Tampilkan postingan dengan label ceritera sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritera sekolah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Juli 2010

BELAJAR SEJARAH: HARUS BAGAIMANA?

Siapa yang tak pernah belajar sejarah? Nampaknya semua pasti pernah mengikuti pelajaran sejarah, apalagi bagi yang pernah mengenyam bangku sekolah. Ada pula orang yang belajar sendiri (otodidak)karena memang menyukai. Tapi yang ingin saya ulas adalah pelajaran sejarah di sekolah formal, seperti di SD dan sekolah menengah seperti SLTP dan SLTA.

Sejarah itu penting,semua orang pasti setuju. Bahkan mendiang presiden RI pertama, Bung Karno, memberi judul salah satu pidatonya:"Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah" atau lebih dikenal dengan "Jas Merah". Ada juga tokoh yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Kalau memang penting, mengapa pelajaran sejarah tidak menjadi pelajaran yang disukai dan tidak menarik, bahkan kalau tidak tertidur murid lebih suka meninggalkan kelas alias bolos saat jam pelajaran sejarah?

Pelajaran sejarah seringkali terasa kering, karena fokusnya adalah menghafal nama, peristiwa dan tahun kejadiannya. Satu-satunya fakta sejarah yang masih saya ingat adalah Perang Diponegoro yang terjadi dari tahun 1825 sampai 1830. Selain tahun, tdak ada lagi yang saya ingat. Padahal sejarah perlawanan pahlawan kita ini yang berlangsung sampai lima tahun, tentunya memiliki berbagai dimensi yang kaya dan menarik seandainya diungkap dan dibahas di kelas.

Mengapa pelajaran sejarah seringkali (kebo) kering dan 'boring'? Berikut beberapa permasalahannya: Pertama, menurut sejarawan Taufik Abdullah pelajaran sejarah terlalu chronicle, artinya murid disuruh menghapal peristiwa. Kedua, sejarah yang diajarkan nampak seperti ceritera yang berdiri sendiri seakan tidak terkait dengan peristiwa lainnya (Antariksa, penggagas proyek sejarah komunitas di Jogyakarta). Ketiga, menurut Hamid Hasan, guru besar di UPI Bandung, pendidikan sejarah di sekolah nyaris tanpa nilai. Misalnya tidak ada ceritera mengapa Soekarno yang insinyur lulusan sekolah teknik tinggi tidak mencari saja pekerjaan dengan gaji tinggi dan hidup nyaman, tetapi lebih memilih masuk ke dalam organisasi pergerakan serta mengalami beberapa kali ditangkap dan diasingkan. Ini tidak dijelaskan, tidak diungkap bahkan tidak dibahas di ruang kelas.

Menurut hemat saya ada beberapa hal yang perlu dibenahi antara lain, (1). materi pelajaran sendiri perlu disempurnakan dan diperkaya, (2). pengajar juga harus memiliki pengetahuan yang cukup serta mampu membangun interes anak didik, (3). anak didik perlu dibiasakan untuk comprehension yaitu membaca, memahami dan menceriterakan kembali dengan versinya. (4). Last but not least, mengunjungi musium dan atau lokasi terjadinya peristiwa akan lebih meningkatkan apresiasi murid terhadap sejarah yang pada hakekatnya merupakan keterpautan dimensi waktu dulu, sekarang dan yang akan datang.(Boen)

Sumber:
1. Pengalaman bersekolah
2. Sejarah, Guru Kehidupan. Harian Kompas, Jumat 9 Juli 2010, hal 33.

Jumat, 09 Juli 2010

ANAK EMAS

Saya yakin semua paham maksudnya apa itu anak emas, yaitu anak yang paling disayang dan diperhatikan sama guru. Saking disayangnya seringkali menimbulkan kecemburuan dan kejengkelan murid-murid lainnya. Malah kadang-kadang sering menjadi bulan-bulanan anak lain, apalagi kalau anak emas diperlakukan sangat istimewa. Ketika sekolah dulu sayapun tidak terlalu menyukai ide anak emas tersebut, karena pada pikiran saya seharusnya guru memperlakukan murid-muridnya sama dan tidak pilih kasih. Sayapun berpikir, kenapa sih guru koq diskriminatif? Bukankan semua murid harus jadi tanggung jawabnya? Semua harus mendapat perhatian yang sama.

Ada ceritera seorang guru ideal, beliau sudah almarhum ketika itu mengajar dan menjadi kepala sekolah di Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) di Komplek Kebon Sereh, Gunung Batu Bogor. Beliau adalah pak Djioen. Yang istimewa dari beliau adalah mengenal semua murid-muridnya dengan baik, kenal nama, kenal angkatannya dan kenal perilakunya. Konon, menurut teman-teman lulusan SKMA, kalau beliau ke daerah ketemu mantan murid-muridnya beliau akan menyapa mantan murid-muridnya dengan memanggil namanya dan angkatannya. Guru pada umumnya hanya mengenal dan memiliki ingata yang kuat terhadap dua kategori mrid, yaitu murid yang pintar dan mrid yang nakal. Murid yang tidak masuk dalam kedua kalompok itu umumnya tidak diingat, karena tidak terlalu istimewa untuk ditaruh difile otak kecil yang kapasitasnya relatif terbatas juga.

Nah, ternyata pandangan saya berubah ketika pada saat mahasiswa sayapun ikut mengajar di SMA Leuwiliang dan Madrasah Aliyah Darut Tafsir, Cinangneng Bogor(kalau tidak salah ingat) atau menjadi asisten dosen di Instutut Pertanian Bogor (IPB). Juga ketika setelah lulus S3, ikut mengajar di IPB, Universitas Nusa Bangsa (UNB) selain menjadi dosen pembimbing S1, S2 dan S3. Ingat betul ketika mengajar dan menguji, ada rasa bangga dan bahagia ketika murid bisa menguasai apa yang diberikan dan juga timbul rasa kesal, kadang-kadang-kadang jengkel kalau ada murid yang sama sekali tidak memahami konten pelajaran. Jangan-jangan gurunya yang bodoh karena kagak bisa atau gak menguasai cara mengajar. Maklum karena tidak mengikuti pendidikan khusus mengenai teknik mengajar.

Yang jelas pengalaman mengajar tersebut telah membuka mata dan membuka hati dan kemudian memahami kenapa seorang guru kemudian menganak emaskan muridnya. Karena ia bisa dijadikan ukuran keberhasilan, ketika seorang guru bersyukur bahwa ada juga anak yang bisa saya buat pandai. Kalau semua murid pandai dan baik, selalu saja ada yang paling menonjol. Oleh karena itu anak emas menjadi fenomena yang wajar saja sepanjang ukurannya adalah kepandaian mengunyah substansi pelajaran. Salam (Boen)