat manusia secara umum. Pada saat ini lembaga ini merasakan perlunya melakukan reformasi internal agar lebih mampu merespon dinamika perkembangan dunia. Masalah kemiskinan dan pangan adalah dua topik besar yang akan selalu menjadi bisnis yang mereka tangani. Dari sisi ini, disamping kriteria yang dijadikan dasar formal pemilihan kandidat, saya lihat ada dua point besar yang dijadikan kriteria penting calon Dirjen baru. Pertama, kandidat tersebut tentu diharapkan memiliki kompetensi di bidang pertanian. Bukan terlalu latar belakang pendidikan pertanian yang nampaknya menjadi penting disini, akan tetapi lebih pada pengalaman dan 'success story' dalam menangani masalah-masalah pertanian.
Kedua, dalam organisasi lama yang sudah "established" selalu ada kecenderungan untuk mempertahankan status quo, kalaupun ada keinginan berubah tentu perubahan yang tidak akan merubah total organisasi tersebut. Oleh karena itu kecenderungan untuk memilih orang-orang yang dikenal oleh organisasi tersebut dan dikenal oleh orang-orang di dalam organisasi tersebut, nampaknya menjadi sangat kuat. Teori menghindar dari resiko "risks avoider" nampaknya menjadi semangat yang cukup kuat didalam arena pemilihan kandidat tersebut.
LANGKAH KEDEPAN YANG REALISTIS
Nampaknya kita perlu punya rencana jangka panjang untuk pengisian jabatan2 pada organisasi internasional tersebut. Kesan pendadakan harus sangat dihindari. Pemetaan kekuatan, pesaing dan posisi yang strategis untuk diisi sangat diperlukan.
Kedua, pengkaderan calon-calon perlu dilakukan, diperkuat dan dipantau. Program pengisian ini harus menjadi kebijakan nasional, sehingga penempatan kader pada posisi dimorganisasi internasional harus diperhitungkan sebagai penugasan yang masuk dalam kerangka jenjang karier kepegawaian. Penguatan kader, selain substansi dan managemen, juga kemampuan berbahasa asing perlu diperkaya. Kemampuan berbahasa Inggris saja tidaklah memadai, kader harus memilki kemampuan berbahasa internasional resmi lainnya, sekurang-kurangnya satu bahasa di luar Inggris, seperti Prancis, Spanyol, China, Arab dan Rusia.
Ketiga, pembimbingan dari senior sangat diperlukan. Kemampuan bernegosiasi melalui penugasan pada sidang-sidang internasional dengan pengawasan dan bimbingan diplomat dan para senior. Kegiatan pembimbingan perlu dikaukan untuk mematangkan kader-kader kita. Cara-cara Brasil menempa kader-kadernya perlu ditiru.
Keempat, koordinasi internal antar sektor perlu dibangun sehingga penjaringan calon dapat dilakukan secara optimal. Sektor melalui kegiatan pembinaan internal dapat menyiapkan kadernya yang kemudian dikonsultasikan dan dikoordinasikan oleh Kementerian Luar Negeri.
Kelima, penjajagan diplomasi melalui upaya pemnbinaan kerjasama jangka panjang perlu dilakukan untuk membangun rekan yang loyal. Penggalangan melalui Kelompok G-77 Plus China dan Jepang perlu dilakukan. Kerjasana selatan-selatan perlu dibangun. Dalam kasus pemilihan Dirjen FAO yang baru lalu, kita melihat betapa kuatnya pengaruh Brasil di Afrika, melalui berbagai bantuan dan kerjasama teknis yang dirancang sejak lama oleh pemerintah Brasil. Suara Afrika jelas masuk ke kandidat Brasil. Kita memiliki peluang untuk melakukan kerjasama dengan negara-negara Pacific melalui pendidikan dan bantuan teknis. Kehutanan saat ini memiliki kerjasama dengan Republik Timor Leste dan bukan mustahil kita bisa memperluas kerjasama ini dengan negara-negara PNG, Fiji, Vanuatu, Tonga, Samoa dan sebagainya. Masalahnya, apakah kita serius untuk memiliki program internasional yang lebih po aktif dan 'high profile'?
KANDIDAT DAN KRITERIA FAO
Ada enam kandidat yang mengajukan diri sebagai calon Dirjen FAO, yaitu dari Indonesia, Iran, Iran, Brasil, Austria dan Spanyol. Latar belakang kandidat antara lain untuk Brasil, Austria dan Spanyol adalah mantan Menteri. Selainnya seperti Iran,Irak dan Indonesia adalah setingkat dirjen. Kandidat Indonesia adalah Eselon I yang masih aktif, sementara kandidat lainnya adalah para mantan pejabat. Berbeda dengan Indonesia, kandidat lainnya pada umumnya familiar dan pernah berasosiasi dengan FAO dan umumnya mereka secara langsung pernah berkiprah dalam kegiatan dibidang pertanian di negaranya masing-masing.
FAO adalah organisasi internasional yang sudah lama berdiri yang mendedikasikan dirinya untuk kemajuan bidang pertanian secara umum bagi kemaslahatan anggota dan umat manusia secara umum. Pada saat ini lembaga ini merasakan perlunya melakukan reformasi internal agar lebih mampu merespon dinamika perkembangan dunia. Masalah kemiskinan dan pangan adalah dua topik besar yang akan selalu menjadi bisnis yang mereka tangani. Dari sisi ini, disamping kriteria yang dijadikan dasar formal pemilihan kandidat, saya lihat ada dua point besar yang dijadikan kriteria penting calon Dirjen baru. Pertama, kandidat tersebut tentu diharapkan memiliki kompetensi di bidang pertanian. Bukan terlalu latar belakang pendidikan pertanian yang nampaknya menjadi penting disini, akan tetapi lebih pada pengalaman dan 'success story' dalam menangani masalah-masalah pertanian.
Kedua, dalam organisasi lama yang sudah "established" selalu ada kecenderungan untuk mempertahankan status quo, kalaupun ada keinginan berubah tentu perubahan yang tidak akan merubah total organisasi tersebut. Oleh karena itu kecenderungan untuk memilih orang-orang yang dikenal oleh organisasi tersebut dan dikenal oleh orang-orang di dalam organisasi tersebut, nampaknya menjadi sangat kuat. Teori menghindar dari resiko "risks avoider" nampaknya menjadi semangat yang cukup kuat didalam arena pemilihan kandidat tersebut.
LANGKAH KEDEPAN YANG REALISTIS
Nampaknya kita perlu punya rencana jangka panjang untuk pengisian jabatan2 pada organisasi internasional tersebut. Kesan pendadakan harus sangat dihindari. Pemetaan kekuatan, pesaing dan posisi yang strategis untuk diisi sangat diperlukan.
Kedua, pengkaderan calon-calon perlu dilakukan, diperkuat dan dipantau. Program pengisian ini harus menjadi kebijakan nasional, sehingga penempatan kader pada posisi dimorganisasi internasional harus diperhitungkan sebagai penugasan yang masuk dalam kerangka jenjang karier kepegawaian. Penguatan kader, selain substansi dan managemen, juga kemampuan berbahasa asing perlu diperkaya. Kemampuan berbahasa Inggris saja tidaklah memadai, kader harus memilki kemampuan berbahasa internasional resmi lainnya, sekurang-kurangnya satu bahasa di luar Inggris, seperti Prancis, Spanyol, China, Arab dan Rusia.
Ketiga, pembimbingan dari senior sangat diperlukan. Kemampuan bernegosiasi melalui penugasan pada sidang-sidang internasional dengan pengawasan dan bimbingan diplomat dan para senior. Kegiatan pembimbingan perlu dikaukan untuk mematangkan kader-kader kita. Cara-cara Brasil menempa kader-kadernya perlu ditiru.
Keempat, koordinasi internal antar sektor perlu dibangun sehingga penjaringan calon dapat dilakukan secara optimal. Sektor melalui kegiatan pembinaan internal dapat menyiapkan kadernya yang kemudian dikonsultasikan dan dikoordinasikan oleh Kementerian Luar Negeri.
Kelima, penjajagan diplomasi melalui upaya pemnbinaan kerjasama jangka panjang perlu dilakukan untuk membangun rekan yang loyal. Penggalangan melalui Kelompok G-77 Plus China dan Jepang perlu dilakukan. Kerjasana selatan-selatan perlu dibangun. Dalam kasus pemilihan Dirjen FAO yang baru lalu, kita melihat betapa kuatnya pengaruh Brasil di Afrika, melalui berbagai bantuan dan kerjasama teknis yang dirancang sejak lama oleh pemerintah Brasil. Suara Afrika jelas masuk ke kandidat Brasil. Kita memiliki peluang untuk melakukan kerjasama dengan negara-negara Pacific melalui pendidikan dan bantuan teknis. Kehutanan saat ini memiliki kerjasama dengan Republik Timor Leste dan bukan mustahil kita bisa memperluas kerjasama ini dengan negara-negara PNG, Fiji, Vanuatu, Tonga, Samoa dan sebagainya. Masalahnya, apakah kita serius untuk memiliki program internasional yang lebih po aktif dan 'high profile'?
Selasa, 17 Mei 2011
ILIR ILIR
lir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
(BI) Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
(MS) Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun
dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang
telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah
kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam
dari para wali.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
BI) Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
( MS) Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini
digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang
melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.
Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
(BI) Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
(MS) Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan
belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima
rukun Islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan
oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan
menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima
rukun Islam dan sholat lima waktu.
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
(MS) Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya
digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah
belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan
sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap
awet. Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam
untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima
waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu
diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut
orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan
sembarang pakaian biasa.
Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
(BI) Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
(MS) Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang
meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka
digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
(BI) Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
(MS) Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh
karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini
Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan
beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama
Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
(BI) Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
(MS) Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan,
perbaikilah kehidupan beragamamu.
Ya suraka, surak hiya
(BI) Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA
(MS) Di saatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti,
sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan
(Kiriman Suli Boentaran, San Fransisco)
(BI) Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
(MS) Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun
dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang
telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah
kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam
dari para wali.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
BI) Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
( MS) Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini
digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang
melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.
Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
(BI) Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
(MS) Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan
belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima
rukun Islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan
oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan
menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima
rukun Islam dan sholat lima waktu.
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
(MS) Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya
digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah
belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan
sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap
awet. Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam
untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima
waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu
diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut
orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan
sembarang pakaian biasa.
Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
(BI) Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
(MS) Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang
meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka
digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
(BI) Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
(MS) Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh
karena itu disebut 'paseban' yaitu tempat menghadap raja. Di sini
Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan
beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama
Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
(BI) Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
(MS) Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan,
perbaikilah kehidupan beragamamu.
Ya suraka, surak hiya
(BI) Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA
(MS) Di saatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti,
sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan
(Kiriman Suli Boentaran, San Fransisco)
Minggu, 15 Mei 2011
FATWA PUJANGGA
Ketika aku meminta kepada Allah SWT setangkai bunga segar
DIA memberiku kaktus yang berduri
Ketika aku meminta pada Allah binatang kecil yang cantik
DIA memberiku ulat berbulu
Aku memprotes karena kecewa
Tak lama kemudian Kaktus itu pun berbunga dan bunganya pun teramat indah, Ulat itu pun berubah menjadi seekor kupu-kupu yang amat cantik
Akhirnya ku sadari, bahwa pada waktunya DIA akan memberikan sesuatu yang lebih daripada yang kita minta
DIA tidak memberi apa yang kita minta, tapi Dia memberi apa yang kita butuhkan
Kadang-kadang kita sedih dan kecewa, namun jauh di atas segalanya.... DIA sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita
DIA YANG MAHA BESAR........
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia NYA.
DIA memberiku kaktus yang berduri
Ketika aku meminta pada Allah binatang kecil yang cantik
DIA memberiku ulat berbulu
Aku memprotes karena kecewa
Tak lama kemudian Kaktus itu pun berbunga dan bunganya pun teramat indah, Ulat itu pun berubah menjadi seekor kupu-kupu yang amat cantik
Akhirnya ku sadari, bahwa pada waktunya DIA akan memberikan sesuatu yang lebih daripada yang kita minta
DIA tidak memberi apa yang kita minta, tapi Dia memberi apa yang kita butuhkan
Kadang-kadang kita sedih dan kecewa, namun jauh di atas segalanya.... DIA sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita
DIA YANG MAHA BESAR........
Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia NYA.
Langganan:
Postingan (Atom)